Semula saya mengira judul 7500 mengacu kepada ketinggian pesawat tokoh utama kita akan dibajak, namun rupanya itu adalah sebuah kode yang diucapkan oleh salah satu pilot kepada pemandu lalu lintas udara untuk memberitahu bahwa pesawat yang mereka kendalikan sedang dibajak.

“Apa keadaan darurat Anda?” pemandu lalu lintas udara bertanya.

“Kami memiliki 7-5-0-0,” sang pilot menjawab.

Loading...

Semenjak kejadian teroris 9/11, sungguh sulit rasanya melihat sebuah film baru yang membawa tema pembajakan pesawat oleh sekelompok teroris. Tidaklah mudah melihat sebuah film yang memperlihatkan sebuah kelompok teroris mengambil alih pesawat tanpa membayangkan kejadian kelam itu. Dan 7500, dengan beraninya, menceritakan mirip dengan apa yang terjadi pada kejadian tersebut.

Semua dimulai dengan tenang. Tobias Ellis (Joseph Gordon-Levitt), seorang kopilot muda dan Kapten Michael Lutzmann (Carlo Kitzlinger) sedang bersiap menerbangkan pesawat yang akan lepas landas dari Berlin menuju Paris. Dalam pesawat juga ada kekasih Tobias yang menjadi pramugari, di mana keduanya memiliki seorang anak berusia dua tahun.

Selama 15 menit pertama nuansa film cukup kuat, di mana saya yang menonton benar-benar merasakan seperti di sebuah ruang kokpit bersama kedua pilot yang dengan tenang mengendalikan pesawat, menekan-nekan tombol yang sangat rumit di hadapannya, berbicara istilah-istilah yang tidak saya mengerti. Hanya terdengar suara mesin dan suara tombol yang ditekan, kita fokus dengan bagaimana seorang pilot dan rekannya menerbangkan pesawat.

Namun ini adalah film yang berdurasi 90 menit saja, jadi tidak dibutuhkan waktu lama untuk sebuah insiden terjadi. Di tengah perjalanan, saat pintu ruang kokpit sedang terbuka, sekelompok penumpang menerjang masuk dan menyerang kru pesawat. Tobias berhasil kembali menutup pintu kokpit, namun Michael sudah mengalami luka setelah diserang oleh salah satu penjahat, yang berhasil dibuat pingsan oleh Tobias.

Seperti film Locke, seluruh film berlatar pada satu tempat saja, yakni ruang kemudi dan sang pengendaranya. Selama 90 menit film ini bertumpu dengan penampilan Joseph Gordon-Levitt yang untung saja dapat membuat film ini cukup baik. Dengan Tobias, kita melihat bagaimana dirinya dapat membawa emosi seluruh film seorang diri.

Ini bukanlah film aksi di mana tokoh utama dengan gagahnya melawan seluruh penjahat teroris seorang diri, sembari menerbangkan pesawat. Patrick Vollrath — sutradara dalam film perdananya — ingin membuat film ini senyata dan serealistis mungkin, sehingga kita melihat Tobias dipenuhi emosi yang menyerangnya secara bertubi-tubi.

Dilema juga menjadi tema utama dalam film ini. Selama Tobias sedang berusaha menenangkan diri, pintu kokpit digedor-gedor sang penjahat, yang tentunya tidak bisa dibuka dengan paksa. Mereka pun memulai mengambil sandera dan mengancam untuk membunuhnya jika tidak dibukakan pintunya. Sekarang semuanya berada di tangan Tobias, apakah ia ingin membuka pintu atau tetap patuh dengan aturan?

Bersama dengan Tobias, kita juga diperangkap di sempitnya ruangan kokpit pesawat yang hanya muat tiga orang saja. Dan sama seperti Tobias, kita tidak mengetahui apa yang terjadi di luar ruangan selain depan pintu kokpit yang terlihat lewat kamera. Kita dipaksa menerka-nerka apa yang terjadi dengan penumpang, dan ini salah satu yang membuat 7500 begitu menegangkan. Bagaimana perasaan “tidak tahu” selalu menyelimuti kita.

Saya tentu menyukai betapa “nyatanya’ film ini berjalan, meski saya tidak bisa membayangkan apa yang memang terjadi pada dunia nyata jika sebuah pesawat dibajak oleh sekelompok teroris. Di sini, sama seperti Tobias, saya pun juga dilibatkan secara emosi dan secara tidak langsung ikut berpikir “Apa yang memang sebaiknya dilakukan?” Saya memang menyukai film yang bisa melibatkan diri saya untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang karakter pada suatu film.

Memang ketegangan film selalu menyelimuti diri saya, bahkan hingga film berakhir, namun sayangnya pada pertengahan durasi, cerita film terasa menurun dan kembali menggunakan klise-klise film “pembajakan teroris” yang sudah sering digunakan. Saya tidak ingin terlalu dalam menceritakannya, namun yang sering menonton film dengan tema serupa pasti akan merasa kalau cerita 7500 memiliki kesamaan dengan film-film itu.

Masalah utama saya tidaklah pada cerita, sebenarnya, atau pada karakter utamanya, melainkan saya cemas dengan bagaimana 7500 menggambarkan teroris mereka sebagai sekelompok teroris Islam yang siap menabrakkan pesawat dan mengobarkan diri serta membunuh setiap kru dan penumpang pesawat untuk “membalas kematian saudara-saudari” mereka.

Pada zaman sekarang, penggambaran teroris “Islam yang siap bunuh diri dan mengorbankan orang di sekitarnya” tidak hanya bahaya, namun juga terasa sangatlah basi. Aktivitas mereka selama film ini berjalan tidak terlalu membangkitkan emosi apa-apa karena kurangnya kedalaman pada karakter dan motivasi mereka untuk membajak dan menjatuhkan pesawat. Mereka hanyalah orang jahat.

Kekurangan-kekurangan itu memang menutup potensi yang dimiliki 7500, namun dengan durasinya yang tidak terlalu panjang dan tokoh utama yang sangat mampu membawa cerita seorang diri, ini adalah film yang cepat dan juga intens. Ini juga adalah pertama kalinya saya melihat Joseph Gordon-Levitt yang telah beberapa tahun tidak bermain film, dan itu adalah hal yang baik.

Loading...

Review Film 7500 (2019) - Terorisme di Atas Langit
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0