Sejak beberapa tahun terakhir nama Blumhouse Productions sebagai perusahaan produksi film yang berfokus pada film bergenre horror di Hollywood makin melambung berkat sederetan film-film berkualitas dan sukses di Box Office seperti Paranormal Activity, Insidious, The Purge, Sinister, Happy Death Day dan teranyar adalah film Get Out yang memenangkan Oscar. Tentu saja kemunculan film-film horror baru dari Blumhouse Productions akan mendapatkan ekspektasi tinggi dari penontonnya. Ekspektasi penonton pada film terbarunya yaitu Truth or Dare tentu cukup tinggi, apalagi dari melihat premisnya yang cukup menarik yaitu permainan Truth or Dare yang sudah kadung melekat pada remaja-remaja kebanyakan.

Truth or Dare menceritakan sekelompok remaja yang berlibur ke Meksiko saat spring break, mereka terdiri dari Olivia Barron (Lucy Hale); teman dari Olivia, Markie Cameron (Violett Beane); pacar dari Markie, Lucas Moreno (Tyler Posey); Penelope Amari (Sophia Ali); pacar dari Penelope yang mengesalkan, Tyson Curran (Nolan Gerard Funk) dan Brad Chang (Hayden Szeto). Di sana, Olivia berkenalan dengan seorang pria muda yang memiliki tampang menarik bernama Carter (Landon Liborion). Carter mengajak Olivia dan teman-temannya untuk pergi ke sebuah gereja tua yang sudah tidak terawat. Kemudian Carter mengajak untuk memainkan permainan Truth or Dare di sana. Carter tiba-tiba pergi begitu saja setelah permainan berakhir dan mengatakan kalau permainan itu memiliki sebuah kutukan dan mereka harus memainkan terus-menerus, jika tidak mau melakukannya atau gagal dalam tantangan itu maka nyawa yang menjadi taruhannya.

Sekilas melihat dari jalannya cerita Truth or Dare memiliki kesamaan dengan Final Destination untuk adegan-adegan kematiannya dan juga ada kemiripan dengan Ouija di mana sebuah permainan mendatangkan petaka dan adapula unsur-unsur film Saw dan It Follows. Adegan-adegan kematiannya, tidak seperti Final Destination yang memiliki lapisan-lapisan “kesialan” atau build up yang cukup baik menuju kematiannya. Kalau di Truth or Dare kematiannya, berlangsung cukup cepat. Menarik adalah segi “Truth” atau “Dare” yang mereka harus lakukan semuanya berhubungan dengan masa lalu dari remaja-remaja tersebut. Ada kisah cinta segitiga, ada kisah tersembunyi mengenai ayah dari salah satu karakter utama dengan teman dari salah satu karakter utama itu, ada pula seorang karakter utama yang gay dan masih menyembunyikan hal itu kepada orang tuanya. Kisah-kisah tersebut cukup mengena, apalagi mengenai tentang karakter utama yang gay tersebut, pada masa sekarang masih banyak orang tua yang tidak menerima perilaku seksual seperti itu. Kisah-kisah dramatis tersebut mulai tersingkap seiiring dengan permainan “Truth” yang mesti mereka jalankan.

Jika permainan “Truth” menghadirkan momen dramatis, permainan “Dare” menghadirkan momen-momen menegangkan maupun menyeramkan. Suatu adegan ada yang mengharuskan temannya untuk memukul dengan palu tangan teman mereka sendiri. Ada pula adegan menegangkan lainnya saat seseorang harus minuk sebotol minuman keras dan berjalan ditepian genteng. Namun, selain itu praktis adegan-adegan menegangkan lainnya kurang bisa dibangun dengan cukup baik, kebanyakan hanya memanfaatkan oleh jump scare saja.

Final Verdict:

Memiliki premis yang cukup menarik dan berbagai tantangan Truth or Dare-nya pun cukup seru untuk diikuti, namun sayangnya eksekusinya kurang mampu membuat ketegangan atau keseraman yang mumpuni untuk menakuti para penonton.

Review Truth or Dare (2018) - Tantangan dari Truth or Dare yang Berujung Maut
6.5Overall Score
Reader Rating 5 Votes
6.5