Wattpad adalah salah satu medium karya penulisan yang cukup digemari para pembaca novel atau cerpen di era digital ini. Salah satu yang menjadi karya favorit remaja Indonesia adalah karya berjudul Dignitate karangan Hana Margaretha yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku dan kini diadaptasi ke layar lebar oleh rumah produksi MD Pictures.

Memakai jasa Fajar Nugros sebagai sutradara sekaligus penulis naskah dan memasangkan bintang muda Al Ghazali dan Caitlin Halderman sebagai peran utama didukung oleh kehadiran Giorgino Abraham, Teuku Ryzki, Sophia Latjuba, Lania Fira, Sonia Alyssa dan Dinda Kanya Dewi, film Dignitate direncanakan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 23 Januari 2020.

film Dignitate

Loading...

Sinopsis

Alana (Caitlin Halderman) kembali harus berpindah sekolah demi mengikuti pekerjaaan sang Mami (Izabel Jahja). Di sekolah yang barunya ini, Ibu Alana ingin anaknya duduk sebangku dengan siswa terpandai di sekolah. Alfi (Al Ghazali) pun terpilih untuk duduk sebangku dengan Alana. Alfi adalah siswa terpandai di sekolah dengan sikap kaku, watak keras dan terkenal dengan julukan GGS, Ganteng-Ganteng Seram. Alana yang berusaha keras mencairkan hubungannya dengan Alfi selalu gagal dan menganggap Alfi pria yang kasar pada wanita.

Lama kelamaan, usaha Alana yang dibantu Keena (Teuku Ryzki) pun berhasil, Alfi makin melunak dan tidak bersikap kasar lagi. Keduanya mulai dekat, apalagi Mami Alana melihat sosok Alfi sebagai pria yang bisa melindungi dan mempengaruhi Alana menjadi murid pintar. Namun kehadiran sosok Regan (Giorgino Abraham), orang dari masa lalu Alana mengacaukan suasana, dan siapa sangka, Regan juga memiliki masalah di masa lalu dengan Alfi dan ibunya (Sophia Latjuba).

Ulasan

Genre drama remaja dengan bumbu roman adalah komoditas potensial di ranah industri perfilman Indonesia apabila digarap dengan baik, dekat dengan keseharian serta mampu membuat baper penonton film Indonesia yang mayoritas berusia remaja. Dignitate memiliki potensi itu, apalagi ditangani oleh sutradara yang sukses menyutradarai film Cinta Brontosaurus dan Dwilogi Yowis Ben dalam sosok Fajar Nugros.

film Dignitate

Memakai naskah yang ditulisnya sendiri berdasarkan novel Dignitate karya Hana Margaretha, Nugros mencoba merangkai kisah Alfi dan Alana dari awal pertemuan mereka semanis mungkin. Sayangnya chemistry keduanya tidak berhasil dihidupkan oleh Al Ghazali yang meskipun terlihat sudah berusaha keras membuat karakternya simpatik, tetapi terbilang gagal dengan air muka kaku dan minim ekspresi.

Alana yang berulang kali mencairkan suasana dengan karakterisasi yang dibawakan secara apik  oleh Caitlin Halderman terasa sia-sia. Penulis malah merasa chemistry baik dihantarkan oleh interaksi Keena dengan Alana atau malah saat konflik antara Alana dengan Regan. Al terbilang hanya sukses menghantarkan emosi saat bertemu dengan Regan, karena sikap ‘nyolot’-nya terlihat natural.

Plot yang dirangkai cukup baik di paruh pertama, sedangkan paruh kedua seperti kebingungan hendak menyelesaikan film ke arah mana. Film menjadi bertele-tele membahas berbagai konflik yang kompleks antara Alana dengan ibunya, konflik Alana dengan Alfi, serta masa lalu keluarga Alfi yang menjadi latar belakang penting dari keseluruhan film. Masa lalu yang berkaitan dengan kehormatan keluarga Alfi ini terasa tidak terjelaskan dengan baik di dalam film. Apa sih sebenarnya yang membuat keluarga Alfi kehilangan kehormatan? Dan apa efeknya? Sepanjang film keluarga Alfi masih memiliki nama baik dan masih terlihat berkecukupan.

film Dignitate

Penulis merasa ada yang miss dari penulisan naskahnya, planting soal kehormatan keluarga yang selalu didengungkan di akhir film terasa seperti ungkapan kosong dan menjadi motivasi yang mengada-ada saja. Sungguh disayangkan karena konflik antara Alfi-Alana-Regan dan dibumbui kehadiran Sabitha (Lania Fira), teman sekolah Alfi dan Alana yang muncul tiba-tiba di tengah film ini cukup potensial jika diceritakan dengan lebih baik lagi.

Dari sisi teknis, kehandalan Nugros dalam menyutradarai film tentunya tidak usah diragukan lagi. Kerjasamanya dengan sinematografer Robie Taswin (Filosofi Kopi, Menunggu Pagi) cukup baik menangkap gambar cantik dan makna film dengan penggunaan color palette di tiap-tiap mood emosi karakter yang terencana.

film Dignitate

Pemilihan lokasi menjadi sedikit mengganjal saat para siswa menjalani study tour, pantai yang dipilih terasa kurang cantik. Entah apakah ini semacam simbolik dari hubungan Alfi dan Alana yang memang indah di awalnya atau bagaimana, penulis kurang bisa memahami alasan penggunaan lokasi tersebut selain untuk kebutuhan cerita. Secara umum kru film bekerja dengan cukup baik meski tidak ada yang menonjol. Dari mulai tata artistik, tata suara, tim make up dan wardrobe sampai ke penyuntingan dan penata musiknya.

Dari sisi akting, selain Caitlin Halderman (Surat Cinta Untuk Starla, Ada Cinta di SMA) yang bermain gemilang dan luwes, Teuku Ryzki (Ada Cinta di SMA, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu) juga berperan baik sebagai karakter sidekick yang kocak dan kadang memberi masukan-masukan bijaksana bagi sahabatnya Alfi. Al Ghazali (Runaway, L.D.R.) sendiri nampak bagus saat berakting jutek dan nyolot, namun kesulitan untuk terlihat luwes dan friendly, seperti masih menjaga image cool-nya.

film Dignitate

Sementara Giorgino Abraham (Bumi Manusia, Bebas) tidak usah diragukan lagi kualitasnya dalam memerankan karakter stereotipikalnya ini. Sudah saatnya dia mencoba peran lain sebagai protagonis. Sedangkan Sophia Latjuba (Mereka Yang Tak Terlihat, I am Hope), Izabel Jahja, Lania Fira, Sonia Alyssa (Mahasiswi Baru) dan Dinda Kanya Dewi (Hangout, Daysleepers) cukup memberikan pengaruh dalam jatah waktu tampil yang minim.

Kesimpulan Akhir

Film Dignitate memiliki potensi konflik menarik yang sayangnya diceritakan lewat naskah yang kurang tertata rapi. Diawali dengan cukup baik, sayangnya paruh kedua film terasa bertele-tele seperti kesulitan mengakhiri kisahnya. Caitlin Halderman, Teuku Ryzki dan Giorgino Abraham mampu memberikan penampilan terbaiknya dan membantu Al Ghazali yang terasa kesulitan mengimbangi perkembangan karakternya. Bukan karya terbaik dari MD Pictures tapi sepertinya Dignitate masih sanggup membuat pembaca novelnya baper sesekali.

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Dignitate (2020) – Drama Remaja Yang Mencoba Manis Tapi Terlalu Kompleks Dan Bertele-tele
5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
8.7