Amara (Laura Theux) merupakan sosok gadis remaja sangat dekat dengan papanya. Suatu ketika, ayahnya diceritakan mendadak meninggal dunia dan membuat Amara sangat terpukul karena kejadian itu. Guna mengatasi kesedihan yang merundung Amara, ibu dari Amara dan adik Amara yang bernama Kasih, maka Opa dari Amara dan Kasih (Rebecca Klopper) mengajak mereka untuk tinggal di rumah Opa yang berada di desa.

Ada hal janggal terjadi dalam desa tersebut karena semua penduduknya orang tua dan setiap malam, para penduduk keluar rumah membawa sajen sambil mengucapkan mantra. Desa tersebut terdapat sumur keramat yang dihuni oleh setan bernama Beremanyam yang kabarnya bisa mengabulkan segala permintaan. Amara tertarik untuk melakukan ritual tersebut dengan permintaan untuk mengobrol dengan almarhum papa untuk terakhir kalinya. Ternyata Beremanyam bukan mengabulkan permintaan, tapi malah mencelakai orang-orang yang dicintainya.

Melihat rekam jejak dari Sammaria Simanjuntak yang pernah menyutradarai film Cin(T)a (2009), Demi Ucok (2012) dan juga memproduseri Selamat Pagi, Malam (2014) tentu harapan besar muncul bagi penikmat film horor Indonesia yang masih saja kekurangan akan film-film horor yang berkualitas, walau genre ini tentu bukan ranah yang biasa dia geluti. Tapi harapan hanya tinggal harapan, kualitasnya hanya bagus di 15-20 menit awal dengan penyutradaraan dan naskah yang cukup berkualitas,  sehingga menghadirkan suasana drama yang kuat dan keseraman yang cukup lumayan dengan satu jump scare yang bisa jadi membuat penonton terkejut, saking mendadak dan memenuhi layar bioskop itu.

Setelah awal yang baik, penurunan kualitas film ini menurun drastis. Sammaria Simanjuntak seperti tersesat membawa film ini kemana, dramanya tanggung, horornya tidak menakutkan, komedinya juga tanggung. Drama antara hubungan ayah dan anak, ibu dan anak, kakak dan adik, pertemanan, love interest tidak pernah diperdalam lebih lanjut sehingga menjadi hambar. Hubungan ayah dan anak yang telah dijalin dengan baik di awal, tidak pernah diceritakan lagi sampai akhir. Padahal pada penyelesaian akhirnya, sebetulnya ada harapan untuk memperdalam hal ini. Hubungan ibu dan anak yang renggang tidak pernah diceritakan lebih lanjut mengapa hal ini terjadi. Kemudian hubungan kakak dan adiknya pun terasa datar.

Segala macam jenis horor dari mulai jump scare, efek suara horor, kesadisan hingga momen yang berdarah-darah terasa sungguh standar dan tidak menakutkan, kecuali jump scare di awal seperti yang pernah ditulis di paragraf atas. Kemudian pace film ini terlalu lambat, mungkin maksud dari sutradaranya adalah untuk membangun atmosfer yang mumpuni supaya tercapai suatu klimaks jump scare atau suatu momen horor yang pas dan tepat untuk dimunculkan. Tapi sayangnya tidak pernah ada suatu momen itu, contohnya ketika suatu adegan statis yang berlangsung cukup lama yang terjadi pada suatu kursi, penonton berharap lebih, tapi ternyata hanya begitu saja yang terjadi pada kursi itu. Karena pada dasarnya, jika terlalu sebentar-sebentar memunculkan maka akan membosankan, namun jika menunggu terlalu lama tentu saja ekspektasi penonton akan tinggi terhadap hasil akhir dari adegan horor tersebut.

Umumnya dalam film horor tentu ada unsur misteri atau kisah urban legend yang melatarbelakangi kemunculan setan/hantu jahat. Pada film Sesat ada suatu misteri tentang setan Beremanyam yang bisa didapati petunjuk-petunjuknya dari sebuah lukisan, sumur tua, cerita penduduk desa hingga ruangan tersembunyi dari opa Amara dan Kasih. sayangnya misterinya mentah dan dangkal. Paling disayangkan lagi adalah lukisan yang tampilannya kadang berubah-ubah itu, sebenarnya bisa lebih dimanfaatkan lebih lanjut. Cerita urban legend yang diceritakan oleh salah satu penduduknya yaitu ibu-ibu tua yang menggendong boneka anak kecil, tidak terlalu jelas. Hal ini karena suara dari ibu-ibu tua itu tidak terdengar dengan jelas, seperti harus menggunakan subtitle supaya bisa lebih mengerti.

Segi akting, hanya Laura Theux saja yang berperan sebagai Amara yang cukup baik. Laura Theux cukup berhasil sebagai seorang yang meratapi kehilangan papanya dan berbagai adegan ketakutannya.

Segi sinematografi maupun produksinya sangat standar. Sinematografinya terlalu memberikan palet warna kuning yang kurang perlu dan menggangu mata. Produksinya terkadang biasa dan terkadang pula berlebihan. Ada suatu adegan toilet di sekolah yang kualitas dinding dan lantainya sangat kotor, seakan-akan bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan atau siswa-siswinya seperti masuk ke dalam dunia lain.

Penyelesaian akhir yang sebenarnya memberikan kesempatan yang baik untuk memperbaiki hubungan dari tokoh utamanya dengan keluarganya, tetapi malah diselesaikan dengan singkat dan terkesan tidak jelas. Diperparah lagi ada suatu twist di akhir yang cukup menggelikan dan konyol.

Final Verdict:

15-20 menit awal film yang cukup lumayan, setelah itu kualitasnya langsung terjun bebas dan tersesat hingga kemana-mana. Diperburuk lagi oleh penyelesaian akhir film yang menggelikan.

Review Sesat (2018) - Film yang Membuat Penontonnya Tersesat
4Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0