Bagi penggemar film Korea Selatan, mungkin tidak asing dengan film berjudul Miracle in Cell No. 7. Film rilisan tahun 2013 tersebut sukses membawa tawa dan menguras air mata penontonnya lewat kisahnya yang menyentuh dan menghangatkan hati. Keberhasilan ini pula membawa film yang disutradarai oleh Lee Hwan-Kyung tersebut meraih lebih dari 12 juta penonton di negerinya sendiri.

Sama seperti Miss Granny dan Sunny, kesuksesan Miracle in Cell No.7 membuatnya dibuat ulang oleh sejumlah negara termasuk Indonesia yang mana direncanakan rilis tahun ini dan dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai tokoh utama.

Sebelum Indonesia, Turki telah merilis terlebih dahulu versi remake film ini dengan berjudul sama atau dalam bahasa aslinya Yedinci Koğuştaki Mucize.

Loading...

Sinopsis:

Memo (Aras Bulut Iynemli), seorang pria disabilitas mental yang hidup dengan sang nenek (Celile Toyon Uysal) dan putri semata wayangnya, Ova (Nisa Sofia Aksongur). Walaupun sang ayah kerap dicap sebagai orang gila oleh teman-teman sebayanya, Ova sama sekali tidak malu dan memahami bahwa ayahnya memang berbeda.

Hidup harmonis dan bahagia keluarga Memo mulai terguncang karena sebuah tas. Semua berawal dari tas Heidi yang ingin dibelikan Memo untuk Ova terjual kepada anak perempuan lain bernama Seda. Beberapa hari kemudian, Seda yang sedang bertamasya dengan keluarga dan anak-anak seumurnya bertemu Memo yang sedang menggembala domba. Ketika anak-anak yang lain dipanggil untuk makan siang, Seda tidak ikut dan malah mengajak Memo bermain dan menuntunnya dengan tas Heidi miliknya. Tidak mengindahkan peringatan Memo bahwa tempatnya berjalan sudah semakin berbahaya, Seda terjatuh, kepalanya terbentur batu-batu, dan meninggal dunia.

Sadar akan anaknya hilang, sang ayah yang merupakan petinggi militer dan teman-temannya melakukan pencarian dan menemukan Seda berada di tangan Memo berdarah dan sudah tak bernyawa. Memo yang tidak bersalah pun dijebloskan ke penjara dan harus terpisah dari keluarganya.

Review:


Membuat ulang kembali sebuah film laris dari negara lain bisa dibilang merupakan tantangan tersendiri untuk seorang pembuat film. Pasalnya, dibutuhkan sebuah kreativitas dan sentuhan budaya lokal demi menghadirkan remake yang memberikan rasa baru namun tidak kehilangan esensi utama penceritaannya.

Miracle in Cell No. 7 versi Turki ini mengalami beberapa perubahan yang cukup signifikan dari detail cerita. Kini, sang anak perempuan dikisahkan tidak tinggal hanya bersama sang ayah namun juga dengan nenek buyutnya ini. Penambahan karakter ini memperdalam alasan bagaimana Ova dapat memahami dengan baik tentang sang ayah yang berbeda. Selain itu, hal ini juga yang membuat kisah kekeluargaannya lebih kental.

Tak hanya itu, sang sutradara, Mehmed Ada Öztekin pun memilih menghilangkan unsur komedi kuat yang melekat pada film orisinalnya dan membuat film ini seutuhnya menjadi drama saja. Tak pelak, kisahnya pun menjadi lebih sedih dan dramatis. Terlebih lagi ketika Ova yang tidak bisa menemui sang ayah di penjara berlari hingga ke sebuah sisi lain dan berteriak, “lingo lingo“, sebuah tradisi khusus antara ia dan ayahnya. Terpisah oleh dua tembok tinggi, keduanya saling bersahut dengan lingo lingo dan şişeler (botol). Selain adegan tersebut, masih banyak adegan ayah-anak dalam film ini yang membuat penonton terenyuh dan kesulitan menahan air matanya.

Kisah hangat kekeluargaan yang ditampilkan baik dari hubungan Memo-Ova semakin diperkuat oleh penampilan mumpuni dari Aras Burut Iynemli yang berhasil menampilkan akting yang meyakinkan sebagai pria disabilitas mental dan polos tersebut. Tak ketinggalan, chemistry manisnya dengan aktris cilik Nisa Sofia Aksongur membuat hubungan ayah-anak tersebut dijamin membuat penonton jatuh cinta dan mengutuk perbuatan sang petinggi militer yang berusaha memisahkan mereka karena kematian putrinya.

Selain Memo dan Ova, kisah hubungan ayah-anak juga tertuang lewat karakter lain. Sebut saja, hubungan petinggi militer dan anaknya yang meninggal dunia. Walaupun keras dan kaku dalam pengajarannya, ia tak segan melakukan segala cara termasuk memastikan Memo menerima hukuman mati. Di sini pula, kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan dilakukan. Kedudukan petinggi militer dengan mudah digunakannya padahal banyak yang tahu bahwa Memo tidak bersalah. Semua tidak bisa membantunya hanya karena ia orang hebat dan Memo bukan siapa-siapa dan tidak mempunyai koneksi untuk menolongnya.

Latar belakang penjara tepatnya sel nomor tujuh yang menjadi pusat cerita mulai di paruh kedua ini menampilkan hubungan antara Memo dan para tahanan penjara lainnya. Sayangnya, karena terlalu banyak tahanan dalam satu ruangan tersebut membuat kurangnya eksplorasi mendalam pada setiap karakternya. Hanya beberapa yang cukup mencolok yaitu, Askorozlu (Ilker Aksum), tahanan yang kerap membantu yang lain mendapatkan barang apapun yang dibutuhkan, Hafiz (Yildiray Sahinler), pria yang taat agama dan Yusuf (Mesut Akusta), pria yang terisolasi sendiri dan kerap memandang dinding.

Terlepas dari demikian, hubungan Memo dan para tahanan lainnya berhasil ditampilkan dengan menyentuh. Perubahan hubungan mereka ditampilkan dengan tidak buru-buru, kehadiran Memo yang pada awalnya tidak diterima malah ternyata membawa sebuah keajaiban dan perubahan dalam hidup beberapa karakter tersebut. Puncaknya, semua hubungan yang sudah terbentuk dari awal membawa ke sebuah akhir kisah yang tidak terduga.

Penutup:

Remake Turki dari Miracle in Cell No. 7 menjadi sebuah film yang hadir dengan kisah yang lebih fokus pada sisi dramatis dan menghilangkan unsur komedi kuat dari versi aslinya. Tak pelak, kisahnya yang lebih fokus pada kisah ayah-anak ini hadir dengan lebih menyayat hati dan membuat penonton semakin tak kuasa menahan air mata. Seperti judul filmnya, pemilihan akhir kisahnya akan membuat setuju bahwa sel nomor 7 merupakan tempat yang melahirkan sebuah keajaiban. Pada akhirnya, film tentang cinta keluarga dan keadilan ini akan meninggalkan kesan mendalam bagi para penontonnya. Tak terkecuali untuk yang sudah menyaksikan versi aslinya.

Note: Scroll/gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian film

 

Loading...

Review Miracle in Cell No. 7 (2019) - Remake Turki yang Tidak Kalah Menyentuh!
8.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0