Film Spider-Man Paling Lucu dan Menyenangkan yang Pernah Ada
8Overall Score
Reader Rating 15 Votes
6.7

Sebelum Marvel Cinematic Universe dibuat, Spider-Man menjadi andalam utama dari film-film berbasis Marvel dalam mendulang pundi-pundi uang di Box Office. Lihat saja perolehan Box Office dalam negeri untuk film Spider-Man 1-3 (2002 – 2007) yang dibesut oleh Sam Raimi yang mencapai 1 milyar dollar di Box Office Amerika Serikat saja dan dengan total 2.3 milyar dollar di seluruh dunia. Tahun 2012 dibuatlah versi rebootnya yang disutradarai oleh Marc Webb (500 Days of Summer). Walaupun peredaran domestiknya cukup mengecewakan, tetapi lumayan terbantu dengan peredaran internasionalnya yang membuat total kedua film ini mendapatkan 1.4 milyar dollar. Namun pihak Sony (Pihak yang mempunyai lisensi untuk film Marvel’s Spider-Man, tetap merasa penghasilan The Amazing Spider-Man 2 mengecewakan sehingga The Amazing Spider-Man 3 urung dibatalkan. Hingga akhirnya pihak Marvel Disney mencapai kesepakatan dengan pihak Sony untuk menyertakan Spider-Man kedalam Cinematic Universe-nya itu yang sudah ditunggu cukup lama oleh para penggemarnya.

Baca juga: Ini Musuh-Musuh Spider-Man dari Film ke Film

Mengambil waktu saat film Captain America: Civil War sampai dengan beberapa bulan setelahnya. Peter Parker (Tom Holland) adalah seorang bocah berusia 15 tahun yang memiliki kekuatan super layaknya seorang laba-laba yang bisa merayap di dinding, mengeluarkan jaring laba-laba, memiliki sensor tanda bahaya dan berbagai hal lain yang telah kita ketahui sebelumnya pada film-film Spider-Man sebelumnya. Dia direkrut oleh Tony Stark (Robert Downey Jr.) untuk menghadapi Team Captain America. Sesudah berdamai dan maaf-maafan, maka Peter Parker kembali lagi ke Queens untuk menjalani kehidupan di bangku SMA seperti sedia kala. Peter selalu mengharapkan kabar dari Tony Stark dan asistennya Happy Hogan (Jon Favreau) yang menjanjikannya menjadi anggota The Avengers.

1 4

Berbulan-bulan lamanya dia dihiraukan oleh mereka dan Peter hanya diperintahkan untuk mengikuti “the Stark internship” dimana dia masih harus latihan untuk menjadi superhero, sehingga Peter Parker beraksi sendiri dilingkungan memberantas kejahatan sebagai Spider-Man. Suatu ketika dia mendapati jual beli senjata berbahaya yang dikomandoi oleh Adrian Toomes / Vulture (Michael Keaton). Walau sudah dilarang untuk ikut campur dalam urusan berbahaya, jiwa mudanya bergejolak dan ingin mencegah kejahatan itu terjadi.

Membuat sebuah reboot/remake tentu saja sudah beresiko apalagi mereboot sebuah reboot, ditambah ini versi Spider-Man ke 3 dalam 15 tahun terakhir, tentu saja pasti akan dibandingkan dengan versi-versi sebelumnya. Jika Spider-Man Sam Raimi cenderung dramatis dan melankolis, Spider-Man Marc Webb lebih stylish dan cenderung lebih cool. Bagusnya, versi Spider-Man kali ini lebih fun dan lucu dibandingkan dengan film Spider-Man lainnya sehingga ketiganya memiliki perbedaan dan juga pendekatan yang berbeda. Sulit untuk memutuskan mana yang terbaik diantara Spider-Man versi siapa, karena kesemuanya bagus, dari ketujuh film baru Spider-Man 3-nya Sam Raimi saja yang kualitasnya mengecewakan.

2 3

Tom Holland memang seperti layaknya anak SMA yang berakting sebagai Spider-Man didalam film ini. Dari ketiga pemeran Spider-Man, tentu dia yang sangat berhasil memerankan seorang bocah SMA yang payah dalam percintaan/pergaulan, lugu, culun, kutu buku sekaligus bersemangat dan memiliki kebaikan/ketulusan hati. Dia tidak tau harus berkata atau berbuat apa ke Liz (Laura Harrier). Dia berteman hanya dengan Ned (Jacob Batalon) seorang nerd/geek seperti dia yang bersama-sama ingin membangun Death Star dari Lego. Mereka berdua adalah outsiders di SMA-nya yang seringkali diejek oleh DJ Flash, teman sekelasnya (Tony Revolori). Kepala sekolah menggangap Peter adalah murid yang aneh dan bermasalah, walau terpintar diantara teman-temannya. Inilah formula generik yang sebenarnya sangat lazim digunakan pada film-film remaja, bedanya sang sutradara Jon Watts memberikan sentuhan khas film-film remaja di era tahun 80-90 an, khususnya dari film-film John Hughes. Penonton dapat melihat banyaknya referensi dari film Ferris Bueller’s Day Off saat dimana Peter Parker berlari ke rumahnya setelah memberantas kejahatan supaya tidak ketauan oleh bibinya. Michelle (Zendaya), Teman Peter yang satu grup cerdas cermat dengannya mengingatkan dengan karakter Allison Reynolds pada film The Breakfast Club. Tentu masih banyak referensi maupun homage yang penonton bisa tangkap jika pernah menonton film-film dari John Hughes. Hal-hal inilah yang membuat Spider-Man Homecoming tergolong sangat berhasil dalam menjadi sebuah film remaja. Tahun ini sudah ada Logan dan Wonder Woman yang memiliki pendekatan berbeda. Logan layaknya film western. Wonder Woman layaknya film perang yang dibalut percintaan.

5 6

Sebenarnya secara ukuran film superhero, tidak ada suatu yang spesial walau tetap bagus. Adegan aksinya hanya satu saja yang memukau saat adegan penyelamatan pada monumen Washington yang mendebarkan. Twist-twist-nya sudah sering kita lihat pada film superhero manapun bahkan telah sering kita lihat pula di film Spider-Man lainnya. Sisi dramatisasinya sendiri kurang mengena layaknya Spider-Man 2 saat Peter Parker harus merelakan MJ direbut oleh Harry Osborn atau saat ending terakhir dari The Amazing Spider-Man 2 dimana melibatkan aktris berbakat Emma Stone. Bedanya adalah baju dari Spider-Man yang canggih karena dibuat oleh Tony Stark sehingga memiliki sebuah AI layaknya Siri di Apple yang membantu Peter dalam memberantas kejahatan yang seringkali menimbulkan kelucuan atau suasana yang memikat penonton berkat suara dari Jennifer Connelly dan chemistry-nya dengan Tom Holland. Perbedaan lainnya adalah semangat estatik Peter Parker saat bersama The Avengers seperti layaknya seorang remaja yang pertama kali mendapatkan mainan PS atau Xbox. Diperlihatkan dengan membuat video diary layaknya Instagram Stories atau Instagram Live yang populer sekarang dikalangan remaja. Tom Holland memberikan sebuah energi, gairah dan jiwa saat memerankan Spider-Man sehingga menutup mulut kritikusnya berkat penampilannya yang menawan ini. Jangan lupakan juga pesona dari Michael Keaton kali ini sebagai peran superhero ketiganya setelah Batman dan Birdman, Marissa Tomei yang seksi dan sangat luar biasa berbeda dengan bibi Peter Parker-nya Tobey McGuire dan terakhir Jacob Batalon sebagai Ned temannya Peter yang sungguh kocak nan lugu.

Final Verdict:

Sangat bagus jika dilihat sebagai film remaja berkat referensi film-film John Hughes-nya. Bagus tapi tidak spesial jika dilihat sebagai film superhero. Tom Holland memberikan sebuah energi, semangat, hati dan jiwa sehingga akan menutup mulut para kritikusnya selama ini. Inilah film Spider-Man paling lucu sekaligus menyenangkan yang pernah ada.

Note: Jangan lewatkan adegan kedua setelah credit film selesai. Sangat mengejutkan dan layak untuk ditunggu. Jelas menjadi salah satu after credit scene terbaik Marvel selama ini!

Spider-Man: 8/10
Spider-Man 2: 9/10
Spider-Man 3: 5/10
The Amazing Spider-Man: 8/10
The Amazing Spider-Man 2: 9/10
Spider-Man Homecoming: 8/10