Sebuah Sekuel/Reboot yang Tidak Perlu
2Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0

Sadako merupakan salah satu ikon hantu Jepang yang sudah dibuat banyak film dan segala parodinya. Bahkan banyak film-film horror yang mengikuti gaya Sadako dengan pakaian serba putih dengan rambut panjang. Terbentang dari film originalnya yang sangat sukses yaitu Ringu (1998), kemudian dilanjutkan dengan Ringu 2 (1999), lalu dibuat remake bersi Hollywoodnya yang juga sukses, The Ring (2002) hingga yang terakhir ini berjudul Rings (2017).

Sejak The Ring (2002), kualitas film-film yang menampilkan Sadako (Samara dalam versi Hollywoodnya) menurun drastis apalagi kualitas Sadako 3D dan Sadako 2 3D, lalu cross-over dengan Ju-on yang konyol yang berjudul Sadako vs Kayako (2016), begitu juga dengan Rings (2017) yang kualitasnya menyedihkan.

Adegan dibuka dengan seorang pemuda yang ketakutan setengah mati saat berada di pesawat, orang sebelahnya pikir dia memang takut naik pesawat, namun pemuda ini bercerita waktu hidupnya tinggal sebentar lagi karena menonton video dari suatu VHS yang berisi sekilas kehidupan Samara. Setelah menontonnya, pemuda ini mendapatkan telepon yang isinya memberitahukan waktu hidup dia tinggal 7 hari saja. Seperti dapat ditebak, walaupun pemuda ini seperti “kabur” dengan menggunakan pesawat, tetapi Samara berada di mana-mana dan menyerang pemuda ini.

2 tahun sejak kejadian di dalam penerbangan pesawat tersebut. Sepasang muda-mudi yang masih dalam gejolak asmara, Julia (Matilda Lutz) dan Holz (Alex Roe) harus berpisah sementara karena Holz ingin berkuliah di luar kota. Jadilah mereka LDR-an. Sudah 6 minggu mereka selalu terus berkomunikasi di jam 9 malam, tetapi suatu ketika Julia tidak bisa menghubungi Holz selama berhari-hari. Julia pun mengunjungi tempat kuliah Holz dan mendapati kalau ada suatu perkumpulan bernama “The Sevens” yang diketuai oleh seorang dosen Gabriel Brown (Johnny Galecki). Mereka bereksperimen tentang adanya kehidupan di alam baka dengan cara menonton video Samara tersebut dan mencari orang (disebut tail) untuk menontonnya dalam waktu 7 hari supaya kutukan dari Samara terpatahkan. Ternyata Holz masuk dalam perkumpulan itu. Suatu ketika Holz kesulitan untuk mencari orang untuk menontonnya, akhirnya Julia pun bersedia berkorban untuk menyelamatkan pacarnya.

Dimulai dari pengorbanan itulah film ini terus-menerus menjadi tidak koheren, banyak plot hole, tidak masuk akal, tidak ada sisi emosional. Adegan yang sungguh fatal saat Holz mengetahui kalau Julia telah menonton video tersebut dan reaksinya biasa saja, padahal Holz selama ini berusaha menyembunyikan tentang perkumpulan ini kepada Julia. Entah karena akting yang buruk, atau naskah atau penyutradaraan. Adegan tersebut sungguh mengguncang nalar yang menontonnya!

Kekuatan Samara kali ini sudah melampaui batas, tidak perlu hanya melalui medium di tv tabung saja saja melainkan sudah menggunakan medium digital seperti PC/laptop maupun smartphone, bahkan seperti di adegan awal Samara muncul di layar navigasi pesawat. Hal ini menjadi premis yang cukup baik dan tentu beralasan, karena zaman sudah maju. Walaupun jelas hantu dengan bantuan teknologi juga bukan merupakan sesuatu yang benar-benar baru.

Karakter paling lemah ada di dosen Gabriel, motifnya tidak jelas. Apalagi setelah itu nasib dari perkumpulan ini tidak dijelaskan apapun di akhir. Ada suatu adegan yang tidak koheren, dimana tiba-tiba dosen Gabriel muncul di kota Julia dan Holz ingin mencari asal-usul dari Samara, tanpa jalinan adegan yang jelas mengapa dosen itu berada disana.

Tidak ada tensi sama sekali, kemunculan hantunya sudah dapat diprediksi dan hanya mengandalkan efek suara kejutan yang sangat tidak orisinil. Back story-nya sama sekali tidak membantu, terasa membosankan dengan twist yang juga sungguh standar. Hanya satu saja adegan yang lumayan, itupun cuma 2-3 menit saja. Saat adegan terakhir di kamar mandi yang salah satu tokohnya mengeluarkan rambut-rambut dari mulutnya, namun ini memang lebih terasa menjijikan daripada seramnya.

Sulit dibayangkan dari semua kelemahan yang dijabarkan diatas, film ini ditulis oleh penulis naskah pemenang Oscar yaitu Akiva Goldsman yang memenangkan Oscar atas karyanya di film Beautiful Mind.

Hal yang paling menyeramkan dari Rings adalah film ini tidak stop sampai disini saja tetapi ada sekuelnya!

Final Verdict:

Sebelum menonton Rings, saya sudah menurunkan ekspektasi saya ke level terendah dan ternyata hasilnya jauh lebih buruk. Tidak ada tensi, tidak koheren dan sangat membosankan. Satu-satunya yang bagus adalah video hitam putih Samara di VHS/File Digital yang terasa artful dan mengingatkan akan film-film klasik zaman tahun 1900 an, bahkan mengingatkan dengan adegan dari film Luis Bunuel, Un Chien Andalou dan juga film-film George Melies.