Bertepatan dengan Hari Raya Kemerdekaan Indonesia, Netflix meluncurkan film kedua original produksi tanah air. Setelah The Night Comes for Us yang dirilis dua tahun lalu, kini layanan streaming raksasa itu mengeluarkan film komedi Guru-Guru Gokil atau yang juga dikenal dengan Crazy Awesome Teachers.

Dalam film yang disutradarai oleh Sammaria Sari Simanjuntak (Demi Ucok) ini, kita diceritakan oleh seseorang yang bernama Taat Pribadi (Gading Marten). Dari awal film, ia mengatakan ia sangat menyukai uang dan paling membenci guru. Ironis, karena ayahnya adalah seorang guru dan Taat selalu kesulitan saat mencoba peruntungannya di kota.

Setelah gagal, ia kembali ke kampung desanya untuk mencari pekerjaan. Ayahnya masih tidak terlalu memerhatikan dirinya, dan ia masih kesulitan mencari pekerjaan hingga ia akhirnya tertarik untuk bekerja di kapal syarat. Namun ada syaratnya: Ia harus menyiapkan dana sebesar 50 juta terlebih dahulu.

Loading...

Tanpa duit, ia rela bekerja apapun di desa guna mendapatkan 50 juta tersebut. Dan hanya ada satu lowongan yang ia temui di desanya, menjadi guru pengganti di sekolah tempat ayahnya mengajar dan dirinya menimba ilmu. Jadi iya, ironis.

Saat Taat kembali ke sekolah, yang kini menjadi guru, mungkin adalah momen-momen terbaik film ini. Dengan lelucon-lelucon antara guru dan murid serta beberapa karakter pembantu yang jenaka: Rahayu (Faradina Mufti), Manul (Boris Bokir), Ipang (Kevin Ardilova) dan Nirmala (Dian Sastrowardoyo, yang juga sebagai produser film), humor film menjadi lebih hidup dan cerita menjadi lebih kuat.

Dan menariknya, karakter terbaik film ini bukanlah Taat dan Rahayu, dua karakter yang lebih sering muncul, melainkan Manul dan Nirmala, dua karakter lainnya yang meski tidak muncul sesering karakter utamanya namun dapat membuat sebuah adegan menjadi lebih terasa. Manul, dengan tingkahnya yang sering kaku dan rambut belah tengahnya serta Nirmala yang hamil dan sering lupa apa yang ingin dilakukannya justru menjadi hidup dalam humor film ini.

Namun justru apa yang saya sayangkan adalah film ini tidak memusatkan perhatian ke bagian terbaiknya, melainkan sering membagi-bagi waktunya ke beberapa cerita-cerita kecil miliknya, yang akhirnya malah mengaburkan cerita utamanya.

“Tugas utama ngajar ga boleh ketinggalan,” ucap Taat dalam film, namun justru itu yang terjadi di Guru-Guru Gokil. Seperti salah satu cerita sampingannya, yang semakin lama semakin membesar dan malah melebur menjadi cerita utama pada akhir film, yaitu perampokan yang terjadi di sekolah.

Saat Taat sedang berbicara dengan Gagah (Ibnu Jamil), guru sekolah lainnya, dua perampok memasuki sekolah dan membawa kabur seluruh duit gaji guru. Gagah terluka, dan Taat tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat kedua perampok itu kabur bersama dua kawannya yang sudah siap dengan motor.

Alur perampokan yang dimilikinya tidak hanya terasa tidak matang, namun juga tidak terasa seru. Pak Le (Kiki Narendra), atasan dari regu penjahat di dalam film, juga adalah karakter antagonis yang tidak hanya klise namun juga sangat tidak alami dengan sisa karakter maupun cerita, digambarkan sebagai penjahat yang tidak segan-segan membunuh orang yang gagal menjalankan tugasnya atau yang menghina cincin yang dikenakannya.

Cerita perampokan ini bukanlah satu-satunya cerita sampingan yang mengacaukan narasi, apalagi akhir ceritanya yang sungguh konyol, bahkan untuk film komedi sekalipun. Di film ini kita juga diceritakan bagaimana Taat masih kesulitan untuk mendapati perhatian dari ayahnya, Purnama (Arswendy Bening Swara) atau yang biasa dipanggil Pak Pur.

Hubungan antara Taat dan ayahnya yang renggang memang bisa menjadi sesuatu titik emosional dalam film, tetapi sayangnya film ini kurang menjelajahi hubungan keduanya, dan puas dengan minimnya waktu yang benar-benar memusatkan hubungannya dan malah meninggalkan kesan terburu-buru.

Saat-saat awal Guru-Guru Gokil memang terasa menjanjikan, menggambarkan kehidupan Taat yang penuh canda tawa selama mengajar di sekolah itu. Namun selama film berjalan, Guru-Guru Gokil terlihat tidak yakin bagaimana menyeimbangkan nada kelam dan berat dengan nada kocak dan ringan, menghasilkan cerita yang hasilnya hanya setengah-setengah saja.

Loading...

Review Film Guru-Guru Gokil (Netflix, 2020) - Cerita Rampok yang Kurang Menarik dengan Latar Guru
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0