Lebih Terasa Eksploitatif dan Manipulatif, Walaupun Pesan yang Disampaikan Cukup Mengena
6Overall Score
Reader Rating 3 Votes
4.7

Surat Kecil untuk Tuhan yang sudah dirilis pada libur Lebaran 2017 ini tidak berdasarkan cerita novel Agnes Davonar. Kali ini tema yang diangkat adalah mengenai anak jalanan dan problematika yang dihadapi oleh mereka. Kisah ini mengingatkan akan film Lion dimana tema utamanya yaitu kembali mencari keluarganya yang telah hilang.

Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzari Khansa) adalah seorang kakak beradik yatim piatu. Keduanya terjebak dalam sindikat memanfaatkan anak-anak terlantar untuk dijadikan pengemis jalanan yang dimana uang dari hasil meminta-minta itu harus disetorkan kepada sindikat itu yang diketuai oleh Om Rudi (Luman Sardi). Jika tidak berhasil mencapai target dalam meminta-minta maka hukuman pecutan, disetrika dan ditenggelamkan akan menanti mereka. Suatu ketika saat Angel menyebrang jalan, dia tertabrak oleh sebuah mobil dan tak sadarkan diri. Om Rudi tidak mau menanggung biaya tersebut, untungnya ada seorang pasangan suami istri yang mau menanggung biayanya dan mengangkat Angel sebagai anak mereka. Angel pun berpisah dengan kakaknya karena kejadian ini.

Mengambil tempat di Sydney, Australia, Angel telah beranjak dewasa ini yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari, berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang pengacara. Disana dia sering memberikan bantuan hukum kepada orang-orang yang lemah. Di Sydney pulalah dia bertemu pujangga hatinya, yaitu seorang dokter yang bernama Martin (Joe Taslim). Sebelum menikah dengannya, Angel ingin kembali ke Indonesia dan mencari dimana kakaknya berada.

Bertujuan menguras air mata, Surat Kecil Untuk Tuhan kurang berhasil dalam melakukannya dari awal hingga pertengahan. 20 menit terakhirnya lah yang terasa cukup memilukan. Bahkan celakanya, kisah side story tentang Dokter Martin dengan seorang pasien jantungnya terasa lebih menyentuh hati karena dibawakan dengan natural, mengalir dan membumi.

3 2

Pada adegan pembuka hingga Angel kecelakaan, penonton disuguhi adegan kekerasan dan penuh dengan air mata tentang kisah kehidupan anak jalanan, khususnya kedua kakak beradik ini yang terlalu eksploitatif, berlebihan dan cenderung kurang cocok ditonton oleh anak-anak. Apalagi ada suatu adegan dimana seakan-akan seorang anak yang ingin dioperasi. Orangtua harus mendampingi anak-anaknya dan memberikan penjelasan yang berarti saat menonton film ini.

1 4

Jajaran cast-nya khususnya Joe Taslim dan Lukman Sardi menunjukan kelasnya dalam berakting. Lukman Sardi yang di make up khusus untuk perannya supaya terlihat lebih sangar, berhasil menjadikan sosok Om Rudi yang begitu dingin, kejam dan tanpa ampun. Penonton bisa jadi tidak mengenali, ternyata selama ini Om Rudi diperankan oleh Lukman Sardi! Joe Taslim menunjukan kehangatan sebagai seorang kekasih dari Angel dan menjadi seorang dokter yang bersahaja kepada pasien-pasiennya. Bunga Citra Lestari terasa kurang dapat menghidupi perannya, padahal biasanya dia berakting bagus di setiap peran-peran yang dilakoninya. Kredit tersendiri diberikan kepada Aura Kasih yang cukup mencuri perhatian untuk aktingnya dan juga kepada Rifnu Wikana yang berperan sebagai tangan kanan Om Rudi bisa memberikan chemistry yang kuat dengan Aura Kasih.

Penggunaan tone untuk gradasi warnanya sanggup membangun mood penonton, terlebih disaat adegan-adegan pada malam harinya. Segi musiknya patut diacungi jempol, walau mungkin sedikit berlebihan dengan lagu-lagu seperti Tik Tik Tik Bunyi Hujan, Bintang Kecil, Nina Bobo, Ambilkan Bulan Bu yang dibuat dengan orkestra dan paduan suara dari Purwacaraka. Lagu anak-anak ini dielevasi menjadi jauh lebih megah, terkadang dapat membuat bulu kuduk penonton berdiri.

Penyelesaian akhirnya cenderung terburu-buru, walau adegan penyelidikan dan persidangannya terasa cukup menarik dan bisa menguras sebagian besar penonton yang menyaksikan film ini karena begitu kejinya perdagangan tubuh manusia, kekerasan hingga pelecehan seksual kepada anak-anak dibawah umur.

Final Verdict:

Masih terasa eksploitatif, manipulatif maupun cengeng. Celakanya adegan Joe Taslim dengan pasiennya terasa lebih natural dan membumi dibanding keseluruhan film. Walau begitu 20 menit terakhirnya dapat menggugah hati penonton dan pesan yang disampaikan mengenai kehidupan anak jalanan terasa cukup mengena.

Gambar: Falcon Pictures