Film yang Terlalu Ringan dan Dangkal Namun Menghibur dengan Sentuhan Keagungan Visual dari Zhang Yimou
7Overall Score

China sudah menjadi kekuatan ekonomi global dunia, tidak terkecuali dengan pemasukan dari bioskop-bioskopnya yang makin bertebaran di seluruh pelosok China. Bahkan seperti yang dilansir The Guardian, diprediksi China pada tahun 2017 akan menjadi pasar terbesar untuk film-film, bukan lagi di Amerika. Terlihat di Terminator: Genysis, Warcraft dan Transformers: Age of Extinction yang gagal di Amerika tetapi tetap meraih keuntungan yang cukup besar karena sangat sukses di China. Tetapi film-film China sendiri masih belum terlalu sukses di Amerika, maka kali ini dibuatlah The Great Wall yang menggunakan banyak talenta berbakat dari Amerika (Penulis Naskah Bourne, Editor Star Wars: Rogue One, Composer Game of Thrones dan masih banyak talenta lainnya) dan bekerjasama dengan Legendary Pictures yang merupakan salah satu perusahaan media yang berbasis di Amerika.

Matt Damon berperan sebagai William Garin, sang tentara bayaran yang mencari bubuk mesiu hingga ke Timur, bersama teman-temannya, namun suatu ketika monster menyerang mereka dan menyisakan temannya Pero Tovar (Pedro Pascal). Mereka ditangkap oleh pihak Nameless Order yang menjaga Tembok China karena berusaha menyelinap masuk ke wilayah Tembok China dan mereka pun terjebak dalam peperangan antara tentara Nameless Order dengan monster-monster yang ada setiap 60 tahun sekali yang disebabkan karena kerakusan kaisar terdahulu-terdahulu di China.

Banyak yang menduga kalau ini adalah sebuah film yang mementingkan superioritas dari kulit putih, walaupun ada beberapa hal yang terkesan demikian, namun tidak sepenuhnya benar, karena tidak hanya Matt Damon yang heroik, Commander Lin (Jing Tian) dan Strategist Wang (Andy Lau) juga berperan penting terhadap perlawanan kepada monster-monster tersebut. Strategist Wang dengan kharisma, kebijaksanaan dan ketenangannya. Commander Lin dengan keberanian dan kepercayaannya (Xiāngxìn) yang tidak mementingkan harta untuk mengabdi demi negaranya. Karena Lin dengan Xiāngxìn lah yang berangsur-angsur membuat William menjadi sadar apa yang menjadi tujuan hidupnya. Andy Lau dan Jing Tian berperan baik dalam mendalami kedua karakter tersebut.

Segi visual yang saya saksikan di IMAX 3D sungguh luar biasa megah nan epik dengan adegan-adegan peperangan layaknya Lord of The Rings dan World War Z ditambah dengan sentuhan budaya China zaman kekaisaran. Jangan berkedip pula untuk merasakan efek 3D yang seperti keluar dari layar. Mulai dari busur panah yang dilepaskan, kapak atau pedang yang diayunkan hingga monster-monster yang menggigit yang membuat beberapa penonton mungkin secara tidak sadar menghindar supaya tidak terkena. Background dan kedalaman latar yang diberikan menimbulkan pandangan terhadap tembok besar dan padang pasirnya menjadi lebih luas.

Ini adalah film dengan visual khas Zimou yang tentu saja selalu memberikan sentuhan keagungan dari budaya China yang penuh akan warna di film-filmnya yang lain seperti yang dia pernah lakukan di Curse of Golden Flower, Hero, House of Flying Daggers. Sungguh mengejutkan naskahnya ditulis oleh Tony Gilroy yang merupakan penulis dari Bourne, plotnya sungguh biasa, klise dan sangat mudah ditebak dengan beberapa karakter yang under development hingga karakter-karakter stereotipe lainnya yang sering ditemukan di film-film lain. Diluar dari itu, sebuah film ringan yang memang untuk memberikan hiburan spesial dengan efek-efek 3D yang sungguh memukau. Tidak lupa adegan aksi-aksi menegangkan dari tentara biru yang melakukan aksi nekat dengan meloncat dari suatu tiang yang hanya diikat dengan tali tersebut.