Bagaimana kiranya kalau seorang wanita yang masih sakit hati datang ke acara pernikahan mantannya? Begitulah premis film Pai Kau yang dibalut dengan tekstur budaya Chinese – Indonesia.

Lucy (Irina Chiu) adalah putri dari seorang pengusaha sekaligus mafia bernama Koh Liem (Thie Jan Tan) yang ditakuti. Di hari pernikahannya dengan Edy (Anthony Xie) datanglah seorang wanita tak diundang yang bernama Siska (Ineke Valentina). Siska merencanakan untuk menghancurkan pernikahan mereka.

1 2

Pai Kau disutradarai oleh Sidi Saleh yang lebih dikenal sebagai sinematografer dari berbagai film seperti D’Bijis (2007), Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Postcards from the Zoo (2012) dan dikenal juga sebagai sutradara film-film pendek yang telah malang melintang di berbagai festival internasional seperti Fitri (2013), Maryam (2014). Sidi Saleh memperlihatkan kentalnya budaya Chinese – Indonesia dalam permainan Pai Kau, permainan domino dengan 32 kartu, di mana pemainnya harus mencari angka 9 supaya memenangkan permainan dan juga budaya Tea Pai dalam pernikahan untuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Hubungan permainan Pai Kau dengan cerita filmnya adalah apa yang diperbuat para tokoh-tokoh dalam film Pai Kau menimbulkan efek domino seperti halnya permainan tersebut.

3 4

Terdapat style layaknya film aksi dari Hong Kong yang kental dibalut dengan kebudayaan lokal dengan setelan jas, pembunuh berdarah dingin dan pistol. Mood yang dibangun juga ada sedikit pengaruh dari film-film Wong Kai War. Hal ini membuat penonton bernostalgia dengan berbagai film-film Hong Kong zaman dahulu.

Fokus cerita ada di cinta segitiga antara Edy, Lucy dan Siska. Sayangnya, para pemain utamanya kurang dapat memberikan peforma maksimal. Akting terbaik diberikan kepada Thie Jan Tan sosok mafia dan anak buahnya yang berdarah dingin Verdi Solaiman.

5 6

Jalinan cerita cukup menarik di awal hingga pertengahan, saat acara pernikahan yang berlangsung di suatu gedung, cerita cenderung kedodoran dan artifisial. Beberapa bagian bisa dipotong karena tidak perlu dan kurang koheren.

Endingnya terburu-buru dan kurang dapat memberikan momen dramatis dan kejutan yang berarti. Bisa jadi karena kurangnya eksplorasi terhadap masa lalu Edy dan Siska dan penonton jadi kurang terikat karenanya.

Final Verdict:

Mampu dapat membangun mood film-film Hong Kong zaman dahulu dan rasa suspense di paruh kedua durasi film. Sayangnya cukup banyak adegan yang terasa artifisial dengan pendalaman karakter yang kurang mendalam dan memang bukan untuk film keluarga, mengingat ada beberapa adegan sensual dan kekerasan.

Review Pai Kau - Film Drama Suspense ala Hong Kong untuk Menjelang Imlek
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0