Terkadang jika sebuah film sudah terasa sangat intens, sangat mudah untuk mengabaikan apakah apa yang terjadi di dalam film masuk akal atau tidak dan itulah yang saya rasakan dengan Greyhound, film perang terbaru dari sutradara Aaron Schneider dan aktor Tom Hanks yang juga berperan sebagai penulis naskah.

Diadaptasi dari novel tahun 1955 berjudul “The Good Shepherd” oleh C. S. Forester, Greyhound berlatar pada tahun 1942, saat awal Amerika Serikat terlibat dalam Perang Dunia II. “Greyhound” merupakan nama julukan untuk USS Keeling, sebuah kapal perang Amerika Serikat yang dipimpin oleh Kapten Ernest Krause (Tom Hanks).

Greyhound memimpin “Convoy HX-25”, sebuah konvoi besar Sekutu yang berisikan 37 kapal pasukan dan perbekalan serta 4 kapal perang ringan yang terdiri dari beberapa kapal perang asal Inggris. Tujuannya adalah Liverpool, Inggris dan untuk mencapai Liverpool, konvoi tersebut harus melintasi luasnya Samudra Atlantik.

Loading...

Tantangan bagi konvoi ini adalah terdapat sebuah area di Samudra Atlantik yang dinamai “Black Pit”, di mana pada area tersebut konvoi yang dipimpin oleh Greyhound tersebut berada di luar jangkauan perlindungan udara dan juga rentan terhadap serangan dari kapal selam U-Boat milik Jerman. Perlindungan udara selanjutnya akan tersedia pada 50 jam kemudian, sehingga perlindungan konvoi benar-benar tergantung dengan beberapa kapal perang saja.

Apa yang sangat saya sukai adalah betapa minimalisnya film Greyhound ini. Hampir seluruh film hanya bertempatan pada kapal Greyhound, dan film ini hanya berjalan selama 90 menit saja. Jika kalian berpikir film ini akan terasa sangat kurang, maka kalian salah karena bung, film ini mampu mengolah minimalis itu dengan kecepatan film dan adegan yang sangat intens.

Ini adalah contoh film yang mengetahui kalau perang adalah makanan utamanya, sehingga hampir seluruh 90 menit dihabiskan dengan penuh adegan yang sungguh menegangkan tanpa basa-basi, bahkan mungkin saja film paling seru yang saya tonton akhir-akhir ini karena berhasil membuat saya duduk tegak dari awal hingga akhir. Memacu adrenalin? Tentu saja!

Sungguh, film ini tidak pernah sekalipun menyia-nyiakan waktunya. Dari awal, bahaya sudah menyelimuti konvoi tersebut. Dari saat pertama bertemu dengan kapal U-Boat pertama hingga bertemu dengan U-Boat untuk yang kesekian kalinya pada pengujung film, tidak pernah sekalipun Greyhound dan kapal perang lainnya beristirahat, dan begitu juga dengan saya yang selalu terpacu adrenalin saya sembari menunggu bahaya apalagi yang akan ditemui mereka.

Salah satu hal yang membuat film ini sungguh intens adalah musiknya. Dengan Blake Neely sebagai komposernya, musik di dalam film terpadu dengan sempurna dengan setiap adegannya. Saat bahaya sudah semakin mendekat dan terlihat tidak bisa dihindari, musik di filmnya semakin lama semakin naik nadanya yang akhirnya meledak menjadi sebuah alunan musik yang penuh energi.

Tetapi apa yang menjauhkan film ini dari kata sempurna adalah tidak adanya kedalaman karakter, terutama dengan tokoh utamanya. Tom Hanks memerankan Kapten Ernest Krause, komandan kapal Greyhound dan pemimpin konvoi. Dengan hanya 90 menit saja dan hampir seluruh film berpusat dengan perang antar kapal, memang jarang filmnya untuk menghabiskan waktunya dengan Ernest dan benar-benar mendalami karakternya.

Pada masa lalu, sebelum ia berangkat, Ernest bertemu dengan Evelyn (Elisabeth Shue), pacarnya. Tidak ada cerita apapun dengan keduanya, hanya Evelyn memberikan Ernest kado berupa sandal selop dan kalau Ernest ingin menikahi Evelyn tapi harus menerima penolakan karena menunggu perang usai. Adegan yang cukup singkat itu tidak memberikan apa-apa selain perasaan bingung, siapa Evelyn ini dan apa hubungan mereka sebelumnya?

Tidak hanya itu, beberapa adegan yang menggunakan CGI memang masih bermasalah dan mengeluarkan saya dari pengalaman menonton. Tidak, adegan yang saya maksud bukanlah adegan saat kapal saling tembak-menembak. Adegan itu masih sangat seru, dan saya tidak masalah sedikitpun.

Adegan yang saya maksud adalah ada saat Ernest berbicara dengan salah satu anak buahnya di luar kapal pada malam hari serta diterangi cahaya bulan, dan adegan itu terlihat bohongan dengan aktor dan latar belakangnya yang tidak menyatu dan membuat saya berpikir, mengapa film dengan anggaran yang cukup besar ini masih membuat adegan seperti itu terlihat kurang meyakinkan? Mungkin film ini memiliki beberapa alasan dan saya tidak akan pernah mengetahuinya.

Namun kekurangan-kekurangan itu masih sangatlah kecil dibandingkan dengan keseruan yang saya dapatkan dari Greyhound. Menegangkan, instens, cepat dan juga efektik, Greyhound juga menjadi film yang dengan sempurna mengembalikan Aaron Schneider sebagai sutradara yang sudah lama tidak membuat film (film terakhirnya, Get Low, dirilis pada 2009) dan juga kembali meyakinkan Tom Hanks sebagai penulis film yang lihai.

Loading...

Review Film Greyhound (2020) - Tom Hanks dan Kapal Perang di Samudra Atlantik
9Overall Score
Reader Rating 3 Votes
6.2