Doel merupakan sosok karakter legendaris asli Betawi dari sebuah novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Majoindo dan film berjudul sama yang disutradarai Sjumandjaja pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1994, ditayangkan sinetronnya yang berjudul Si Doel Anak Sekolahan oleh RCTI dan merupakan sinetron tersukses dizamannya itu sehingga tayang sampai dengan 162 episode.

Kisah Doel yang membumi dan dekat dengan kehidupan masyarakat dan berbagai karakter lainnya yang sungguh menarik itu merupakan sebuah kunci kesuksesan Doel sehingga tidak heran disaat booming-nya film-film Indonesia berdasarkan karakter penghibur yang legendaris difilmkan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017) hingga Benyamin Biang Kerok (2018), karakter Doel diangkat ke layar lebar dengan judul Si Doel The Movie. Si Doel The Movie mengangkat kisah Doel mengejar Sarah yang dahulu pernah menjadi istrinya ke negeri Kincir Angin Belanda dan telah tayang sejak 2 Agustus 2018.

Doel (Rano Karno) menyimpan kerinduan begitu besar terhadap Sarah (Cornelia Agatha) yang telah hilang 14 tahun lamanya. Begitu juga dengan Sarah terhadap Doel. Oleh karena itu Sarah meminta sepupunya yaitu Hans (Adam Jagwani) yang juga merupakan teman dari Doel mengundang Doel ke Amsterdam, Belanda dengan alasan supaya membawa berbagai barang khas Betawi untuk Tong Tong Fair. Tong Tong Fair merupakan festival yang nyata (bukan rekaan di film) dan terbesar di dunia untuk budaya Indo (Eropa-Indonesia).

Konflik utama masih dalam cinta segitiga Doel, Sarah dan Zaenab. Dalam sinetronnya Sarah digambarkan merupakan sosok modern yang berkuliah di luar negeri. Zaenab adalah sosok wanita asli Betawi yang sudah sejak kecil dijodohkan dengan Doel. Sosokny sederhana, pendiam dan sulit untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Doel. Doel sebenarnya lebih mencintai Sarah, namun Doel kasihan dan terpikat terhadap ketulusan Zaenab. Hal ini yang melatarbelakangi Sarah yang marah kepada Doel saat Doel membantu Zaenab yang keguguran sehingga Sarah pergi ke Belanda. Zaenab khawatir terhadap Doel kembali berpaling darinya dan menemui Sarah di Belanda. Doel juga bimbang saat bertemu Sarah apalagi Doel telah memiliki anak.

Maudy Koesnaedi masih dengan paras ayunya, memberikan penampilan yang baik sebagai sosok seorang yang ketakutan dan khawatir akan kehilangan Doel untuk selama-lamanya dan tidak kembali ke Jakarta. Rano Karno yang berperan juga sebagai sutradara masih memperlihatkan sosok Doel yang pendiam dan memperlihatkan emosinya, namun dari ekspresinya tentu terlihat jelas saat dia bertemu pertama kali dengan anaknya dan tentu saat adegan di akhir film bersama Sarah yang sebenarnya cukup mengharukan itu. Cornelia Agatha baru memperlihatkan akting yang cukup menawan saat adegan terakhir, selain itu tampak kedodoran dibandingkan dengan yang lain.

Terdapat permasalahan dari segi durasi film ini yang hanya 85 menit, seakan-akan menggabungkan 2 episode sinetron menjadi dalam 1 film. Padahal masih banyak yang mesti dieksplorasi lebih lanjut seperti hubungan Doel dengan anaknya yang bernama sama dengannya. Tidak tampak dialog-dialog atau adegan-adegan yang dapat membuat hubungannya menjadi lebih dekat, tiba-tiba saja berujung pada penyelesaian khas hubungan ayah dan anak. Konflik baru terasa juga pada penghujung akhir film, sehingga tidak terasa klimaksnya baru terasa konflik tapi tiba-tiba saja film sudah berakhir. Pada akhir film mengisyaratkan akan adanya sekuel jika saja film ini laris manis dan untungnya film ini sungguh sukses di box office Indonesia dengan 1 juta orang penonton hanya dalam waktu sepekan saja.

Nuansa nostalgia tentu akan melekat pada film yang telah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya sejak puluhan tahun. Hal ini terjadi juga pada Si Doel The Movie. Rumah khas Betawi masih lengkap dengan berbagai pernak-pernik khas Betawi masih berdiri dengan kokoh. Oplet biru legendaris milik babeh Doel terparkir dengan gagah di halaman rumahnya. Kemudian berbagai karakter seperti Atun (Suti Karno) yang masih bertubuh gempal dan menimbulkan kelucuan, karakter ko Ahong (Salman Alfarizi) yang menaruh hati pada Zaenab dan tentu puncaknya adalah sosok dari Mak Nyak (Aminah Cendrakasih), karakternya sudah tua dan renta, tapi masih menyimpan kebijaksanaan. Lebih hebat lagi adalah aktris Aminah Cendrakasih memang sedang sakit glukoma dan terbaring lelah di kasur, matanya pun sudah tidak bisa melihat. Begitu besarnya totalitas akting dari Aminah Cendrakasih. Terdapat karakter seperti Karyo suami dari Atun maupunĀ Engkong AliĀ tetapi para aktornya yaitu Basuki dan Pak Tile telah berpulang, keputusan Rano Karno sangat bagus mematikan karakter mereka, karena sayapun tidak menemui aktor yang dapat berperan menggantikan mereka.

Doel turut mengajak Mandra (Mandra) untuk menemani dia ke Amsterdam. Mandra masih seperti dalam sinetronnya, karakternya kerap menimbulkan kelucuan yang sangat hingga membuat seisi bioskop tertawa terbahak-bahak. Berbagai ekspresinya, gaya nyablaknya dan gaya “ndeso”nya diperlihatkan tanpa malu-malu. Mandra membuat film Si Doel The Movie menjadi lebih segar, hidup dan bernyawa. Apa jadinya jika tidak ada karakter Mandra?

Final verdict:

Seperti bukan menyaksikan film yang utuh karena minim konflik, tidak adanya klimaks dan durasi yang terlalu pendek. Apa jadinya film ini kalau tidak ada Mandra? Semoga sekuelnya dapat lebih baik, mengingat kualitas sinetronnya yang sungguh menawan itu.

Review Si Doel The Movie (2018) - Kelanjutan Kisah Cinta Segitiga Doel, Sarah dan Zaenab
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0