Saat ini sudah jarang kita temui film horror thriller produksi Hollywood layaknya pada periode 90-an. Berbeda dengan periode 80 s/d 90-an bahkan hingga medio 2000-an dimana film thriller seperti Friday the 13th, Halloween, Scream dan I Know What You did Last Summer sempat menguasai jagat horror Hollywood,  beberapa tahun belakangan ini justru tampaknya Hollywood sengaja “menyimpan” genre film ini dan lebih memilih untuk menaikkkan genre horror supranatural. Kesuksesan franchise film The Conjuring, Insidious, Paranormal Activity bahkan yang terbaru yaitu remake film IT, yang notabene merupakan film bergenre horror supranatural, saat ini keberadaannya sangat diterima oleh penonton. Praktis saat ini sudah jarang kita temui kembali film thriller seperti disebutkan diatas, seiring dengan terus meroketnya pamor horror supranatural. Namun di tahun ini, kita disajikan kembali sebuah film thriller yang membangkitkan kembali atmosfir film thriller klasik khas 80 dan 90-an. The Strangers: Prey at Night merupakan judul film tersebut yang merupakan sekuel dari film The Strangers yang dirilis sedekade lalu.

Sinopsis

The Strangers:Prey at Night bercerita tentang Cindy (Christina Hendricks) dan suaminya, Mike (Martin Henderson) beserta anak laki-lakinya, Luke (Lewis Pullman) dalam perjalanannya mengantarkan Kinsey (Bailee Madison), anak perempuan mereka yang beranjak remaja dan memiliki sifat pemberontak untuk belajar di sekolah berasrama. Namun sebelum mengantarkan Kinsey ke sekolah tersebut, terlebih dahulu keluarga tersebut ingin menghabiskan liburan akhir pekan di sebuah trailer park yang dikelola paman mereka.

the strangers pray at night 1 the strangers pray at night 2

Namun bukanlah kegembiraan yang menaungi acara liburan akhir pekan mereka, justru hal-hal aneh mulai bermunculan satu per satu di taman tersebut. Dimulai dari sepinya trailer park tersebut, ketukan keras di pintu trailer mereka pada tengah malam sampai dengan hadirnya seorang gadis remaja yang selalu menanyakan keberadaan Tamara, semakin membuat suasana malam itu menjadi mencekam. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa ternyata mereka tidak sendirian di taman tersebut. Menyadari bahwa mereka diteror oleh sesuatu yang mengerikan, sekelompok orang bersenjata tajam dan bertopeng. Sadar bahwa tak bisa mengandalkan bantuan dari siapapun, bertahan hidup dengan menghindar dari orang-orang bertopeng tersebut menjadi satu-satunya tujuan mereka kemudian.

Jalan Cerita dan Sinematografi

Pada dasarnya, jalan cerita yang ditampilkan oleh film ini tergolong sederhana khas film-film thriller pada umumnya. Bagaimana sekelompok karakter protagonis diteror oleh para psikopat yang alasan mereka membunuh pun tidak diketahui secara jelas, yang kemudian bermain “kucing-kucingan” untuk menghindari kejaran sang psikopat berdarah dingin. Elemen yang digunakan pun masih seperti pada film pertama, dimana ketukan keras di pintu dan pertanyaan tentang Tamara menandai awal kehadiran sang penjahat utama.

the strangers pray at night 3 the strangers pray at night 4

Bisa dikatakan tidak ada sesuatu yang spesial mengenai jalan cerita film ini. Bagi para penggemar film horror dan thriller pasti sudah tidak akan asing dengan alur cerita yang disajikan di film ini karena cenderung mudah ditebak. Praktis, kita hanya dibuat penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan si penjahat terhadap si tokoh utama di akhir cerita, begitu juga sebaliknya. Namun begitu, deretan jumpscare yang dihadirkan pada film ini sangatlah baik dan efektif dalam memacu adrenalin penonton.

Namun yang menarik disini adalah sinematografinya. Film ini berhasil menyajikan suasana film thriller khas 80-an. Dengan mayoritas proses pengambilan gambar jarak dekat, juga pengambilan gambar dengan teknik zoom in yang lambat menjadikan suasana mencekam semakin terasa. Film ini juga tidak terlalu banyak menghadirkan adegan pembunuhan brutal yang menjijikkan. Justru sebaliknya, film ini berhasil menampilkan adegan pembunuhan yang menurut saya lebih “berkelas”. Penonton tidak disajikan adegan pembunuhan brutal layaknya film slasher macam Texas Chainsaw Massacre, namun justru disuguhkan adegan pembunuhan yang memberikan efek psikologis bagi penonton.  Mimik wajah sang korban ketika menerima sayatan serta tusukan benda tajam secara perlahan yang kemudian disandingkan dengan gestur tubuh tak bersalah oleh sang psikopat, justru menghadirkan suasana horror dan mencekam yang sangat efektif.

Soundtrack dan Scoring

Dari semua elemen dalam film ini, soundtrack merupakan hal yang paling menarik di film ini. Berbeda dengan soundtrack film pertamanya yang lebih banyak menggunakan lagu country,  sutradara film ini yaitu Johannes Roberts berhasil menciptakan suasana film thriller khas 80-an dengan deretan soundtrack dari dekade yang sama. Lagu-lagu seperti “Kids in America” milik Kim Wilde, “Total Eclipse of the Heart” milik Bonnie Tyler, bahkan “Making Love Out of Nothing at All” milik Air Supply berhasil disandingkan dengan baik pada setiap adegan mencekam sepanjang film. Semakin mencekam karena diputar pada radio didalam mobil bak klasik yang menandakan kehadiran sang psikopat.

Scoring atau musik latar juga digarap sama baiknya dan berhasil menambah kelam dan mencekamnya sebuah adegan pembunuhan, juga menaikkan adrenalin ketika adegan kejar-kejaran berlangsung. Sang sutradara pun berhasil menghadirkan start film yang cukup baik melalui scoring ini. Dimana lagu “Kids in America” dimainkan sejak logo rumah produksi muncul di awal film kemudian secara tiba-tiba muncul black screen dan hening. Tak lama, dari kejauhan lagu yang sama pun samar-samar terdengar kembali yang ternyata berasal dari sebuah mobil bak klasik yang muncul dari kegelapan dan berjalan dengan sangat lambat mendekati kamera. Bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya adegan setelah itu bukan?

Kesimpulan

Secara garis besar, film ini menghadirkan cerita yang menarik bahkan bisa dikatakan lebih bagus dari film pertamanya. Bebeda dari karakter utama pada film pertama yang cenderung “pasrah”, disini kita bisa melihat para tokoh utama lebih memiki semangat dan mampu untuk melawan para pembunuh berdarah dingin tersebut. Ceritanya pun bukanlah cerita sambungan dari film pertama alias stand alone movie. Jadi untuk para penonton baru franchise The Strangers ini tidak perlu khawatir bakal tidak mengerti jalan ceritanya, karena film ini hanya mengambil elemen-elemen yang sama dengan film pertamanya sedangkan jalan ceritanya merupakan jalan cerita baru.

Memang film ini tidak se inovatif film Get Out, namun begitu film ini sejatinya sukses menghadirkan “hiburan” yang memacu adrenalin. Film ini juga berhasil membangkitkan suasana layaknya film thriller klasik khas 80 dan 90-an. So, jika kita tumbuh besar dengan film-film semacam Friday the 13th, Scream dan Halloween, sudah pasti film ini akan mengobati kerinduan kita akan film thriller semacam itu yang saat ini kehadirannya sudah sangat langka.

So, bagi yang ingin menyaksikan, film ini sudah tayang tanggal 16 Maret 2018. Selamat berakhir pekan dan selamat menonton !

Review The Strangers: Pray at Night - Menikmati Sajian Thriller Klasik
6.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0