Perang Dunia menjadi salah satu peristiwa yang tak habis-habisnya menjadi bahan cerita adaptasi untuk berbagai film. Resistance adalah salah satu film bertema Perang Dunia paling hangat yang baru dirilis secara on demand pada 17 April lalu. Film ini sempat merajai box office Amerika Serikat pada penayangan teatrikalnya sejak 27 Maret 2020 sebelum akhirnya dihentikan karena COVID-19.

Resistance terwujud melalui kolaborasi sembilan perusahaan film dari tiga negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Jonathan Jakubowicz menjadi sutradara sekaligus penulis naskah bagi film berdurasi 120 menit ini.

Loading...

Sementara itu, karakter sentral dalam Resistance, Marcel Marceau, diperankan oleh Jesse Eisenberg. Film ini juga menampilkan Clémence Poésy, Matthias Schweighöfer, Ed Harris, Félix Moati, Vica Kerekes, dan Bella Ramsey.

 

Sinopsis

Pada masa awal Perang Dunia II, ribuan anak Yahudi menjadi yatim piatu setelah orangtua mereka dibunuh. Sementara itu, Marcel Marceau, seorang pemuda Yahudi di Prancis yang berprofesi sebagai pantomimer menghabiskan sebagian waktunya sebagai sukarelawan di tempat penampungan anak-anak Yahudi tersebut.

Ketika akhirnya Jerman berhasil menguasai sebagian besar wilayah Front Barat, termasuk Prancis, Marcel Marceau pun tergerak untuk berbuat lebih banyak bagi anak-anak asuhannya. Bersama dengan kelompok perlawanan bawah tanah di Prancis, ia berusaha menyelundupkan anak-anak yatim Yahudi itu melewati mara bahaya ke negara Swiss yang lebih aman.

 

Review

Resistance bukanlah film pertama yang memadukan genre perang dengan biografi. Beberapa film perang terbaik yang pernah dibuat justru menempatkan adegan pertempuran brutal hanya sebagai latar dari kisah utamanya yang berfokus pada satu karakter sentral. Karakter ini kerap kali terinspirasi dari sosok asli di dunia nyata yang memang benar-benar memainkan peran signifikan saat momen bersejarah itu terjadi.

Kisah-kisah heroik dalam konteks perang menjadi jenis tema yang sulit untuk tidak disukai. Para pahlawan ini hanyalah orang-orang biasa yang cukup berani membahayakan diri mereka sendiri demi hidup orang lain. Siapa sih, yang tidak akan tersentuh saat melihat bahwa masih ada harapan dan kebaikan di tengah kekejian masa perang?

Lihat saja sosok Oskar Schindler, pria Jerman dalam Schindler’s List (1993) yang alih-alih berpihak pada negaranya, justru menyelamatkan ribuan orang Yahudi dengan cara merekrut mereka sebagai para pekerja di pabriknya. Atau, Desmond T. Doss dalam Hacksaw Ridge (2016), tentara medis yang seorang diri berhasil menyelamatkan 75 nyawa rekan tentaranya di Pertempuran Okinawa.

Yang terbaru, perjuangan mati-matian William Schofield melawan waktu di 1917 (2019) pun diganjar apresiasi tinggi pada musim penghargaan 2020. Ini membuktikan bahwa dunia masih menaruh ketertarikan besar pada kisah-kisah heroik semacam itu.

Resistance pun mengangkat kembali tema ini dengan memusatkan ceritanya pada sosok Marcel Marceau. Marceau dikenal luas sebagai salah satu pantomimer besar di abad ke-20. Secara inovatif, ia kerap mengusung isu kemanusiaan dalam penampilannya.

Meski begitu, tak banyak yang tahu bahwa selain sebagai seniman, Marceau juga aktif di French Resistance, gerakan perlawanan sporadis yang dilakukan warga sipil di Prancis pada Perang Dunia II.

Prolog Resistance menampilkan pasangan suami istri Yahudi yang mengantar tidur putri mereka satu-satunya, Elsbeth. Namun, bukan dongeng yang mereka ceritakan, pembicaraan orang tua-anak menjelang tidur itu justru berkutat pada penjelasan mengapa Nazi membenci dan berusaha melenyapkan kaum Yahudi.

Apa yang terjadi berikutnya pun mengawali amosfer kelam yang coba diaplikasikan oleh Jakubowicz di sepanjang sisa film. Elsbeth melihat pasukan Gestapo menyerbu rumahnya dan membunuh kedua orang tua gadis itu tepat di depan matanya.

Film lalu beralih menampilkan momen yang sedikit lebih hangat, ketika karakter Marcel Marceau diperkenalkan lewat adu argumen dengan sang ayah yang cukup kocak. Marceau (nama keluarga Marceau sebenarnya adalah Mangel sebelum ia bergabung di French Resistance) hanyalah pemuda yang punya impian berkarir sebagai seniman pantomim profesional.

Hari-hari Marceau berubah saat ia mulai menjadi sukarelawan di sebuah kastil tempat para kerabat Yahudi-nya menyembunyikan ratusan anak Yahudi korban perang. Tak jauh berbeda dengan cara Guido menghibur putranya di Life is Beautiful (1997), Marceau pun mendedikasikan kemampuan seninya untuk membawa secercah tawa bagi anak-anak yang ketakutan itu, termasuk Elsbeth.

Sayangnya, Resistance lebih banyak bertumpu pada star power dari Jesse Eisenberg. Keluar dari karakter tipikalnya sebagai kutu buku yang canggung secara sosial, Eisenberg menghidupkan kembali sosok seniman pantomim legendaris yang sebagaimana keluwesan dalam koreografi pantomimnya, juga karismatik dalam penampilan aktingnya. Penting untuk juga disebut adalah Bella Ramsey yang tampil cukup solid sebagai Elsbeth yang menyita empati penonton.

Jakubowicz terlalu berfokus mengikuti formula naratif dari film seperti Schindler’s List, meski berusaha menyamarkannya dengan teknik sinematik kontemporer. Ia berusaha menyisipkan kengerian yang sama dengan memunculkan satu karakter antagonis dominan. Dalam Resistance, karakter itu adalah Klaus Barbie, pimpinan Nazi bengis yang salah satu tugasnya adalah memberantas para pemberontak di Kota Lyon, Prancis.

Konfrontasi antara Marceau dan Barbie pada akhirnya kerap terasa berakhir komikal ketika moralitas ditampilkan kontras secara hitam-putih. Ironisnya, tak seperti Schindler’s List yang cukup kompleks dalam mengeksplorasi dinamika rumit antara Oskar Schindler dan Amon Göth, Resistance menjadi jenis film yang saat orang tua menontonnya dengan anak-anak mereka, tidak sulit untuk menunjuk mana orang yang jahat dan yang baik.

Film ini juga memberi back story yang tidak esensial pada tiap karakter, termasuk bagi Klaus Barbie dan bagi sejumlah anggota selain di gerakan Resistance Prancis. Jika bisa terjalin baik dengan narasi utamanya, hal ini tentu tak akan jadi masalah.

Tetapi, semakin nyata bahwa hal ini menjadi isu tersendiri saat film telah mendekati bagian akhir, dan premis yang ditonjolkan dalam sinopsis belum juga muncul. Perjalanan menegangkan Marceau dalam menyelundupkan anak-anak Yahudi melewati medan mematikan di pegunungan bersalju Swiss mendapatkan porsi yang sangat minim nyaris di seperempat akhir cerita.

Meski begitu, beberapa adegan dalam Resistance berhasil meninggalkan kesan tersendiri. Suatu kali, karakter Marceau meraih sebuah obor dan seperti pemain sirkus, ia menyemburkan minyak dari mulutnya hingga kobaran api itu menjilat salah satu prajurit Nazi.

Momen-momen emas juga dapat kita saksikan tiap kali Eisenberg menunjukkan kemahiran tersembunyinya sebagai pantomimer. Bahkan bagi kita yang tak awam dengan seni tersebut, pantomim yang ditampilkan dalam Resistance memberi sedikit kilasan pesan emosional.

Setidaknya, film Resistance bisa kembali menyegarkan ingatan dunia tentang betapa mengerikannya hidup pada masa Perang Dunia. Film ini juga berhasil menyajikan pada penonton sosok pahlawan yang menyentuh sekali lagi sisi kemanusiaan dalam diri kita.

 

Kesimpulan

Resistance merupakan drama perang berpadu biografi yang menawarkan kembali kisah inspiratif tentang salah satu sosok unsung hero dalam peristiwa Perang Dunia. Sayangnya, film ini terlalu banyak mengandalkan star power dari Jesse Eisenberg.

Resistance juga terlalu berfokus pada pola dan atmosfer yang pernah digunakan dalam film bertema serupa seperti Schindler’s List. Karakter protagonis dan antagonis terpolarisasi lewat cara yang sederhana dan gamblang hingga terasa komikal. Meski begitu, ada beberapa adegan berkesan yang bisa ditemukan dalam Resistance, termasuk bagaimana karakter Eisenberg nampak begitu larut dalam setiap penampilannya sebagai seniman pantomim.

 

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Resistance (2020) – Jesse Eisenberg Hidupkan Kembali Pahlawan Perang Dunia II
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0