Romantis, manis, hangat dengan berbagai aransemen lagu gubahan yang enak didengar sekaligus memberikan kesan emosional
8Overall Score
Reader Rating 6 Votes
6.7

28 tahun lalu, Gita Cinta dari SMA dirilis di bioskop=bioskop dan dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman. Film ini begitu suksesnya sampai-sampai menjadikan mereka menjadi ikon pasangan di perfilman Indonesia, jauh sebelum Rangga dan Cinta mencuat di kalangan remaja Indonesia pada tahun 90 an. Ketika akan dibuat remake-nya tentu harapan tinggi berjulang di pundak Lucky Kuswandi, sutradara muda yang sebelumnya membesut Madame X, menulis naskah Ini Kisah Tiga Dara dan mendapatkan berbagai pengghargaan atas film pendeknya The Fox Exploits the Tiger’s Might.

Galih (Refal Hady) adalah seorang remaja yang duduk di bangku SMA yang bukan dari seorang keluarga kaya dan harus menghidupi ibu dan adiknya. Ibunya seorang yang keras dan tidak peduli dengan berbagai impian dari Galih. Galih ingin meneruskan usaha toko Nada Musik, peninggalan almarhum ayahnya. Namun toko kaset musik tersebut terseok-seok akibat perkembangan zaman.

Ratna (Sheryl Sheinafia) adalah seorang remaja SMA pindahan di sekolah Galih karena ayahnya harus bekerja di luar negeri sehingga dia harus dititipkan kepada tantenya di Bogor. Ratna sebagai remaja dari keluarga berada namun kesepian karena ibunya sudah pergi meninggalkan dia sejak dia kecil.

Ratna melihat sosok Galih yang berbeda dari teman-teman pria lainnya karena sosok pendiam dan misterius itu, apalagi Galih masih mendengarkan lagi dari walkman miliknya. Idealisme dan impiannya yang tinggi tentang tujuan hidup dan musik makin membuat Ratna jatuh hati padanya.

Lucky tidak serta merta mereka ulang semua hal-hal yang terdapat di Gita Cinta dari SMA, tetapi membuatnya menjadi sajian yang lebih segar dan bergaya milenial. Lihat saja bagaimana para siswa-siswi tersebut saling membandingkan berapa followers Instagram yang dimiliki, terlebih lagi ada adegan seorang siswi yang terkejut melihat Ratna memiliki like yang banyak tetapi tidak pernah menggunakan hashtag. Belum lagi sindiran kepada Galih yang tidak mempunyai akun Instagram sama sekali. Berbagai karakter-karakter milenial lainnya terlihat dari siswi-siswi yang bergaya harajuku dan punk, yang tentu tidak ditemukan di versi tahun 1979. Namun Lucky tetap memasukan unsur lawas dan nostalgia dengan mix tape yang seringkali digunakan pada masa-masa dahulu untuk mengungkapkan perasaan kepada lawan jenisnya. Apalagi adegan pembuka terdapat Rano Karno bertemu dengan Yessy Gusman di stasiun kereta api. Hal ini mengingatkan kembali saat mereka berpisah di akhir film Gita Cinta dari SMA. Tentu akan sangat memuaskan bagi para penggemar film lawasnya.

Walaupun agak terbata-bata dalam bertutur di awal, tapi menjelang pertengahan berbagai adegan manisnya masa percintaan saat masa SMA ditampilkan, puncaknya saat Ratna mendapatkan mix tape dari Galih. Ratna kebingungan saat bagaimana cara memutar kaset tersebut. Tetapi dia teringat saat naik angkot yang disupiri oleh Indra Birowo yang masih menggunakan pemutar kaset. Ekspresi Ratna saat berada di angkot saat mendengarkan mix tape tersebut seperti mengingatkan percintaan zaman dahulu yang seakan-akan dunia milik sendiri walaupun di tempat yang kurang memberikan kesan romantis.

Nama Sheryl Sheinafia melejit berkat penampilan menawannya di Koala Kumal. Bahkan Koala Kumal akan terasa hambar dan tidak akan sebagus itu jika tanpa dia. Beberapa mengatakan dia hanyalah one hit wonder saja, tapi anggapan itu dipatahkan pada film ini. Ekspresi penuh cinta, kegalauan dalam menghadapi ayahnya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Galih (Kali ini karena masalah status sosial, bukan lagi suku seperti versi lawasnya) hingga performa musikalnya saat menyanyikan Gita Cinta, sangat memuaskan. Sheryl seperti hidden gem karena tidak banyak seseorang yang bisa bernyanyi sama bagusnya dengan berakting. Chemistrynya dengan Refal juga sangat klop!

Berbagai aktor/aktris pendukungnya turut memberikan warna yang berbeda, Joko Anwar sebagai guru yang tegas namun sering memberikan celetukan komikal yang kocak dan mengena. Marisa Anita memberikan performa terbaiknya dengan berperan sebagai tante dari Ratna yang independen, ceria dan berpandangan positif. Karena keduanya sehingga Galih dan Ratna tidak hanya menjadi sebuah film yang mengandalkan romantisme belaka, tetapi ada segi humor dan hiburan yang diberikan.

Salah satu inti dari film ini adalah mix tape tersebut, mix tape memiliki fitur apakah bisa direkam ulang atau diproteksi sehingga tidak bisa diedit kembali yang berkaitan erat dengan hubungan problematika hubungan Galih dan Ratna sekaligus bermakna sangat dalam dan menggugah perasaan. Begitu pula saat Ratna mengatakan “Jika dia mencintaimu, maka dia akan mencari cara untuk mendengarkannya.” kepada temannya, setelah temannya menaruh sebuah mixtape pada meja belajar lawan jenisnya.

Final Verdict:

Romantis, manis, hangat dengan berbagai aransemen lagu gubahan yang enak didengar sekaligus memberikan kesan emosional. Galih dan Ratna tentunya akan membangkitkan kembalinya ikon pasangan ini pada dunia perfilman Indonesia dan tidak lagi akan berkutat pada pasangan Rangga dan Cinta saja. Anda akan dibuat kembali bernostalgia dengan indahnya masa-masa percintaan di SMA dan seakan-akan ingin kembali memutar waktu untuk menikmatinya kembali.

Satu hal lagi, Sheryl Sheinafia sangat berbakat dalam berakting dan bernyanyi!