Sulit rasanya untuk membuat ulang sesuatu yang sudah bagus, dan itulah agenda Disney saat ini yang terlihat ingin membuat ulang seluruh film animasi miliknya menjadi sebuah film live-action, dengan Mulan menjadi film terakhirnya dan sepertinya bukan film terakhir yang akan dibuat ulang.

Tetapi Mulan berhasil. Setidaknya bisa saya katakan lebih memuaskan dari beberapa film remake terbaru Disney seperti Dumbo dan The Lion King yang sama-sama keluar pada tahun lalu. Dengan visualnya yang indah, aksinya yang cukup memukul keras dan ceritanya yang tetap mengena meski tidak sekuat animasinya, Mulan berhasil.

Kisahnya tidaklah jauh berbeda dengan animasinya. Hua Mulan (Liu Yifei) adalah seorang perempuan yang semenjak masa kecilnya (diperankan oleh Crystal Rao saat masih kecil) sangatlah aktif dan sering berlari ke sana kemari, hingga mengejar sebuah ayam sampai ke atas atap dan merusak barang-barang di sekitar yang menjengkelkan warga kampungnya dan membuat malu keluarganya karena pada zaman itu tugas wanita hanyalah untuk “Diam. Tenang. Anggun. Elegan. Sopan.”

Loading...

Hingga pada suatu hari saat Suku Rounan yang dipimpin oleh Bori Khan (Jason Scott Lee) dan pendampingnya yang merupakan seorang penyihir Xian Lang (Gong Li) menyerbu Tiongkok. Sang Kaisar (Jet Li) mengeluarkan sebuah dekret yang mengharuskan setiap keluarga untuk mengikutsertakan satu anggota keluarga pria untuk ikut ke dalam militer dan membantu menahan serangan dari Suku Rounan.

Di sinilah dilema untuk Mulan dimulai. Di dalam keluarganya hanya ayahnya, Hua Zhou (Tzi Ma), saja yang memenuhi syarat. Seluruh keluarganya terdiri dari perempuan, termasuk ibunya (Rosalind Chao) dan adiknya (Xana Tang). Tetapi ayahnya yang merupakan seorang veteran kini tengah dalam kondisi yang tidak layak untuk ikut perang, dengan salah satu kakinya yang tidak bisa bergerak secara bebas dan memerlukan tongkat untuk berdiri ataupun berjalan.

Mulan, mengetahui kondisi ayahnya yang tidak memungkinkan untuk ikut perang, menyelinap dari rumahnya pada malam hari, mengambil pedang dan baju pelindung ayahnya, mengambil kuda dan pergi meninggalkan rumah untuk menyamar menjadi laki-laki dan mendaftarkan diri menjadi tentara agar bukan ayahnya yang perlu mendaftar.

Dengan Mulan, sutradara Niki Caro mencoba untuk tetap berpegang teguh pada inti cerita dengan versi film animasinya tetapi juga ingin menjadikan Mulan sebagai sesuatu yang baru. Dengan begitu ia menghilangkan elemen musikal pada film ini. Tidak lagi kita mendengar lagu “I’ll Make a Man Out of You” saat Mulan sedang berlatih.

Kini Mulan lebih memusatkan kepada setiap aksi bertarungnya yang bisa saya katakan cukup seru untuk sebuah film Disney. Memang tidak ada darah karena ini adalah film keluarga, meski pedang sudah menusuk dada atau menebas leher, tetapi setiap koreografi dan setiap dentingan pedang bergerak sungguh mulus dan baik sehingga membuat setiap aksi perang di dalam film cukup menggertakkan.

Film ini juga cukup indah untuk dilihat, dengan dekorasi eksterior kerajaan yang megah dan interior desa yang warna-warni. Dan juga dengan pakaian setiap karakternya, mulai dari pakaian prajurit yang terlihat mewah dan juga gagah, pakaian dari prajurit Rounan yang gelap dan mengintimidasi hingga pakaian Mulan sendiri yang sederhana namun elegan dengan warna merah dominan. Jika film ini bertujuan untuk memanjakan mata, maka saya dengan lapang dada mengatakan mereka berhasil!

Tetapi saya merasakan kejanggalan pada Mulan dan itu adalah pada elemen komedi yang sungguh padam. Tidak lagi film terasa ceria seperti animasi pendahulunya. Suasana seluruh film terasa sungguh serius dan kelam, meski saja ada beberapa kali karakter berupaya untuk melontarkan lelucon yang terasa setengah-setengah saja.

Dan itulah yang kurang dari film live-action ini, karena jika kita mengingat animasi Mulan maka kita mengetahui kalau film tahun 1998 itu berhasil memadukan keseriusan yang cukup berat (seperti status seorang wanita yang hanya berperan sebagai pendukung pria) dan komedi yang membuat film terasa ringan dan menyenangkan. Tidak dengan film ini.

Namun Mulan masih berhasil membawakan tema yang berat, menyinggung topik kalau wanita bisa melakukan hal yang bisa pria lakukan, bahkan bisa lebih baik. Dan jika film ini memang dibuat dengan tujuan untuk memiliki nada yang lebih serius, maka mereka berhasil. Tidak lagi kita akan bernyanyi bersama karakter di dalamnya, melainkan terkesima melihat setiap lompatan, setiap tebasan dan setiap berlari-di-dinding yang tentunya sungguh seru.

Loading...

Review Film Mulan (2020) - Remake Disney yang Lebih Memuaskan dari yang Lainnya
7Overall Score
Reader Rating 2 Votes
9.4