Haunting, Mesmerizing, Mysterious, Exotic and Emotionally Compelling
8Overall Score
Reader Rating 1 Vote
4.5

Diangkat dari buku non fiksi karya David Grann yang berjudul sama ini sekilas jika melihat dari poster dan beberapa foto-foto dari filmnya, penonton dapat menduga ini adalah film sejenis Indiana Jones yang kental dengan aksi petualangan mencari harta karun atau artifak-artifak berharga. Dugaan itu kurang tepat karena film ini sangat minim adegan aksi dan dengan pace yang lambat dengan cukup banyak adegan repetitif yang dapat membuat sebagian penonton bosan, bahkan saat saya menonton ada 7 dari sekitar 40 orang yang keluar dari ruangan bioskop sebelum filmnya habis.

Percy Fawcett (Charlie Hunnam) di masa tahun 1905 adalah seorang tentara Britania Raya yang ditugaskan ke Bolivia untuk memetakan tempat-tempat yang belum terjamah manusia oleh pihak Perkumpulan Geografi Kerajaan. Percy sebenarnya ingin menolak karena harus 2 tahun meninggalkan istrinya dan anak-anaknya yang masih kecil. Percy akhirnya dengan terpaksa menerima supaya dapat memulihkan nama keluarganya yang telah dirusak oleh ayahnya. Saat mengaruhi sungai Amazon di Bolivia dia diceritakan oleh pemandunya yang merupakan suku asli Amazon, bahwa terdapat kota yang penuh dengan emas dan penuh dengan penduduk. Semula Percy tidak percaya, tetapi setelah menemukan artifak-artifak yang dia yakini merujuk kepada kota tersebut, dia pun menjadi percaya. Maka ekspedisinya tidak hanya untuk kali ini saja tetapi ada ekspedisi-ekspedisi mendatang yang dia akan arungi.

Brody-Lost-City-of-Z-1200 film_lostcity-mag

James Gray yang lebih dahulu dikenal sebagai sutradara We Own The Night yang masuk kompetisi di Cannes Film Festival, membuat film yang mulus dan mengalir dari awal hingga akhir walau dengan pace yang cukup lambat. Tampilan hutan dan suku pedalaman yang eksotis, misterius dan menakjubkan ini didukung oleh sinematografer handal, Darius Khondji membuat penonton seperti ikut masuk kedalam petualangan pencarian dunia baru ini. Begitu indahnya pesona hutan dengan segala air terjun, pepohonan yang masih rindang dan budaya suku pedalaman. Sekaligus terdapat sisi mengerikannya dengan berbagai ikan piranha, ular dan panther yang jika tidak hati-hati maka nyawa taruhannya, penyakit di iklim tropis dan suku pedalaman yang tidak bersahabat dengan ribuan panah yang siap menerjang, belum lagi masih banyak penduduk suku sana yang masih kanibal. Segala visual yang ditampilkan juga mengingatkan dengan film Apocalypse Now (1979).

Pada masa tahun 1910 – 1920 masih banyak para anggota bangsawan Britania Raya maupun pihak gereja yang masih berpikiran sempit dengan mengagung-agungkan budaya mereka dan menganggap suku pedalaman derajatnya lebih rendah daripada mereka. Pada masa itu pula masih terjadi perbudakan terhadap para penduduk asli maupun orang kulit hitam di Amerika Serikat. Percy tidak hanya harus berhadapan dengan kejamnya hutan tetapi dari berbagai orang yang mencemooh bahwa kota yang dia beri nama Z itu tidak ada. Kemudian pula istri dan anaknya yang sempat menentang Percy karena harus meninggalkan mereka selama bertahun-tahun. Situasi-situasi ini lagi-lagi dengan baik dituturkan dramatisasinya oleh James Gray dengan takaran yang pas layaknya sebuah film biografi.

MV5BNjI1NTk0YjQtYzhjYi00NTA5LTgxNzQtMzk2NDAzODZhYjQzL2ltYWdlXkEyXkFqcGdeQXVyNDg2MjUxNjM@._V1_SY1000_CR0,0,1500,1000_AL_ MV5BMDJmN2JjMTAtOTJlOC00Y2MzLWI2ODctMDgxOTBlMzk0ZjRjL2ltYWdlXkEyXkFqcGdeQXVyNDg2MjUxNjM@._V1_SY1000_SX1500_AL_

Charlie Hunnam yang baru-baru ini berakting sebagai King Arthur di film King Arthur: Legend of the Sword memperlihatkan kualitas akting yang menawan. Kharismanya dalam memimpin grup penjelajah, sifat kemanusiaannya yang menganggap orang-orang suku pedalaman sama derajatnya dengan dia, mimik muka terpukaunya melihat kebudayaan dan pintarnya orang-orang suku pedalaman, pergolakan batinnya dalam menghadapi berbagai rintangan yang ada sampai dengan saat dia harus cedera cukup parah saat memimpin perang di front depan saat Perang Dunia ke 1. Robert Pattinson yang disini tampak tidak seperti dia, bisa jadi paling mengejutkan semua pihak, disini dia berakting sangat dewasa dan penuh penjiwaan. Bagaimana dia berperan sebagai Korporal Henry Costin, tangan kanan dari Percy yang tetap setia dalam mendampinginya. Sienna Miller yang berperan sebagai istri dari Percy, memperlihatkan akting yang menggungah perasaan dengan sosoknya yang tegar dan bisa merawat anak-anaknya disaat suaminya tidak dirumah. Dia pun penuh semangat sebenarnya ingin ikut serta dalam eksplorasi dari Percy. Tom Holland yang telah menjadi sosok Peter Parker / Spider-Man di Marvel Cinematic Universe ini berperan menjadi anak sulung dari Percy yang sering bermasalah dengan ayahnya karena ayahnya lebih mementingkan ekspedisi daripada keluarga, memperlihatkan akting yang solid.

Final Verdict:

Haunting, Mesmerizing, Mysterious, Exotic and Emotionally Compelling. Sebuah drama biografi petualangan tentang pencarian dunia baru yang penceritaannya sangat mulus dari awal hingga akhir dengan akting yang menawan dari Charlie Hunnam, Robert Pattinson, Sienna Miller dan Tom Holland. Sinematografi nan indah sekaligus menyeramkan yang ditampilkan, membuat penonton seakan-akan masuk kedalam dunia eksplorasi di pedalaman Amazon. Jika Anda mencari sesuatu seperti Indiana Jones, tentu akan kecewa karena minimnya aksi dan pace yang cukup lambat dengan beberapa adegan seperti repetitif dan durasi yang mencapai 2 jam 20 menit ini.

P.S. Ada 7 orang yang keluar duluan dari theater bioskop sebelum film berakhir dari total 40 – 50 orang saat saya menonton film ini.