Sejak George A. Romero membuat film tentang mayat hidup atau yang biasa kita kenal dengan sebutan zombie pertama kalinya dalam film Night of the Living Dead di tahun 1968, setelahnya kita dengan mudahnya menemui film bahkan serial televisi lainnya yang bertema zombie apokaliptik. Ya, George A. Romero yang biasa disebut Father of the Zombies memang menjadi inspirasi para sineas dalam menggarap film zombie modern.

Sebut saja film seperti World War Z, Trilogi Dawn of the Dead, 40 Days of Night, serial The Walking Dead bahkan film Resident Evil Series yang diadaptasi dari gim berjudul sama, merupakan deretan film-film bertema zombie yang terinspirasi dari film George A.Romero. Sebagian besar inti cerita film-film tersebut sama. Bagaimana wabah zombie menyerang, manusia yang selamat kemudian bertahan hidup, dan pencarian serum atau obat untuk menghentikan penyebaran wabah menjadi lebih besar lagi. Tentu saja alur penceritaan yang berulang meskipun dengan kemasan berbeda, menjadi sedikit membosankan khususnya bagi penonton penggemar cerita zombie.

The Cured, film Zombie Gaya Baru

Namun apa yang ditawarkan film The Cured merupakan cerita dan tema yang baru. Masih menggunakan zombie sebagai inti ceritanya, The Cured menawarkan cerita imajinatif tentang bagaimana jika para zombie berhasil hidup dan kembali membaur ke masyarakat.

Sinopsis

Senan (Sam Keeley) dan Conor (Tom Vaughan-Lawlor) merupakan zombie yang baru saja sembuh dari virus Maze yang menyerang seluruh Irlandia. Ilmuwan berhasil menemukan obat dan menyembuhkan 75% orang yang terjangkit, dan menyisakan 25% orang yang masih terjangkit dan dikarantina.

Kepulangannya ke rumah dan keinginannya untuk membaur ke masyarakat justru mendapat sambutan yang tidak menyenangkan dari berbagai elemen masyarakat. Masyarakat menganggap mereka tetaplah pembunuh dan tidak seharusnya kembali berbaur. Pemerintah pun memiliki rencana untuk mengeliminasi sisa 25% orang yang masih terjangkit agar wabah benar-benar bisa dihentikan.

Meskipun kepulangannya ke rumah disambut baik oleh kakak iparnya, Abigail (Ellen Page) dan putranya Cillian (Oscar Nolan), namun ingatan akan masa lalunya kala menjadi zombie terus mengganggu hidup Senan. Ya, setiap yang sembuh dari wabah zombie tetap bisa mengingat segala yang dilakukannya kala menjadi zombie.

Senan pun berjuang untuk lepas dari rasa bersalahnya di masa lalu sekaligus menolak ajakan Conor dan aliansinya untuk bergabung. Conor yang sakit hati karena penolakan masyarakat terhadapnya, mengumpulkan para zombie yang sembuh untuk menyelamatkan sisa zombie terinfeksi yang ingin dieliminasi negara, sekaligus memberontak pemerintah dan militer dengan aksi mereka.

Poin Positif

Film ini jelas menawarkan cerita yang baru dalam semesta zombie. Jika biasanya kita hanya akan disuguhi adegan kejar-kejaran menghindari gigitan zombie, kemudian adegan menjijikkan kala zombie berhasil mendapatkan mangsanya, film ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Adegan kejar-kejaran menghindari zombie tetap ada, hanya saja porsi drama dan psikologis mengambil peran lebih besar di film ini.

Bagaimana seorang Senan mengalami perasaan bersalah dan kacau pasca kesembuhannya ditampilkan dengan sangat baik oleh Sam Keeley. Pergolakan batin terhadap hal yang dilakukannya kala menjadi zombie terus terngiang di kepalanya dan membuatnya sulit untuk menerima dirinya sendiri. Pun Ellen Page tampil baik dan bisa menunjukkan karakter ibu sekaligus kakak ipar yang tangguh.

Sinematografi khas film-film Eropa tergambar jelas di film ini. Visual yang gelap dan berkabut menambah suasana mencekam khas situasi apokaliptik. Pun penggambilan gambar jarak dekat yang mendominasi film, semakin meningkatkan ketegangan. Meskipun jumpscare bukan menjadi poin utama dalam setiap film zombie, namun di film ini suguhan jumpscare nya mampu disuguhi dengan maksimal dan tidak berlebihan.

Poin Negatif

Poin negatif yang ada di film ini adalah kehadiran karakter Conor itu sendiri. Perkenalannya di awal film sebenarnya cukup baik, hanya saja dalam perkembangannya karakter ini nampak seperti karakter antagonis pada umumnya. Pun penjelasan soal bagaimana sebenarnya penyebaran awal virus Maze di seluruh Irlandia tidak dijelaskan secara terperinci. Karakter yang diperankan Ellen Page pun tampak mengalami stagnasi perkembangan karakter, dan justru kalah cemerlang dengan karakter yang ditampilkan Sam Keeley.

Kesimpulan

Tidak salah jika film ini dianugerahi Best Horror Film dalam ajang Fantastic Film Festival tahun 2017 silam. Karena film ini memang tidak hanya menyajikan suasana horror dari para zombie yang haus darah semata, namun juga dari keadaan lingkungan yang mencekam serta faktor psikologis para zombie yang sembuh. Kritikan sosio politik yang ingin disampaikan di film ini pun terlihat jelas. Penolakan zombie yang telah sembuh baik di masyarakat maupun di kalangan pemerintahan sejatinya seperti keadaan dunia saat ini terhadap masyarakat yang telah sembuh dari sakit parah khususnya HIV/AIDS. Mereka kerap dianggap “sampah” meskipun telah sembuh total. Jadi dari sisi horror, film ini memang menyajikan cerita yang segar dan berbeda.

Pada akhirnya, film ini bisa menjadi alternatif tontonan di tengah gempuran Mission Impossible: Fallout dan Si Doel. Hanya saja, The Cured harus bersaing dengan beberapa film horror lokal yang tak kalah bagus seperti Sebelum Iblis Menjemput dan Kafir.

Film ini akan tayang di bioskop tanggal 8 Agustus 2018. Jadi, untuk para penggemar horror dan zombie, selamat menyaksikan film ini.

Review The Cured - Konflik Pasca Kesembuhan Para Zombie
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0