Di tengah kemajuan pesat perfilman Indonesia dewasa ini, adaptasi film dari karakter ternama buah karya alm. Bastian Tito ini sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu saja. Tahun ini penantian panjang itu pun berakhir. Rumah produksi Lifelike Pictures, pimpinan Sheila Timothy dengan menggandeng studio film besar hollywood sukses memproduksi film yang diberi judul Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang akan dirilis pada tanggal 30 Agustus 2018 di seluruh Indonesia.

Memilih Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Cahaya Dari Timur) sebagai sutradara sempat membuat dahi mengernyit. Track record Angga yang kebanyakan membuat film drama membuat keputusan para produser menggunakan jasa Angga merupakan hal yang berani dan di luar dugaan. Didukung dengan barisan kru yang sudah punya nama di khasanah produksi film Indonesia, serta popularitas nama Wiro Sableng di seantero Indonesia menjadikan film ini menjadi salah satu yang paling ditunggu penonton film Indonesia di tahun 2018 ini.

Kisah film Wiro Sableng berlatar di Nusantara pada abad 16. Wiro Sableng (Vino G. Bastian), seorang pemuda dan murid dari pendekar misterius bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat titah dari gurunya tersebut untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), mantan murid Sinto yang berkhianat. Dalam perjalanannya mencari Mahesa Birawa, Wiro terlibat petualangan seru bersama dua sahabat barunya, Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi). Pada akhirnya Wiro tidak hanya mengungkap rencana keji Mahesa Birawa, tetapi juga membuka masa lalunya yang membuat Wiro memahami dan lebih mendalami esensi dari seorang pendekar.

Megah, apik, penuh bintang, lucu dan seru. Berbagai ungkapan kata yang bermakna positif tersebut penulis sematkan pada film yang rencananya hendak dijadikan trilogi ini. Tidak sekadar membesar-besarkan, tetapi film ini sejatinya memang memiliki nilai lebih yang pantas untuk dipuji dan dinikmati oleh para penonton film di Indonesia. Meskipun plot cerita yang disajikan terbilang ringan dan sedikit memiliki masalah di sisi perkenalan karakter yang berlimpah, namun sama sekali tidak mengurangi kesenangan yang ditampilkan film ini.

Genre film aksi komedi yang dipilih dan sesuai dengan karakter Wiro yang memang ‘sableng’ ini bertanggung jawab atas pengalaman sinema yang mengasyikan selama 123 menit durasi film. Adegan aksi perkelahiannya digarap berkelas berkat kerjasama koreografi buah karya  hollywood Chan Man Ching (Hellboy II ) selaku Fighting Drector dan Yayan Ruhian (The Raid 1&2) sebagai Action Coreographer. Tata kelahi ini bersinergi dengan sinematografi arahan Ipung Rachmat Syaiful yang tidak hanya mampu menangkap gambar perkelahian dengan baik, tetapi juga menangkap lanskap alam Indonesia yang menawan dan suasana Nusantara abad 16 dengan apik dengan dukungan desain produksi yang menawan karya Adrianto Sinaga.

Keunggulan-keunggulan sisi produksi juga ditampilkan lewat tata kostum yang sangat kreatif dengan mengedepankan sisi tradisional, tata musik yang secara magis mampu mengiringi adegan-adegan dengan sempurna, serta kualitas akting para aktornya yang sangat mumpuni. Vino menjelma menjadi Wiro Sableng yang sempurna, meskipun adegan aksinya masih terlihat agak kagok, namun esensi ‘sableng’ Wiro di awal petualangannya dapat dibawakan dengan baik olehnya. Fariz Alfarizi sebagai Bujang Gila juga tampil menawan, tetapi Sherina jadi yang paling favorit karena mampu menampilkan sosok Anggini yang dingin dan membuat penonton percaya bahwa ia jago berkelahi. Kehandalan sutradara Angga Dwimas Sasongko meramu semua unsur kreatif dalam film ini patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi lebih.

Di luar segala kelebihannya film ini tetap memiliki kekurangan dari sisi kurangnya waktu untuk menggali karakter-karakter yang potensial dan menarik, dapat dimaklumi memang karena durasi film sudah 2 jam lebih. Jumlah karakter yang diperkenalkan terlalu banyak, akibatnya di babak akhir sangat terasa kalau film ini memiliki karakter yang penuh sesak. Selain itu tata suara atau sound editing film ini juga menjadi yang paling lemah. Seringkali terjadi ‘tabrakan’ antara musik latar dan dialog pemain yang mengakibatkan tidak terdengarnya dialog yang diucapkan. Sungguh sangat disayangkan.

Final Verdict

Film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 layak menjadi pilihan tontonan bagi para pecinta karakter Wiro Sableng yang sudah lama menginginkan kehadirannya dalam bentuk film, juga untuk generasi milenial ingin berkenalan dengan Wiro dan juga ingin merasakan hype yang kemungkinan besar akan muncul berkat promosi besar-besaran yang digencarkan oleh produser film ini. Percayalah film ini layak dijadikan event besar dan dapat menjadi tonggak baru film silat klasik Indonesia di tahun-tahun ke depannya.

Film yang sangat layak dijadikan event besar dan dapat menjadi tonggak baru film silat klasik Indonesia di tahun-tahun ke depannya.
8Overall Score
Reader Rating 5 Votes
8.8