Sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan Darkest Minds. Premis yang dimiliki mengingatkan kita akan cerita film-film remaja di dunia distopia lainnya seperti Hunger Games, Maze Runner dan Divergent. Pun cerita dalam film ini juga sama-sama diangkat dari buku.

Sinopsis

Menceritakan tentang Ruby Daly (Amandla Stenberg) yang merupakan remaja yang selamat dari wabah kematian misterius. Mereka yang selamat memiliki kemampuan khusus dimana pemerintah akhirnya membuat kamp khusus untuk “penyembuhan” mereka. Di kamp tersebut, setiap anak diberi warna sesuai level kekuatan spesial yang mereka miliki. Level hijau, biru dan kuning dibiarkan hidup oleh mereka. Sementara level oranye dan merah harus dibunuh di tempat karena dianggap membahayakan.

Ruby yang ternyata berada dalam level oranye, menyebabkan dirinya berada dalam bahaya. Namun berkat kemampuan manipulasi pikiran yang dimilikinya, Ruby berhasil menyamar sebagai anak yang memiliki level hijau sampai bertahun-tahun. Hanya saja di tahunnya yang ke enam, penyamarannya terbongkar. Namun beruntung dia diselamatkan dokter Cate(Mandy Moore).

Dalam perjalanannya melarikan diri, Ruby pun bertemu dengan anak-anak lain yang memiliki kemampuan khusus. Diantaranya Liam(Harris Dickinson), Zu(Miya Cech), dan Chubs(Skylan Brooks). Pertemuan mereka pun membuat perjalanan Ruby di ambang kebingungan. Haruskah dia mengikuti dokter Cate ataukah harus mengikuti ke tiga teman-temannya dalam menemukan tempat hidup yang terbaik bagi anak-anak?

Poin Positif

Yang menarik dari The Darkest Minds adalah jajaran aktor dan aktris nya yang mampu memberikan akting cukup mumpuni. Amandla Stenberg misalnya, memberikan akting yang berkelas dan meyakinkan, bahkan seakan menunjukkan kepada khalayak bahwa dia salah satu aset terbaik bagi Hollywood di masa depan.

Pun Mandy Moore, meskipun perannya disini nampak mirip dengan peran-peran “wanita baik” dalam film lainnya, mampu memberikan perasaan nyaman bagi penonton ditengah tone film yang cukup gelap.

Visual dalam film ini juga cukup baik, meskipun tone yang digunakan memang agak gelap. Namun yang paling baik adalah scoring yang digunakan mampu menyatu dengan baik dengan berbagai adegan dalam film. Beberapa potongan lagu soundtrack yang dimasukkan pun cukup pas dan membawa penonton ke dalam mood yang baru setiap mendengarkannya.

 

Poin Negatif

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan dari film ini. Penonton seakan deja vu akan cerita dalam film ini karena mirip dengan film-film distopia remaja yang sudah lebih dulu tayang.

Pun skrip nya terasa lemah, sehingga cerita yang seharusnya bisa digali lebih dalam lagi hanya mampu bermain di area itu-itu saja. Penonton pun seakan tidak disuguhi suatu cerita yang baru. Sangat disayangkan.

Kesimpulan

Pada akhirnya The Darkest Minds hanya bermain dalam mode aman penceritaan saja. Tidak ada sesuatu yang baru dalam dunia distopia remaja jelas akan membuat penonton semakin bosan dengan film berjenis ini. Sangat disayangkan mengingat sutradara film ini yaitu Jennifer Yuh Nelson sebelumnya cukup sukses menggarap dua film animasi yang segar, yaitu Kung Fu Panda 2 & 3.

Namun, bukan berarti film ini tidak layak tonton. Akting para bintang remaja ini sejatinya menarik untuk disimak. Apalagi humor-humor khas remaja bertebaran di sepanjang film. Dan bagi anda penggemar film bertema dunia distopia remaja, jangan sampai melewatkan film ini.

Review The Darkest Minds (2018) - Petualangan Remaja di Dunia Distopia yang Tidak Digarap Maksimal
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0