30 menit terakhir dan Darth Vader yang Ciamik, mampu membayar kekecewaan di 1.5 jam awal film
7Overall Score

Gw ingat sewaktu masih di bangku SD, nyokap gw mengajak nonton film di bioskop untuk pertama kalinya waktu itu. Film tersebut adalah Star Wars IV: A New Hope yang dirilis ulang pada tahun 1997. Saat itu gw pun amaze akan megahnya bioskop, layar yang begitu besar, dentuman suara yang menggelegar, bangku yang empuk, ditambah dengan tentu saja Star Wars yang sangat menghibur, adegan lightsaber yang epik, dunia science fiction yang imajinatif dan tentu saja karakter-karakter tokohnya yang terus akan dikenal sepanjang masa. Sejak saat itu gw juga menjadi fans dari film Star Wars.

Setelah menonton semua film Star Wars yang rilis ulang di bioskop, akhirnya muncul berita akan dibuat prekuelnya yang sayangnya saat itu tidak ada di bioskop sehingga harus menontonnya di home video. Karena waktu itu masih kecil dan cukup banyak adegan yang tidak gw mengerti akhirnya saat di bangku kuliah menonton kembali Star Wars dari film ke IV-VI dan I-III. Berikut nilai-nilai yang gw berikan untuk masing-masing film tersebut.

 

 

IV – A New Hope (1977) 9/10
V – The Empire Strikes Back (1980) 10/10
VI – Return of the Jedi (1983) 9/10

I – The Phantom Menace (1999) 7/10
II – Attack of the Clones (2002) 8/10
III – Revenge of the Sith (2005) 10/10

Sejujurnya gw sendiri cukup kecewa terhadap Star Wars: Force Awakens yang menurut gw hanya menang di sisi nostalgianya saja, tetapi secara kualitas masih cukup jauh dari film-film lawasnya. Lalu munculah Star Wars: Rogue One yang mungkin saja akan mengobati kekecewaan gw.

Bercerita tentang Galen Erso (Mads Mikkelsen) seorang ilmuwan yang dipaksa untuk bekerja untuk Empire untuk membuat senjata pemusnah massal yang tidak lain dan tidak bukan adalah Death Star yang sudah kita kenal di episode IV-VI. Anak dari Galen Erso sendiri adalah Jyn Erso (Felicity Jones) yang selamat dari kekejaman Empire setelah ibunya dibunuh di depan mata kepalanya sendiri. Jyn Erso inilah yang nantinya yang akan memimpin pemberontak untuk melawan Empire yang dibantu dengan kawan-kawannya: Cassian Andor (Diego Luna) – Agen intelegen dari pemberontak Chirrut Îmwe (Donnie Yen) – Pendekar yang tidak bisa melihat tapi selalu percaya kepada Force, Bodhi Rook (Riz Ahmed) pilot dari Empire yang berkhianat, Baze Malbus (Jiang Wen) – Pendekar sekaligus tentara bayaran sekaligus teman dekat dari Chirrut dan K-2SO (Alan Tudyk) – Robot dari Empire yang sudah dihapus memorinya sehingga sekarang berpihak kepada Pemberontak.

Plotnya sendiri seperti mengisahkan awal mula perjuangan para pemberontak untuk di film IV-VI sehingga film ini lebih ke arah film perang dan cukup berbeda dengan film Star Wars lainnya yang selalu berkutat pada Jedi, Force dan White/Dark Side darisana sebenarnya sudah cukup terlihat kelemahannya, ciri khas dari Star Wars menjadi hilang, satu-satunya yang terasa untuk sisi Forcenya adalah Chirrut Imwe yang selalu berulang kali mengatakan “I am with the Force, the Force is with me”. Sebagai film spin-off Star Wars yang berfokus di sisi peperangannya pun juga terasa tanggung karena adegan perang yang benar-benar sesungguhnya baru terasa di bagian akhir.

Karakternya sendiri kebanyakan under development (walaupun cukup banyak durasi untuk hal ini), hanya Jyn, Chirrut dan K-2SO saja yang pengembangannya bagus. K-2SO bisa menjadi ikon baru selain Chewwie, C3PO, R2D2 dan BB-8 dengan karakternya yang menimbulkan gelak tawa saat dia menghitung segala kemungkinan peluang kesuksesan suatu misi

Felicity Jones dan Donnie Yen menjadi 2 aktor yang paling menonjol. Felicity dapat membuat karakter Lyn memang benar-benar seorang pemimpin sejati dari Pemberontak, bukan seperti orang-orang yang dibalik layar saja. Donnie Yen selain memberikan pesona martial arts yang sudah tidak diragukan lagi, segala gerakan tubuh, mimik wajah dan penjiawaannya sempurna dalam menjadi seorang pendekar yang tidak bisa melihat dan percaya dengan Force.

Sisi dramatisnya sayangnya hanya berasa di akhir saja, hubungan ayah dan anaknya tidak terasa, padahal ada suatu adegan yang dramatis, namun di direct dengan buruk. Kehebatan dan kekuatan ddari Empire tidak dapat diperlihatkan dengan megah, Orson Krennic (Ben Mendelsohn) juga tidak terasa bengisnya dalam memimpin Empire.

Masalah utama ada di 1.5 jam awal yang terasa terlalu lama dalam mengenalkan para karakter, planet-planet dan beberapa side story yang kurang perlu hingga tone warna yang terlalu muram dan gelap, sehingga seringkali adegan yang ditampilkan tidak jelas. Baru di setengah jam terakhir terasa epik dengan adegan peperangan yang seru dan menakjubkan ditambah dengan sinematografi yang brilian dari Greig Fraser. Original Score dari Giacchino terasa biasa saja mengingat dia adalah sekaliber Oscar dan tidak mampu menyamai iringan musik yang sudah sangat sempurna dari John Williams di film-film sebelumnya.

Alhasil sebuah film Star Wars yang lagi-lagi tidak sesuai ekspektasi seperti halnya Phantom Menace dan Force Awakens. Namun masih dapat dikatakan sebuah film yang lumayan bagus karena 30 menit terakhirnya yang begitu sempurna dalam menyambung kisah ke Star Wars ke IV dan tentu saja kehadiran Darth Vader yang sungguh ciamik yang pasti ditunggu-tunggu oleh para fans Darth Vader.