FIlm yang begitu menembus batas-batas keindahan, jelas tidak cukup hanya ditonton sekali saja!
10Overall Score
Reader Rating 8 Votes
7.9

And here’s to the fools
who dream
Crazy, as they may seem
Here’s to the hearts that break
Here’s to the mess we make

La La Land sudah digadang-gadang menjadi salah satu film terbaik di tahun 2016, bahkan sudah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi. Ekspektasi tentu menjadi lebih tinggi lagi, tapi kenyataannya jauh daripada itu, iya jauh lebih bagus dari ekspektasi awal.

Mia Dolan (Emma Stone) adalah seorang barista yang bercita-cita menjadi seorang aktris. Setelah berkali-kali gagal audisi, suatu ketika dia bertemu dengan seorang pianis Jazz, Sebastian (Ryan Gosling) yang baru saja dipecat oleh bosnya Bill (J.K. Simmons), pertemuan yang kurang mengenakan itu ternyata tidak berhenti disitu saja, beberapa kali secara kebetulan mereka bertemu, sampai puncaknya merekapun menjadi sepasang kekasih. Impian Mia yang menjadi seorang aktris dan Sebastian yang ingin mendirikan jazz club menghiasi kehidupan mereka.

Hubungan mereka yang penuh dengan warna dihiasi oleh berbagai musik-musik yang energik, jazzy dan kalem dari Justin Hurwitz yang merupakan teman kuliah Harvard sang sutradara, Damien Chazelle. Belum lagi melihat performa John Legend dengan band “The Messengers” nya yang semakin menambah hidup suasana.

Damien Chazelle seperti membuat palet yang warna warni dengan berbagai tone yang menyegarkan dan memanjakan mata. Belum lagi berbagai gambar imajinatif nan surelisnya itu yang terlihat di planetarium yang seakan-akan terbang dan berdansa dengan bintang-bintang di langit dan selain itu tentu terlihat pula pada adegan akhir film ini. Tidak lupa Chazelle menampilkan latar bukit Los Angeles yang menambah faktor nostalgia seperti layaknya film-film musikal klasik. Inilah sebuah tribute untuk musik Jazz, kota Los Angeles dan berbagai film-film musikal klasik zaman Golden Age Hollywood (1917-1960) yang dipersembahkan secara gilang gemilang dan ditampilkan dengan layaknya sebuah rapsodi keindahan dari Chazelle. Chazelle sendiri mengatakan kalau dia terinspirasi oleh tone film The Umbrellas of Cherbourg (1964) dan The Young Girls of Rochefort (1967) dan terinspirasi oleh adegan musikal film Broadway Melody of 1940 (1940), Singin’ in the Rain (1952), and The Band Wagon (1953).

Sungguh mengejutkan Stone dan Gosling yang sama sekali tidak ada background menyanyi dan menari, bisa membuat penonton terpukau atas keahlian mereka dan percaya kalau mereka memang sudah expert di bidangnya. Juri-juri dari berbagai penghargaan, bahkan tidak perlu susah-susah menonton keseluruhan film ini untuk menilai betapa gemilangnya performa Stone, saat menyanyikan lagu “Audition (The Fools Who Dream)” yang merupakan inti terpenting film ini, berdansa tap dance dengan Ryan di bukit dan di club, aktingnya benar-benar memukau. Gosling tidak kalah gemilangnya mampu menghadirkan chemistry yang luar biasa dengan Emma ditambah dengan humor, kharisma dan gaya ambisiusnya dalam meraih impiannya tersebut.

Seperti penggalan lirik yang saya tulis diatas “Audition (The Fools Who Dream)” yang menggambarkan cerita dari awal film hingga akhir. Film yang memberikan sebuah arti mendalam tentang apa itu “impian” walau terlihat bodoh, gila dan bahkan rela merelakan banyak hal, tetapi terus dikejar dan diraih.

Inilah sebuah rapsodi keindahan dari Chazelle. Hangat di hati, merdu di telinga, penuh warna dan nyaman di mata. Tidak hanya film terbaik tahun 2016 (Tahun rilis di Amerika), tetapi salah satu film musikal terbaik sepanjang masa. Sudah sangat sangat jarang film musikal yang dibalut dengan komedi romantis yang sebagus dan seindah ini. Film yang jelas tidak cukup ditonton hanya sekali saja. Oh iya satu lagi, konklusi akhirnya juara!