Sejak awal produksinya, berbagai hal tak menguntungkan selalu menimpa film Artemis Fowl. Film ini terjebak dalam tahap pra-produksi selama kurang lebih dua puluh tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Artemis Fowl telah mengalami beberapa kali pergantian sutradara, penulis naskah, hingga rumah produksi.

Ketika akhirnya Artemis Fowl dijadwalkan untuk tayang di bioskop pada 9 Agustus 2019, Disney yang juga menjadi distributor film ini memutuskan untuk menunda perilisannya hingga Mei 2020. Namun, setelah merebaknya COVID-19, film ini akhirnya dirilis pada 12 Juni lalu oleh Disney melalui Disney+, streaming platform milik studio itu sendiri.

Artemis Fowl adalah film petualangan fantasi yang diadaptasi dari seri novel fantasi karya penulis asal Irlandia, Eoin Colfer, yang amat populer pada tahun 2000-an. Film ini menggabungkan kisah dalam dua novel pertama dari seri fantasi tersebut, masing-masing berjudul Artemis Fowl dan Artemis Fowl: The Arctic Incident.

Loading...

Kenneth Branagh didapuk sebagai sutradara yang mengarahkan film ini berdasarkan naskah garapan Conor McPherson dan Hamish McColl. Sementara itu, termasuk dalam jajaran pemeran Artemis Fowl adalah Ferdia Shaw, Lara McDonnell, Josh Gad, Nonso Anozie, Collin Farrell, Judi Dench, dan Hong Chau.

 

Sinopsis

Artemis Fowl (Ferdia Shaw) adalah anak laki-laki berusia 12 tahun yang jenius dan penuh perhitungan, keturunan dari keluarga yang menjadi otak kriminal tingkat tinggi. Artemis yang ahli dalam teknologi tak pernah benar-benar percaya pada dunia Peri dan sihir yang selalu diceritakan oleh ayahnya. Namun, ketika suatu saat sang ayah menghilang, Artemis mendapati bahwa semua kisah dongeng yang diketahuinya selama ini terbukti nyata.

 

Review

Dua tahun lalu, saya duduk di bangku bioskop hanya dengan teman saya dan empat penonton lain dalam ruangan teater. Itu adalah pemutaran film di bioskop dengan jumlah penonton paling sepi yang pernah saya hadiri.

Pertunjukan film sore itu bukanlah pemutaran tertutup maupun pemutaran di hari-hari terakhir. Film tersebut juga bukan film dengan skala produksi kecil atau film dengan rating terbatas untuk kalangan usia tertentu.

Namun, entah apakah bahkan ada yang menyadari bahwa 2018 lalu, Disney pernah merilis film blockbuster berjudul A Wrinkle in Time tersebut. Mengangkat genre petualangan fantasi yang padat dengan CGI canggih, film itu menelan lebih dari $100 juta untuk biaya pembuatannya.

A Wrinkle in Time berujung menjadi kegagalan total di box office. Ironisnya, novel berjudul sama karya Madeleine L’Engle yang menjadi dasar adaptasi film itu justru adalah kisah fantasi klasik yang berhasil memikat pembaca di eranya, bahkan hingga saat ini.

Kegagalan semacam ini juga menimpa dua film adaptasi Percy Jackson yang juga dikecam oleh para penggemar bahkan penulisnya sendiri. Sebagai penyuka novel fiksi, saya pun bisa memahami rasa kecewa para penggemar ketika studio besar merasa sok tahu tentang cara terbaik mengadaptasi sebuah buku.

Mereka nampaknya selalu berusaha menarik kalangan penonton yang lebih luas dengan mengubah secara drastis banyak bagian penting dari buku. Andai mereka tahu, bahwa formula yang sama yang mereka hilangkan itu sering kali adalah bagian esensial dari novel tersebut yang membuatnya menjadi istimewa dan dicintai para penggemar.

Sungguh menyedihkan saat melihat Disney tak belajar dari kegagalan A Wrinkle in Time dan kembali mengulangi kesalahan yang sama dalam Artemis Fowl. Sutradara Kenneth Branagh seakan telah mendapat instruksi yang sangat jelas dari Disney untuk menyesuaikan film ini dengan visi studio dengan ikon Mickey Mouse itu.

Hasil akhirnya adalah sebuah film yang mengaku versi adaptasi, namun nyaris tak menggambarkan novel aslinya sama sekali. Artemis Fowl versi Disney ini menggerus karakterisasi inovatif dan kecerdikan plot dari karya Eoin Colfer menjadi jalinan kisah kusut yang tak koheren.

Kehebatan dari kisah Artemis Fowl adalah kompleksnya moralitas dalam diri setiap pihak. Namun, Disney membuatnya “terlalu ramah” untuk keluarga hingga Artemis Fowl berakhir seperti dongeng klise yang polos dan kehilangan semua keajaiban dari novel asli Artemis Fowl.

Artemis Fowl yang ditampilkan oleh Disney adalah sosok pahlawan baik seperti pada umumnya yang berusaha menyelamatkan dunia. Padahal, dalam novelnya, ia adalah criminal mastermind muda licik yang lebih menyerupai tokoh antagonis. Meski begitu, motivasinya yang sangat manusiawi membuat para penikmat kisah ini dapat memahami dan bahkan menyukai sosok antihero tersebut.

Sementara itu, tokoh antagonis di film Artemis Fowl justru hadir dalam sosok misterius bertudung dengan nama Opal Koboi (Hong Chau). Dari satu setengah jam durasi film, ia hanya diberi porsi dialog kurang dari sepuluh menit. Selain wajahnya yang tak pernah ditampakkan, penjahat ini juga tampil dengan suara konyol yang telah di-edit hingga terdengar aneh dan sama sekali tidak mengintimidasi.

Salah satu karakter yang cukup menghibur dalam film ini adalah Kurcaci Raksasa Mulch Diggums (Josh Gad). Meski begitu, tiap kali ia beralih menjadi narator, suara beratnya yang terlalu berlebihan dan dibuat-buat membuat saya berharap Gad meminum obat batuk demi bisa mendengar cerita yang ia tuturkan dengan lebih jelas.

Sebagai fokus yang menjalin kerangka cerita, duo penulis naskah McPherson dan McColl menciptakan sebuah benda ajaib bernama The Aculos. Artemis berusaha mendapatkan benda ini dari para Peri sebagai tebusan bagi sang ayah yang diculik oleh Opal Koboi.

Namun, apakah sesungguhnya The Aculos yang dimaksud tersebut? Mengapa benda ini tidak boleh jatuh ke tangan orang yang jahat?

Semua pertanyaan penting itu tak pernah benar-benar dijawab dengan jelas oleh Artemis Fowl. The Aculos di film ini memang tak lebih dari sebuah plot device yang direka untuk kepentingan jalannya cerita semata.

Masalah terbesar Artemis Fowl adalah plotnya yang amat padat, namun diceritakan secara terburu-buru. Transisi dalam setiap babak terjadi begitu cepat, hingga membuat penonton kesulitan mengikuti perubahan dalam alur cerita.

Di satu menit, Artemis Fowl adalah musuh bagi sang polisi peri Holly Short (Lara McDonnell). Di menit berikutnya, mereka telah menjadi kawan. Berbagai perubahan motivasi dari para tokoh ini tidak terjadi secara bertahap, namun lebih menyerupai kilasan. Semua hal yang telah saya disebutkan di atas menandakan bagaimana banyak bagian dari film ini disusun tanpa mengacuhkan logika cerita.

Artemis Fowl mungkin menjadi kekecewaan besar bagi para penggemar novel Eoin Colfer. Tetapi, bahkan bagi mereka yang belum membaca novel aslinya, film ini adalah tontonan 95 menit yang mudah dilupakan dan membosankan.

Saat mengatakan ini, tentu saya tak merujuk pada kualitas teknologi CGI dari film tersebut. Sebagai salah satu perusahaan media terbesar di dunia, tak sulit bagi Disney untuk memastikan kualitas visual terbaik bagi Artemis Fowl.

Biaya pembuatan sebesar $125 juta untuk film ini benar-benar terwujud dalam efek visual yang cermat dan cukup memanjakan mata, terutama pada keindahan Haven City yang menjadi tempat tinggal para peri.

Rangkaian soundtrack Artemis Fowl di sisi lain juga tak begitu mengecewakan. Dengan diwarnai sejumlah melodi tradisional Irlandia seperti latar ceritanya, film ini menunjukkan ciri khas soundtrack Disney yang selalu lekat dengan nuansa sentimental.

Akhir cerita Artemis Fowl memastikan bahwa akan ada sekuel bagi film ini nantinya. Namun, banyaknya tanggapan kurang hangat pada film pertamanya ini, baik dari para penggemar novel Artemis Fowl maupun dari penonton baru, semestinya bisa menjadi evaluasi bagi Disney.

Disney juga mungkin bisa berkaca pada adaptasi seri novel fantasi Harry Potter. Kesuksesan produksi franchise tersebut memperlihatkan bagaimana pembuat film menaruh perhatian pada visi asli dari sang penulis novel yang tentu memahami karyanya lebih dari siapapun.

 

Kesimpulan

Rentetan kemalangan yang menimpa Artemis Fowl sejak tahap pra-produksi seakan telah menjadi pertanda buruk tentang hasil akhir film ini. Didasarkan dari seri novel populer Artemis Fowl, film ini menambah panjang deretan adaptasi novel fantasi yang gagal seperti A Wrinkle in Time (2018), yang juga merupakan produksi Disney, dan seri Percy Jackson.

Film ini mengikis karakterisasi kompleks serta konsep cerita unik dalam karya Eoin Colfer menjadi jalinan kisah yang kusut, tergesa-gesa, dan tak koheren. Bagi penonton yang baru menyaksikan kisah ini, Artemis Fowl menjadi cerita fantasi klise nan membosankan versi Disney. Bagi para pembaca novel aslinya, Artemis Fowl adalah kekecewaan besar.

 

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Artemis Fowl (2020) – Satu Lagi Adaptasi Novel Fantasi yang Mengecewakan
6.5Overall Score
Reader Rating 1 Vote
9.0