Sutradara dan penulis naskah Eliza Hittman mempersembahkan film feature ketiganya pada publik dengan judul yang unik dan mengundang rasa ingin tahu: Never Rarely Sometimes Always. Hittman menuai tanggapan positif atas dua karyanya terdahulu, It Felt Like Love (2013) dan Beach Rats (2017), yang memiliki tema sinematik serupa dengan filmnya kali ini.

Dalam Never Rarely Sometimes Always, Hittman sekali lagi berusaha mengeksplorasi isu sosial yang relevan lewat kisah personal seorang gadis muda. Film berdurasi 101 menit ini memperoleh penghargaan dalam berbagai festival film, termasuk di Sundance dan Berlin.

Menampilkan Sidney Flanigan dan Talia Ryder sebagai dua pemeran utamanya, Never Rarely Sometimes Always juga dibintangi oleh Théodore Pellerin, Ryan Eggold, dan Sharon Van Etten. Meski awalnya direncanakan untuk tayang di bioskop, film ini akhirnya dirilis sebagai video on demand pada 3 April lalu.

Loading...

 

Sinopsis

Autumn Callahan (Sidney Flanigan) mengalami sebuah perubahan besar tak terduga di hidupnya pada usia 17 tahun ketika ia mendapati bahwa dirinya hamil. Autumn, yang tak siap untuk menjadi ibu, memutuskan bahwa aborsi adalah solusi yang akan ia ambil. Dengan bantuan dari sepupunya, Skylar (Talia Ryder), Autumn harus menghadapi beragam lika-liku dalam dunia yang keras untuk menemukan jalan keluar atas permasalahannya.

 

Review

Segera setelah film dibuka, nampak jelas bahwa Never Rarely Sometimes Always adalah jenis film yang membutuhkan kondisi emosi prima saat menontonnya. Banyak momen dalam film ini yang sangat emosional hingga terkadang membuat saya kesulitan untuk mencerna.

Selama menontonnya, tanpa sadar saya beberapa kali mengernyitkan dahi. Hal ini terjadi tiap saya merasa terlempar dalam tubuh Autumn Callahan dan seakan bisa ikut memahami kekalutannya.

Never Rarely Sometimes Always memberikan penggambaran realistis tentang betapa dunia kadang bisa berlaku sangat keras pada remaja, terlebih bagi wanita muda. Hittman menuturkan hal ini bukan dengan cara yang mendikte, namun lewat narasinya yang terasa begitu nyata.

Dalam prolog Never Rarely Sometimes Always, seorang remaja laki-laki menyerukan umpatan merendahkan pada Autumn yang sedang tampil dalam acara pentas seni sekolah mereka. Meski terusik dengan insiden ini, Autumn melanjutkan penampilannya.

Namun, dari detik pertama kamera menyorot Autumn, kita bisa merasakan ada sesuatu yang membedakannya dari anak-anak lain. Ekspresi wajah gadis itu nyaris selalu nampak sendu, seakan sebuah kegelisahan besar sedang menghantui pikirannya.

Kegelisahan Autumn akhirnya terbukti setelah ia mengetahui bahwa ia mengandung janin yang telah berusia sepuluh minggu. Gadis berusia 17 tahun itu berusaha menggapai jalan keluar tercepat yang dapat menghindarkannya dari permasalahan lebih besar: aborsi.

Autumn dan sepupunya, Skylar, kemudian melakukan sebuah perjalanan tak terencana melintasi batas negara bagian hingga ke New York untuk mencari klinik yang bisa membantu mereka. Mereka terdampar di kota metropolitan itu dengan uang yang terbatas dan tanpa mengenal siapapun di sana.

Kita dibawa mengikuti Autumn dan Skylar selama mereka terlunta-lunta di kereta subway, restoran, game center, tempat bowling, terminal bus, toko roti, trotoar, hingga tempat karaoke. Tersesat di tengah kota New York selama beberapa hari, keduanya mencoba tegar dan meyakini bahwa harapan yang mereka cari masih belum pudar.

Pergantian latar cerita dan waktu ini ditampilkan lewat berbagai shot yang begitu estetik secara visual. Ada cukup banyak juga close up shot yang membuat kita bisa mengamati dari dekat ekspresi dan perasaan para tokoh.

Setelah melalui perjalanan penuh bahaya itu, Autumn tiba pada titik akhir ketika ia kembali dihadapkan pada ketakutan terbesarnya yang menyebabkan semua kekacauan itu. Seluruh penderitaan Autumn terangkum dalam sebuah pertanyaan sederhana dari petugas klinik: “Never, Rarely, Sometimes, Always?”

Fokus dari Never Rarely Sometimes Always adalah tentang bagaimana wanita kerap kali menempati posisi yang rentan dalam masyarakat. Pesan ini tergambar dari sosok ayah Autumn yang misoginis, bos Autumn dan Skylar yang gemar mencium tangan kedua gadis itu tanpa mereka kehendaki, hingga pria mesum yang berperilaku tidak sopan pada Autumn dan Skylar di dalam kereta.

Ada pula sosok remaja bernama Jasper (Théodore Pellerin) yang tak pernah secara terang-terangan mengusik Autumn dan Skylar dalam cerita. Namun, karakternya seakan dimaksudkan oleh Hittman sebagai simbol dari ketidakberdayaan kedua gadis itu.

Sementara itu, hampir di sepanjang film, Autumn hanya mengucapkan satu dua patah kata saat berinteraksi dengan tokoh lain. Bahkan interaksinya dengan Skylar, satu-satunya sosok yang dipercaya oleh Autumn selain ibunya sendiri, jarang terjadi.

Meski demikian, Hittman rupanya menyadari bahwa tak butuh banyak kata-kata untuk menggerakkan hati penonton. Ikatan emosi antara Skylar dan Autumn tergambar kuat lewat tatapan mata keduanya pada satu sama lain.

Besarnya cinta dan dukungan Skylar pada Autumn adalah satu dari banyak hal yang saya kagumi dari film ini. Di satu titik dalam cerita, Skylar terpaksa menanggapi kontak fisik dari Jasper demi bisa mendapatkan ongkos pulang untuk dirinya dan Autumn. Dari sisi lain pilar tempat Skylar dan Jasper berdiri, Autumn menautkan jarinya dengan jari Skylar.

Meski tak ada kata yang terucap, kasih sayang yang tulus mereka pada satu sama lain mengalir lewat gestur kecil itu. Momen penuh kehangatan ini menunjukkan keindahan yang terjadi ketika wanita saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.

Begitu banyak makna yang termuat dalam film Never Rarely Sometimes Always. Penampilan akting mengesankan dari dua bintang muda utamanya, Flanigan dan Ryder, memungkinkan film ini untuk menyampaikan setiap pesan hingga meresap ke dalam hati penonton.

Tak sulit memahami alasan para juri di Festival Film Sundance menganugerahkan penghargaan “Neo-Realism” pada Never Rarely Sometimes Always. Autumn dan Skylar adalah representasi dari ketangguhan wanita dalam menghadapi perilaku misoginis hingga pelecehan dan kekerasan yang kerap muncul dalam kehidupan mereka.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa lingkungan sosial saat ini telah menciptakan keamanan dan kesetaraan bagi wanita. Namun, Never Rarely Sometimes Always membuktikan bahwa pandangan ini jauh dari realitas. Bukan dengan cara yang sok tahu dan paling benar, film ini justru berusaha menampilkan kenyataan sebagaimana adanya.

Autumn mungkin hanyalah tokoh fiktif, tetapi berbagai kepingan dalam kisahnya adalah pengalaman yang tak pernah disuarakan oleh banyak wanita lain di dunia ini.

 

Kesimpulan

Never Rarely Sometimes Always merayakan kekuatan wanita lewat narasi kelam yang berbeda dari fim bertema feminisme kebanyakan. Dengan penceritaan bergaya realistis, film ini merefleksikan isu sosial penting yang menempatkan wanita pada sentral ceritanya.

Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film ini, Eliza Hittman tak pernah berusaha mendikte penonton terkait moralitas dalam isu yang ia angkat. Film karya Hittman ini justru menggugah kita untuk merenungkan sendiri isu tersebut lewat sudut pandang para tokoh utamanya.

 

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Never Rarely Sometimes Always (2020), Portret Menggugah dan Realistis tentang Ketangguhan Wanita
8.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0