Twist di akhir, menyelamatkan film ini dari kehancuran total
3Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0

Perfilman Thailand lebih dikenal dengan drama percintaan dan film-film horrornya. Shutter, Laddaland, 4bia, Alone, Pee Mak merupakan sedikit dari banyaknya film yang telah sukses menakuti dan membuat bulu kuduk penontonnya berdiri. Tapi itu tidak terjadi dengan School Tales.

6 anggota marching band menginap di sekolah untuk latihan mempersiapkan lomba. Di sela-sela latihan, mereka berkumpul untuk bercerita tentang 3 hantu di sekolah. Ceita hantu pertama adalah seorang siswa pincang yang merupakan korban bullying yang jatuh dari tangga. Cerita hantu kedua adalah seorang wanita yang berwajah seram, melepuh seperti terkena air panas. Hantu ini berada di perpustakaan yang akan muncul jika para siswa-siswi berisik. Cerita hantu ketiga adalah tentang siswi yang terbunuh di ruang musik dan jika dimainkan nada tertentu di depan cermin, maka hantunya akan muncul. Ke enam murid tersebut uji nyali, karena penasaran apakah memang benar cerita hantu tersebut, atau hanya dibuat-buat saja.

Jika film aksi harus menghadirkan ketegangan, film komedi harus menghadirkan kelucuan, film drama harus menghadirkan drama yang menggugah perasaan, tentu saja film horror harus menghadirkan keseraman. School Tales sama sekali tidak memberikan keseraman apapun.

Karakter dari hantunya sama sekali tidak original. hantu pertama seperti perpaduan Frankenstein dan Hulk yang berbadan besar, berjalan lambat, penuh amarah. Hantu kedua tangannya mengingatkan dengan Freddy Kruger di Nightmare on Elm Street. Hantu ketiga sangat standar sekali seperti karakter seseorang siwsi yang kerasukan. Ada satu hantu di akhir film yang lagi-lagi tidak menginspirasi, hantu ini seperti perpaduan karakter Vincent Sinclair di House of Wax, Michael Myers di Halloween dan karakter pembunuh bertopeng di Scream.

Logika dasar sebab akibat sama sekali dilupakan. Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut, benang merah antara adegan satu dengan lainnya, hingga kebodohan-kebodohan yang dilakukan layaknya film horror lainnya.

Karakter yang dibangun juga sangat kurang dari segi chemistry. Ada hubungan percintaan dari antara siswa-siswi tersebut tetapi sangat tipis sekali chemistry-nya dan penonton sama sekali tidak dapat merasakan mengapa mereka bisa jatuh cinta. Begitu pula dengan 2 orang siswi yang memperebutkan seorang cowok yang lagi-lagi tidak jelas back story-nya. Lebih parahnya lagi, saat salah satu siswi tersebut kerasukan dan adegan saat siswi tersebut kembali sadar dihubungkan dengan masalah memperebutkan cowok tersebut yang sama sekali tidak jelas korelasinya dan logika dasarnya.

Akting dari para pemainnya pun standar dan banyak juga yang tidak dapat memperlihatkan rasa takut yang sangat, mungkin juga karena wujud hantunya lebih terasa laughable daripada seram. Ada salah satu adegan saat seorang siswa diserang oleh hantu dan menderita cedera parah, siswa tersebut tidak tampak kesakitan yang besar dan parahnya lagi beberapa hari kemudian siswa tersebut terlihat sehat walafiat!

Untung saja di akhir film ada sebuah twist yang cukup menarik dan pesan anti bullying, gosip di sekolah yang begitu keji dan menjauhi temannya karena hanya dianggap aneh. Hal-hal tersebut menjadi pelajaran tersendiri bagi penonton khususnya yang masih duduk di bangku sekolah.

Final Verdict:

Jika Anda selama ini takut menonton film horror di bioskop, segera tontonlah film ini!