Biopik yang tidak terlalu mendalam dari segi cerita, tapi cukup menghibur dan menginspirasi penontonnya
7Overall Score
Reader Rating 2 Votes
4.6

Kartini telah menjadi tokoh empansipasi wanita. Sosoknya yang mendobrak tradisi yang diskriminatif kepada wanita telah membuat perubahan nyata bagi kehidupan wanita Jawa di masa itu. Sutradara Hanung Bramantyo mengangkat kisah inspiratif ini ke layar perak yang mengisahkan Kartini dari masa kecilnya hingga mencapai pernikahannya dan mendirikan sekolah untuk para wanita.

95508_33

Pada masa kecilnya, Kartini yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, karena berayahkan seorang Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan ibunya hanya dari golongan rakyat biasa sehingga dia tidak boleh tidur dengan ibu kandungnya sendiri, Ngasirah (Christine Hakim). Ibunya juga hanya dianggap sebagai asisten rumah tangga. Saat memasuki masa remaja Kartini yang sudah memasuki masa datang bulan, harus mengikuti tradisi pingitan. Dia harus selalu di dalam kamar/rumah tidak boleh kemana-mana. Untungnya Kartono (Reza Rahadian) yang karena kakak tertua sehingga dia bisa mendapatkan banyak akses pendidikan, memberikan kunci lemari yang berisi buku-buku. Mulailah saat itu Kartini rajin membaca sehingga pikiran Kartini terbuka akan dunia luar, khususnya tentang feminisme di dunia Barat. Kartini pun bertekad untuk mengubah nasib para wanita yang sangat banyak belum bisa baca tulis sekalipun dan ingin mengubah tradisi yang diskriminatif terhadap wanita. Saat 2 adiknya Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa) dalam masa pingitan dan akhirnya ditempatkan di kamar Kartini, Kartini menjadi bekerjasama dalam mewujudkan tujuannya itu.

Baca Juga: Ini 5 Fakta Menarik di Balik Film Kartini

Kebanyakan orang akan menganggap sebuah film biopik adalah film yang berat dan membosankan dan benar awal dari film ini memang begitu. Kurangnya pengenalan tokoh dan beberapa cerita yang terlalu cepat membuat penonton yang tidak mengetahui sejarah Kartini bisa jadi akan merasa kebingungan, khususnya kepada orangtua Kartini yang kurang dijelaskan budaya patriarkinya. Namun setelah itu dimulai dari Kartini yang mengerjai kedua adiknya itu, mulailah mengalir lancar penceritaannya dengan juga menyempilkan beberapa humor.

Header-Film-Kartini-2-e1492487302163

Kartini tidak seperti tokoh bangsawan yang seharusnya anggun dan berkelas, tapi dia seperti sosok yang “selengean”, cerdik, mandiri dan keras. Terlihat saat dia naik genteng bersama adik-adiknya dan berdiskusi tentang masa depan para wanita, dia pun dengan cerdik menghidangkan minuman kepada para londo londo (orang Bule) supaya bisa berbincang-bincang dengan mereka, hingga sikap kerasnya menentang budaya yang mengharuskan wanita dijodoh-jodohkan, apalagi calonnya sudah mempunyai banyak istri. Dian dengan baik bisa memperlihatkan sisi hiburannya sekaligus sisi emosionalnya apalagi saat di adegan akhir bersama ibunya yang menyayat hati dengan akting kelas dunia oleh Christine Hakim.

Hanung yang sering memberikan pandangan-pandangannya terhadap agama, kali ini tidak memberikan banyak. Padahal Kartini cukup sering memberikan padangannya terhadap dunia agama, salah satunya adalah kalimat ” …Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu” – (R.A Kartini)Namun disini Kartini sempat bertanya kepada kyai, yang kurang lebih apakah wanita diperbolehkan membaca. Lalu ada pandangan pula mengenai menghafal, tetapi tidak memahami isi Al-Quran dan mengapa Al-Quran tidak boleh diterjemahkan dalam bahasa Jawa pada masa itu.

Kartini-BookMyShow-3

Segi produksinya sungguh cantik. Detail dari busana, latar hingga sinematografinya digarap dengan sentuhan khas Jawa. Tambah lagi iringan musik Andi Rianto menambah kesan tradisional dan eksotisnya. Adapula beberapa adegan imajinatif saat Kartini membaca buku berbahasa Belanda tersebut yang seakan-akan dia berada di negara tersebut dan berbincang-bincang pula dengan penulisnya. Sisi-sisi inilah yang membuat penonton betah untuk terus menonton kisah inspiratif ini. Memang Kartini jelas sekali menginspirasi dan menggugah hati penontonnya dengan gerakan feminisme yang sangat diperlukan pada zamannya itu sehingga para wanita Indonesia, khususnya Jawa tidak lagi terkekang budaya dan memperoleh pendidikan yang layak dan setara dengan para pria.

Final Verdict:

Walaupun sempat terbata-bata penuturannya di awal. Hanung Bramantyo membuat film Kartini yang inspiratif ini tidak hanya indah di mata tetapi juga sangat mengena dan terasa emosional di hati.

Trailer Film Kartini: