Inspiratif, Manis dan Menggugah Perasaan dengan chemistry yang kuat dari Gal Gadot dan Chris Pine
8Overall Score
Reader Rating 11 Votes
7.5

DC Extended Universe (DCEU) selalu selangkah dibelakang Marvel Extended Universe (MCU) baik dapat pendapatan maupun resepsi dari para kritikus. Terhitung kebanyakan orang tidak menyukai Man of Steel, Batman v Superman dan Suicide Squad. Saya termasuk yang sangat menyukai Batman v Superman karena visual style dari Zack Snyder dengan menampilan adegan pertempuran super hebat dan mengegangkan antara Batman vs Superman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, apalagi mengingat adegan klimaksnya yang sangat megah saat Superman, Batman dan Wonder Woman bersatu padu melawan Doomsday. Wonder Woman sendiri mendapatkan gelar certified fresh (rating diatas 75%) di situs agregrator kritik film, Rotten Tomatoes dan kemungkinan akan mendapatkan diatas 100 juta dollar pada opening weekend di Amerika Serikat, jauh dari prediksi studio awalnya yang mengestimasi hanya 80 juta dollar.

Baca juga: Gak Cuma Wonder Woman, Ini Film Superhero dengan Karakter Utama Perempuan

Diane Prince / Wonder Woman (Gal Gadot) dikirimkan fotonya pada masa perang dunia saat dia berada di ruang kantor Musium Lourve dan ingatannya pun kembali masa-masa lalu tersebut. Dibesarkan di pulau Themyscira, pulaunya orang Amazonia. Dia dilarang oleh ibunya untuk menjadi petarung, karena takut dia akan terkontaminasi oleh pemikiran Ares sang dewa perang. Walau begitu dia tetap berlatih bersama tantenya dan menjadi seorang pejuang wanita tertangguh di pulau itu. Suatu hari, Diana menyelamatkan seorang mata-mata Steve Trevor (Chris Pine) yang pesawatnya jatuh ke laut. Steve menceritakan bahwa dunia sedang berperang. Diana yang mendengar betapa perang menimbulkan korban yang luar biasa dan kejahatan manusia yang tidak terhingga, langsung menggangap ini adalah ulah dewa Ares yang mengkontaminasi memikiran manusia. Mulailah Diana bersama Steve kembali ke Inggris untuk berusaha menghentikan perang terbesar pertama sepanjang sejarah umat manusia yang dinamakan Perang Dunia ke 1 itu.

wonder_woman_SD2_758_426_81_s_c1 GalleryMovies_1920x1080_WW-01748c_581be0d043d5a5.54352008

Dapat dikatakan ini menjadi film paling ringan dan straight forward dari DC selama ini, tidak seperti film-film sebelumnya, mulai dari Batman Begins hingga Suicide Squad yang bertema serius dengan tone muram dan gelap hingga minim dengan humor. Wonder Women terasa dapat dinikmati oleh siapapun, plotnya simpel, generik dan mudah ditebak. Dialog-dialognya sendiri tidak berat dan mudah diikuti tutur demi tutur.

Gal Gadot yang sebelumnya cukup banyak dicibir karena terlalu kurus, tidak seperti sosok Wonder Woman yang lebih berisi dan berotor, membungkam semua kritik terhadapnya. Setelah menjadi scene stealer di Batman v Superman. Disini dia memperlihatkan sisi kepolosan, keingintahuan, kepahlawanan dan rasa kasih sayangnya terhadap sesama. Sikap terkejutnya saat memakan es krim pertama kalinya sungguh priceless, rasa ingin tahu terhadap dunia luar yang belum dia jamah sebelumnya, kepahlawanannya dalam menyelamatkan orang-orang yang terkena dampak perang dan kasih sayangnya terhadap bayi atau anak kecil membuat film ini mempunyai hati yang lebih dibanding film-film DCEU sebelumnya. Chris Pine yang sebagai pendampingnya, berperan sangat bagus sebagai lawan main asmaranya. Duet ini menghadirkan chemistry yang luar biasa mengikat sampai klimaksnya sangat menggungah hati penonton. Ada momen khusus saat mereka berdansa berdua ditengah-tengah suasana yang masih dalam peperangan, terasa romantis dan manis. Inilah penampilan terbaik Chris Pine selain di Hell or High Water (2016).

wonder-woman-2017-photo020-1495491531564_1280w Wonder-Woman-2017-film-699932

Selain sebuah film superhero, sang sutradara Patty Jenkins yang sebelumnya membesut Monsters (2003) yang mendapatkan berbagai penghargaan di Oscar membuat film terasa juga film perang dan drama romantis disisipi humor yang menggelitik. Terlebih dari sosok komikal yaitu sekretaris Steve, Lucy Davis yang diperankan oleh Etta Candy. Wonder Woman masih menggunakan teknik slow motion yang stylish khas Zack Snyder, Patty Jenkins semakin menghadirkan berbagai adegan aksinya menjadi lebih dramatis dan elegan. Walau masih belum setingkat dengan visual galore Snyder yang sangat artistik.

Inspiratif, itulah Diane Prince saat memberikan argumennya tentang perdamaian dunia dan berbagai aksinya dalam kepedulian terhadap sesama. Sedikit mengingatkan dengan kisah inspiratif Steve Rogers (Captain America) yang rela berkorban kepada teman-temannya sehingga dia terpilih oleh ayahnya Tony Stark untuk menjadi sosok eksperimental manusia super, itulah hal yang dilakukan oleh Diane Prince, hati dia tergerak untuk menyelamatkan suatu desa kecil yang dikuasai oleh pasukan Jerman pada waktu itu. Adegan penyelamatan desa tersebut menjadi salah satu adegan terbaik film ini, bagaimana Diane Prince sudah berubah menjadi sosok Wonder Woman yang menumpas segala kejatahan demi kedamaian dunia.

Ada beberapa masalah dengan pacing, durasi yang kepanjangan, beberapa karakter yang underwritten dan beberapa adegan yang terasa hambar yang mengurangi kedinamisan film ini. Karakter villainnya cukup lemah penulisannya (General Erich dan Doctor Poison), kecuali villain terakhir yang menghadirkan klimaks yang spektakuler dengan permainan CGI kental. Begitu juga dengan teman-teman seperjuangan dari Diane dan Steve (Sameer, Charlie dan Chief). Untungnya seperti Batman v Superman dan Suicide Squad, penyelesaian akhir dari Wonder Woman sangat baik, terlebih dramatisasinya sangat menggugah perasaan penonton dan bisa jadi akan membuat mata penonton menjadi sembab.

Final Verdict:

Wonder Woman menjadi film DC Extended Universe (DCEU) paling ringan dan tergolong dapat diterima oleh banyak pihak, tidak seperti film-film lainnya (Man of Stell, Batman v Superman dan Suicide Squad) yang tergolong serius dan bertone muram. Gal Gadot dan Chris Pine memberikan pesona terbaik mereka, sehingga penonton terpikat oleh karakter keduanya. Menonton Wonder Woman seperti menyaksikan film superhero, film perang dan film drama romantis yang dicampur adukan menjadi satu yang terasa manis dan inspiratif dengan klimaks yang sangat memuaskan. Kekurangannya ada di pacing, durasi yang terlalu lama dengan beberapa karakter yang underwritten.