Stereotipe etnis Tionghoa atau seseorang yang dengan keturunan China di Indonesia seringkali dipandang sebagai orang-orang menengah ke atas dan sisi nasionalismenya kurang. Padahal sebelum meraih kesuksesan, etnis Tionghoa yang banyak merantau ke Indonesia, kebanyakan tidak bermodalkan apapun dan harus merintis atau bekerja dari nol. Sisi inilah yang difokuskan pada film Terbang: Menembus Langit.

 

Film Terbang Menembus Langit bercerita tentang Onggy Hianata (Dion Wiyoko) yang lahir dan besar di Tarakan sejak tahun 1962. Menginjak dewasa pada tahun 1983, dia memutuskan untuk pindah ke Surabaya untuk menggapai mimpi-mimipinya dan mengangkat kehidupan keluarganya yang kurang berkecukupan. Akan tetapi banyak sekali masalah yang dihadapi mulai dari penipuan yang dialaminya maupun strategi bisnisnya yang kurang cakap.

Film Terbang Menembus Langit dapat dikatakan sebuah biopik yang mengangkat perjuangan Onggy Hianata seorang motivator yang telah sukses besar membantu ribuan orang yang berasal dari 5 benua. Perjalanan kisahnya sangat berliku, mulai dari ayahnya yang sangat dia kasihi meninggal dunia sampai dengan puncaknya saat kerusuhan Mei 1998 melanda kebanyakan kota di Indonesia.

Karena menceritakan sejak masa kecil hingga kesuksesannya membuat berbagai karakter muncul dan pergi begitu saja. Belum sempat penonton bersimpati terhadap salah satu karakternya, karakter tersebut tidak lagi dimunculkan. Ada juga karakter yang sudah kuat penulisannya, tapi saat ending film tidak dijelaskan kelanjutan nasib dari karakter tersebut. Memang benar kalau karakter Onggy saja yang jadi peran utama, namun tentu penonton penasaran atas apa yang terjadi terhadap pihak-pihak yang membantu Onggy sehingga bisa sesukses ini. Lalu adapula karakter yang bisa saja dihapus, tidak begitu berpengaruh terhadap cerita.

Selain karakter, cerita dan konflik yang terlampau banyak membuat banyak adegan terasa melompat-lompat. Ada pula yang kurang jelas bagaimana konklusi akhirnya. Begitupun saat adegan pamungkas dan endingnya yang terlalu terburu-buru. Build up menuju kesananya kurang cakap, sehingga tidak mampu menghadirkan momen klimaks yang membuat crowd-pleaser dan mempengaruhi penonton untuk percaya kalau Onggi telah menjadi sebuah motivator ulung, karena semuanya terjadi begitu cepat.

Onggy memiliki kedekatan yang khusus kepada ayahnya (Chew Kin Wah) daripada ibu maupun saudara-saudaranya yang lain. Ayahnya yang selalu memberikan nasehat kalau keluarga nomor satu dan selalu tolong-menolong seperti “satu makan, yang lain makan”, “selalu saling dukung satu keluarga”. Nasehat-nasehat itu yang selalu menjadi pegangan Onggy selain nasehat untuk “Menembus Langit” meraih segala impian dan cita-cita. Ayahnya juga berpesan kalau bekerja pada orang lain membuat tidak memiliki waktu yang bebas bersama keluarga. Onggy memikirkan hal itu sehingga dia memutuskan untuk tidak lagi bekerja kantoran dan membangun usaha motivasi. Hubungan Onggy dengan ayahnya ini yang menjadi highlight terbesar dari film ini, sekaligus kelemahannya adalah Onggy tidak memiliki keterikatan yang kuat terhadap anggota keluarga lainnya, sehingga terkesan hanya tempelan. Begitu juga dengan hubungannya dengan keponakannya yang diperankan Dinda Hauw, walau cukup panjang durasinya, namun hubungannya tidak lebih dari seorang a kiu (panggilan paman dalam salah satu dialek orang Tionghoa) saja kepada seorang keponakan.

Dion Wiyoko memperlihatkan akting yang baik sebagai orang yang berpegang teguh atas kejujuran walau tergolong naif sehingga dia sering ditipu oleh orang lain saat mencoba usaha dagang maupun bekerja dengan orang lain. Segala hal telah dicoba seperti menjual buah, kerupuk, tikar, dll. Sampai-sampai saudaranya mengatakan “kamu gak capek gagal terus?”. Saat berada di titik puncak kegagalan lah Dion memperlihatkan akting terbaiknya pada film ini ketika dia berdoa kepada Tuhan. Begitu pula untuk akting dari Laura Basuki sebagai Candra Dewi, istrinya. Laura mampu membangun chemistry yang mengikat dengan Dion, walau kisah romantisnya sungguh sederhana. Adegan-adegan terbaik ada ketika Onggy malu-malu memperhatikan Candra Dewi di sebuah salon dan momen lucu saat Onggy melamar Candra Dewi.

Selain kisah inspiratif ada momen tentang Bhinneka Tunggal Ika dan rasa Nasionalisme yang kuat. Saat Onggy pertama kali melancong ke Surabaya, ketiga teman sekamarnya adalah seorang dari suku Sunda, Batak dan Papua. Selain saling membantu dan kisah mereka juga memberikan sebuah kekocakan saat menyantap nasi goreng ataupun saat menjual jagung bersama. Terdapat pula momen Bhinneka Tunggal Ika saat salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998 dan kemudian walau berat namun Onggy juga tetap masih percaya akan Indonesia dan memperlihatkan sisi Nasionalismenya yang kuat.

Final Verdict:

Walau sedikit bermasalah dari segi lompatan adegan yang tidak mulus, terlalu terburu-buru dalam penyelesaian di ending dan terlalu banyak karakter yang ingin diceritakan. Film Terbang Menembus Langit cukup inspiratif dalam mengangkat seorang yang berkekurangan dengan segala kegigihan dan keuletannya sehingga mampu memperoleh segala kesuksesannya. Momen-momen tentang Bhinneka Tunggal Ika dan sisi nasionalismenya pun patut diacungi jempol.

Review Terbang: Menembus Langit - Kisah Inspiratif dari Perjuangan Seorang Pemuda Miskin Dalam Menggapai Impian
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0