Setiap beberapa menit saat menonton 365 Days, saya selalu tertawa dalam diri karena betapa buruknya film ini. Saya tidak membaca novel yang menjadi inspirasi untuk film ini, tetapi saya mengetahui kalau 365 Days adalah sebuah film yang tidak hanya melipatgandakan maskulinitas yang toxic tetapi juga film yang bertele-tele untuk menceritakan apa yang ingin disampaikannya: sebuah film porno.

Maskulinitas yang toxic itu digambarkan pada sebuah karakter yang bernama Massimo. Diperankan oleh aktor sekaligus penyanyi Michele Morrone, Massimo adalah seorang mafia Italia yang memang tampan dengan tubuhnya yang dikatakan “Dipahat oleh Tuhan.” Nahas, pada awal film ia dan ayahnya diserang oleh mafia musuh, dan menyebabkan kematian ayahnya.

Sebelum diserang, ia melihat seorang wanita cantik di pantai yang akhirnya membuat ia terobsesi untuk mencarinya. Semenjak terluka diserang, ia selalu membayangkan wanita asing dan misterius itu. Dan lima tahun kemudian, ia berhasil bertemu dengannya. Dia adalah Laura (Anna-Maria Sieklucka), yang sedang memiliki hubungan yang membosankan dengan pacarnya.

Loading...

Ini bukanlah film romantis, jadi Massimo tidak ingin membuang waktu memenangkan hati Laura. Ia adalah seorang bos mafia, jadi dia langung saja menculik Laura ke kediamannya yang mewah. Ia memberikan Laura waktu 365 hari untuk jatuh cinta kepadanya, dan jika selama setahun Laura memang belum mencintainya, maka ia akan dibebaskan.

Jika ceritanya terdengar tidak masuk akal, maka memang itu yang saya rasakan. Dengan durasinya yang hampir mencapai dua jam, saya harus selalu merasa kebingungan dengan bagaimana cerita yang tidak logis ini bisa berjalan segitu lamanya. Tidak pernah saya berpikir untuk menculik seseorang dan membuatnya untuk jatuh cinta, namun itulah yang dipikirkan oleh Massimo.

Dia adalah apa yang orang-orang sering katakan sebagai toxic masculanity dan film ini juga menggembar-gemborkan sifatnya itu karena ia tampan. Satu adegan yang mengejutkan saya adalah saat ia sedang menaiki pesawat pribadi miliknya, dan entah mengapa ia langsung saja mengajak salah satu pramugarinya dan memaksanya untuk seks oral. Apakah ini bisa tergolong sebagai pemerkosaan? Tetapi setelah itu pramugarinya hanya tersenyum saja dan terlihat puas.

Sifatnya yang sangat buruk itu juga semakin parah dengan tingkah lakunya yang sangat tidak masuk akal dan dialognya yang sangat norak. Dia mengatakan kalau ia tidak ingin menyentuh Laura jika Laura tidak mengijinkannya, tetapi ia juga mencekik dan meraba-raba tubuhnya dan mengatakan kalau dirinya tidak akan bersikap lemah lembut terhadap dirinya. Jadi apa yang ia inginkan, sebetulnya?

Dengan Massimo, 365 Days telah menonjolkan sifat maskulinitas terburuk yang mungkin saja hanya muncul sebagai fantasi di benak pria yang mesum. Melihat seseorang bisa seenaknya menculik seseorang dan memaksanya untuk jatuh cinta dalam waktu setahun hanyalah sebuah fantasi yang cukup berbahaya.

Pada karakter Laura juga 365 Days meromantisir sebuah penculikan. Jika pada film-film yang mengangkat tema penculikan lainnya biasa menggambarkan korbannya sebagai seseorang dengan psikologi yang sudah rusak seiring waktu berjalan, berbeda dengan Laura yang bertingkah biasa saja bahkan sering menggoda Massimo.

Di sini, Laura mungkin ingin digambarkan sebagai seorang korban yang terkena sindrom Stockholm. Sindrom Stockholm adalah sebuah reaksi psikologis yang terjadi saat korban penculikan atau korban sandera menunjukkan tanda-tanda kesetiaan atau simpai kepada pelakunya. Stockholm, film tahun 2018, adalah sebuah film yang berdasarkan kisah nyata dan juga mengangkat tema itu.

Biasanya para korban, sebelum terkena sindrom Stockholm, akan berusaha untuk kabur dan melawan balik. Berbeda dengan Laura yang hanya sedikit saja menunjukkan tanda-tanda perlawanan, dan itupun hanya terjadi pada hari pertamanya. Setelah itu, ia seperti terhipnotis dengan Massimo dan bahkan beberapa kali menggoda Massimo, entah dengan mendekatkan dirinya ke Massimo saat mandi atau dengan berpakaian terbuka ke klub malam.

Tidak hanya ceritanya yang sangat buruk dan karakternya yang memiliki sifat yang sangat tidak kalah buruknya, tetapi saya juga memiliki masalah dengan editing pada film ini. Setiap beberapa adegan, sebuah musik dimulai. Beberapa adegan berlanjut, musik lainnya lagi dimulai. Film ini jadi terasa lebih seperti sebuah video musik yang menampilkan adegan-adegan syur.

Hingga saat tulisan ini ditulis, 365 Days adalah salah satu film yang paling dicari di Netflix meski ini bukanlah film produksi Netflix. Setiap saya membuka aplikasi itu, film ini muncul paling depan. Setiap saya ingin mengetik untuk mencari film, 365 Days muncul paling atas. Saya paham karena pasti banyak penonton yang penasaran dengan film asal Polandia ini. Tetapi sayangnya, saya harus mengatakan kalau sejauh ini, 365 Days adalah film terburuk tahun 2020.

Loading...

Review Film 365 Days (Netflix, 2020) - Fantasi Maskulinitas Erotis yang Sangat Buruk
2Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0