“Nineteen men attacked our country, the twelve of you will be the first ones to fight back”

Itulah cuplikan salah satu dialog dalam film 12 Strong garapan sutradara Nicolai Fuglsig yang menceritakan sisi lain dalam perang Afghanistan, tahun 2001 silam. Film yang diangkat dari novel non-fiksi karya Doug Stanton berjudul Horse Soldiers: The Extraordinary Story of a Band of US Soldiers Who Rode to Victory in Afghanistan ini menceritakan tentang awal mula dari salah satu perang yang sangat panjang dan paling kontroversial di dunia.

Menggunakan latar belakang serangan teroris ke menara kembar World Trade Center pada tahun 2001 silam, film ini kemudian berfokus pada respon Amerika terhadap serangan tersebut. Respon yang akhirnya membawa 12 tentara Amerika yang tergabung dalam sebuah pasukan khusus untuk menjalankan misi di Afghanistan yaitu penumpasan jaringan teroris Al-Qaeda dan Taliban yang diketahui bertanggung jawab terhadap terjadinya aksi terorisme tersebut.

Film ini diawali dengan cerita Kapten Mitch Nelson(Chris Hemsworth) yang sedang cuti untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah. Dan pada saat itulah tayangan televisi menampilkan pemberitaan runtuhnya World Trade Center. Mengetahui bahwa teroris lah dibelakang semua kejadian dalam pemberitaan tersebut, mendorong Mitch untuk kembali menjadi “volunteer” bagi negaranya untuk maju ke medan pertempuran. Dan keinginannya yang kuat untuk sesegera mungkin membela negaranya ternyata menemui hambatan. Hambatan yang bernama Lt.Colonel Bowers (Rob Riggle) tersebut lah yang pada awalnya tidak mengijinkan Mitch Nelson untuk berangkat ke Afghanistan dikarenakan sudah tidak tergabung dalam pasukan. Hal ini tidak terlepas dari permintaan Mitch Nelson sebelumnya, bahwa dia menginginkan untuk ditugaskan di back office agar lebih memiliki waktu bersama keluarganya. Selain itu, ketidakpercayaan Bowers terhadap penugasan Mitch Nelson juga menjadi hambatannya untuk berangkat ke Afghanistan. Didasari dengan kenyataan bahwa Mitch Nelson memiliki jam terbang yang sangat sedikit dalam pertempuran-pertempuran besar, menjadi alasan kuat bagi Bowers untuk tidak mempercayai penugasan ini kepada Mitch Nelson. Beruntung, berkat bantuan intervensi dari Hal Spencer (Michael Shannon) kepada Bowers, membuat Bowers berubah pikiran yang pada akhirnya memberikan lampu hijau penugasan untuk Mitch Nelson.

1 2

Dan sesampainya di pangkalan militer AS di Uzbekistan, Mitch yang diberikan kepercayaan oleh Col. Mulholland (William Fichtner) untuk memimpin serangan pertama AS di Afghanistan ini, diharuskan untuk bekerjasama dengan salah satu jenderal Aliansi Utara yaitu Jenderal Dostum (Navid Negahban) yang akan membantu mereka dalam penyerangan terhadap Al-Qaeda dan Taliban. Hal ini tentulah tidak mudah, dikarenakan Mitch harus bisa menyatukan pasukannya dengan pasukan Jenderal Dostum, sambil membangun kerjasama dan menghilangkan rasa curiga diantara mereka. Selain itu, medan pertempuran yang berupa perbukitan pun memaksa mereka untuk segera mempelajari teknik menyerang musuh dengan menggunakan kuda.

Positif

Apa yang ingin ditampilkan sutradara Nicolai Fuglsig di film ini sebenarnya cukup menarik. Melihat perang dari 2 sisi yang berbeda yaitu dari sisi militer AS dan penduduk asli Afghanistan yang menginginkan negaranya bebas dari kekejaman teroris Al Qaeda dan Taliban. Melihat juga bagaimana hubungan baik yang dibangun AS dan Afghanistan sampai saat ini yang dimulai dari pertemuan Mitch Nelson dan Dostum di medan peperangan.

Melihat peran Chris Hemsworth sebagai kapten militer di film ini cukup menjanjikan. Chris bisa menampilkan kewibawaan seorang kapten militer dan kegalauan seorang yang minim pengalaman dalam berperang di waktu yang bersamaan. Penampilannya berhasil memupus karakter Thor pada film Thor: Ragnarok yang lalu, dimana kewibawaannya sebagai seorang dewa petir “dilucuti” dan menyisakan ingatan akan seorang Chris Hemsworth yang lucu bak komedian.

Peran Navid Negahban sebagai jenderal Dostum juga cukup mencuri perhatian. Bahkan bisa dibilang, karakter dia lah yang lebih membuat film ini menjadi menarik. Penggambaran seorang jenderal pemberontak senior yang karismatik pun ditampilkan dengan baik oleh Navid.

3 5

Negatif

Sebagai film yang mengangkat cerita ke 12 pasukan pemberani dalam penyerangan Al-Qaeda, hanya Hal Spencer dan Sam Diller (Michael Pena) yang memiliki porsi cukup banyak. Sementara ke 9 pasukan lainnya terkesan hanya sebagai pelengkap film. Siapa mereka dan apa latar belakang mereka hingga mengikuti tugas ini tidak bisa ditampilkan dengan baik. Pun peran Michael Shannon sebagai Hal Spencer pun sejatinya tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap keseluruhan jalan cerita film ini.

Film ini juga berjalan cepat di awal, namun kemudian melambat mulai pertengahan film. Banyaknya dialog dan juga scene yang sebenarnya tidak begitu penting di pertengahan film inilah yang menyebabkan jalannya cerita mulai terasa lambat, dan tentunya menjadikan durasi film ini lebih panjang.

Kehadiran sosok kepala pasukan Taliban yang kejam, Mulah Razzan (Numan Acar) juga kurang dieksplor lebih dalam. Adegan yang menampilkan kekejaman dia terhadap perempuan dan anak-anak pun seperti hanya ingin menjelaskan bahwa dia merupakan sosok yang tidak main-main dalam aksi terorisme. Namun selanjutnya, tidak ada adegan lainnya yang menunjukkan sepak terjangnya sebagai salah satu kepala pasukan teroris paling kejam.

Conclusion

Sebagai film perang yang ingin menghadirkan drama yang kuat rasanya masih kurang dalam film ini. Unsur drama yang dibawa, sangat jauh dengan apa yang ditampilkan film perang lain semisal American Sniper dan Lone Survivor. Pun porsi aksi juga terkesan tanggung. Kurangnya eksplorasi karakter pada 9 pasukan lainnya turut menjadikan film ini kurang greget bagi penikmat film perang.

Namun begitu, film ini masih cukup menghibur untuk disaksikan dan tidak dilewatkan begitu saja. Kehadiran action sequence yang baik dan juga ketegangan perang  yang intense masih bisa dihadirkan dengan cukup baik oleh sang sutradara. Dan jangan lupa, final battle menggunakan kuda ini patut untuk ditunggu. Yang menurut saya juga menjadi salah satu action sequence  terbaik dalam film-film perang besutan Hollywood ini.

Selamat menonton!

Review 12 Strong: Melihat Sisi Lain Perang Afghanistan
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0