Terdapat 3 sajen di sekolah elit SMA Pelita Bangsa. 3 sajen tersebut merupakan upaya sekolah menenangkan arwah siswa/siswi yang bunuh diri karena menjadi korban bullying. Alanda (Amanda Manopo) berusaha untuk memutus rantai bullying / perundungan di sekolah dengan cara merekam perbuatan bullying yang dilakukan oleh Bianca (Steffi Zamora), Davi (Jeff Smith) dan geng mereka terhadap siswa/siswi lainnya. Perbuatan Alanda ini diketahui dan handycam dari Alanda direbut oleh salah satu anggota geng populer itu. Alanda disuruh untuk datang ke pesta geng tersebut untuk mengambil handycam peninggalan ayahnya itu, ternyata Alanda dijebak dengan dipaksa minum minuman beralkohol dan Alanda juga diperkosa. Tidak hanya itu, perbuatan Alanda ini direkam oleh geng tersebut dan menyebarkannya melalui internet.

Pihak sekolah yang malu dengan kelakuan Alanda akhirnya menghukum Alanda dengan tidak melanjutkan beasiswanya. Sejak itu Alanda stress dan akhirnya bunuh diri. Arwah Alanda pun gentayangan di sekolah SMA Pelita Bangsa dan meneror para pelaku bullying dan juga para guru yang ingin menutupi kasus kematiannya.

Sajen disutradarai oleh Hanny R Saputra (Virgin, Heart, Love Is Cinta, Mirror) dan ditulis naskahnya oleh Haqi Ahmad (Ada Cinta di SMA, Meet Me After Sunset). Mereka berdua tidak mampu membuat Sajen menjadi sajian horor yang memuaskan, malah cenderung menjadi sebuah komedi karena cukup banyak adegan konyol nan menggelikan. Lihat saja bagaimana suatu adegan saat Ibu Tanya, sang kepala sekolah (Minati Atmanegara) melempar tempat pensil ke televisi, karena arwah gentayangan Alanda, muncul dari televisi itu seperti halnya Sadako di film Ring (1998(. Adegan ini terasa dibuat-buat dan sangat buruk dalam eksekusinya, sehingga menimbulkan gelak tawa penonton di bioskop. Belum lagi puncaknya saat adegan prom night di akhir film yang terinspirasi dari adegan akhir di film Carrie (1976), bayangkan akting dari tiap siswa dan siswinya sangat datar, tidak ada tampak ketakutan dari pihak mereka layaknya di film Carrie, saat arwah penasaran Alanda meneror salah satu dari pelaku bullying. Kemudian setelah itu ada satu adegan yang luar biasa kocak karena masalah editing yang amburadul, saat salah satu tokoh utama lari keluar dari acara prom night tersebut dan di luar dia dikagetkan oleh arwah penasaran Alanda dan akhirnya tertabrak mobil, adegan-adegan itu hanya berlangsung dalam beberapa detik saja dan sangat kasar sekali perpindahan adegannya. Masalah editing ini tidak hanya sekali, tetapi berulang kali, seperti saat ibu dari Alanda pulang dan mendapati arwah penasaran Alanda ada di halaman rumah, tiba-tiba adegan langsung berpindah saat ibu dari Alanda sudah berada di dalam kamar. Entah memang post produksi yang buruk atau stok filmnya memang sedikit, namun editingnya sungguh luar biasa parah, salah satu yang terburuk dari film-film horor Indonesia.

Seperti kebanyakan masalah pada film horor Indonesia lainnya adalah terlalu banyak mengumbar penampakan-penampakan dan musik yang terlalu berisik, itulah yang terjadi di paruh kedua film Sajen, diperparah lagi timing jump scare yang sungguh tidak pas dan sosok arwah penasaran Alanda yang tidak menyeramkan. Pada paruh pertama, nuansa horornya cukup lumayan, walau kebanyakan hanya membuat penonton kaget saja. Apalagi ada drama dan pesan tentang bullying yang cukup menarik dengan akting dari Amanda Manopo yang cukup menghayati. Bagaimana pihak sekolah malah menutup-nutupi kejadian ini supaya nama sekolah tidak hancur dan juga bullying yang mengakibatkan seseorang dapat bunuh diri, malah setelah bunuh diri pun pelaku bullying menganggap bunuh diri yang dilakukan korban sangat berlebihan. Tentu hal-hal ini sesuai dengan realita yang ada. Namun sayangnya terasa masih kurang matang penggarapannya untuk bisa dibandingkan dengan film-film bullying lainnya seperti Bully (2001), Mean Girls (2004) atau serial tv drama 13 Reason Why (2017).

Penokohannya sangat minim untuk dieksplorasi lebih lanjut, ketiga arwah penasaran sebelum Alanda tidak pernah digali lebih lanjut mengapa dia ada di ruangan komputer, perpustakaan dan juga di toilet. Tadinya saya mengira sosok pustakawan bernama Ratu (Rachel Amanda) bisa mengeksplorasi lebih lanjut kan hal ini, karena dia sedang melakukan penelitian tentang bullying di sekolah itu, namun hasilnya nihil dan tidak pernah dipublikasikan. Lucunya pustakawan ini, tidak pernah kelihatan sebagai pustakawan, malah adegan saat berada di toilet maupun adegan saat dia memberikan tissue kepada ibu Alanda, lebih banyak porsinya. Ada satu tokoh lainnya yaitu seorang cleaning service di sekolah unggulan nan bergengsi ini, tapi lebih terlihat seperti dukun karena pakaiannya dan perawakannya. Tokoh ini kurang jelas mau di bawa kemana, ujung-ujungnya mungkin supaya menambah nuansa misterius atau menakutkan saja. Pun begitu dalam logika saat sekolah yang fasilitas begitu keren dan mewah ini, malah memperkerjakan sosok cleaning service yang seperti itu. Begitu pula dengan karakter pelaku bullying, tidak pernah dieksplorasi lebih lanjut. Ada satu karakter yang sebenarnya menaruh simpati kepada Alanda, tapi tidak pernah dijelaskan mengapa dia menaruh simpati kepadanya.

Final Verdict:

Penyutradaraan buruk, naskah kurang matang, editing amburadul dan cukup banyak adegan konyol nan menggelikan. Sajen lebih banyak menghadirkan tawa daripada keseraman. Sayang sekali, padahal tema bullying-nya cukup menarik.

Review Sajen - Lebih Banyak Menimbulkan Tawa daripada Keseraman
4Overall Score
Reader Rating 6 Votes
3.4