Arwah Noni Belanda merupakan film horor yang disutradarai oleh Agus Pestol dengan penulis naskah King Javed dan dibintangi oleh Sara Wijayanto, Milena Tunguz, Nayla D. Purnama, Willem Bevers, Ferdian Aryadi.

Sinopsis:

Pada tahun 1934 di Batavia, Hellen Van Stolch (Milena Tunguz) putri cantik satu-satunya dari tuan tanah yang memiliki perkebunan luas bernama Jacob Van Stolch (Maurie Chevalier). Arwahnya masih penasaran sampai sekarang karena kisah tragis yang dialaminya.

Pada masa sekarang Sarah Astari (Sara Wijayanto) yang merupakan seorang penulis cerita horor diberikan fasilitas rumah tinggal oleh bosnya. Rumah tersebut ternyata ditinggali oleh arwah Hellen Van Stolch yang terus mengganggu dirinya dan anaknya Amelie (Nayla D. Purnama).

Loading...

Review:

Dari segi cerita dan hal menakut-nakuti film Arwah Noni Belanda benar-benar sangat standar dan klise, tidak ada sesuatu yang baru, bahkan lebih buruk dari kebanyakan film-film horor Indonesia. Diperparah dengan pace film yang sangat-sangat lambat, padahal film hanya berdurasi selama 75 menit saja, tetapi seakan-akan lebih lama dari durasi film Titanic, film-film India dan juga film Avengers: Endgame itu.

Hampir tidak ada pendalaman karakter, tidak jelas siapa bos dari Sarah yang memberikan dia rumah, tidak jelas latar belakang suami dari Sarah itu apa, tidak jelas pula siapa teman Sarah yang dia telefon untuk meminta bantuan. Karakter dari arwah Hellen Van Stolch yang masih bisa diterima penonton, walau anehnya saat dia menampakan diri untuk menakuti Sarah dan anaknya, terkadang dia berpenampilan cantik, terkadang pula berpenampilan (seharusnya) seram.

Film ini juga terlalu banyak dan durasinya terlalu lama untuk adegan-adegan flashback pada tahun 1934 itu, adegan ini pun terasa terlalu repetitif. Celakanya drama di tahun 1934 itu lebih menarik daripada horor-horor yang ditampilkan di rumah yang dihantui Arwah Noni Belanda itu! Mungkin seharusnya sutradara Agus Pestol lebih cocok untuk menggarap drama zaman penjajahan.

Jika seseorang diganggu kuasa gelap/setan, biasanya saat mereka menceritakan kepada orang terdekatnya, dalam hal ini Sarah bercerita kepada suaminya, orang yang diceritakan akan tidak percaya akan hal itu. Namun di film Arwah Noni Belanda sebaliknya (hanya hal ini yang tidak klise), suaminya mempercayainya, tapi sayangnya suaminya ini sempat memberikan sebuah statement yang kesannya menggurui/menyalahkan kalau kejahatan yang dilakukan oleh manusia adalah karena setan. Dia mengandaikannya dengan sebutan “evil” dan “devil“.

Inkoherensi cerita patut dipertanyakan, kurang adanya korelasi antar adegan dan juga ada semacam lompatan adegan, entah karena kekurangan stok adegan atau bagaimana. Berbagai adegan mimpi juga memperparah koherensi cerita dan membuat cerita film menjadi tersendat. Berbagai banyaknya adegan mimpi ini juga seakan-akan ingin menipu para penontonnya, dalam hati penonton berceletuk “oh, cuma mimpi doang”.

Akting dari Sara Wijayanto tidak ada bedanya dengan akting-aktingnya di film sebelumnya yaitu Tarot (2015), The Doll (2016), The Doll 2 (2017), Sabrina (2018). Untuk pemeran lainnya aktingnya lebih parah, terkadang tanpa ekspresi, terkadang pula terlalu overacting. Satu-satunya yang berakting lumayan hanya pemeran cilik Nayla D. Purnama saat dia dirasuki setan.

Sebuah film sebenarnya tidak luput dari goofs / kesalahan. Namun kali ini sungguh fatal, saat Sarah menulis sebuah cerita horor, tampak banyak typo. Contohnya “datang” menjadi “dating” dan masih banyak lainnya. Sepertinya sutradara atupun editornya malas untuk mematikan fitur auto correct dari Microsoft Word itu sehingga terjadi berbagai tulisan Indonesia yang otomatis auto correct menjadi Bahasa Inggris.

Hal yang paling membuat kehancuran film ini adalah endingnya, sangat tidak jelas pesan apa yang ingin disampaikan oleh sutradara maupun penulis naskahnya. Epilog “3 bulan kemudian” juga tidak jelas artinya, ya mungkin saja jika sukses film ini, maka mungkin akan ada sekuelnya.

Kesimpulan Akhir:

Sebenarnya saya sudah memaafkan keklisean demi keklisean film Arwah Noni Belanda, terlalu banyaknya adegan mimpi, pace film yang sangat-sangat lambat itu dan paling parah adalah tidak ada satupun adegan menyeramkan (hanya ada adegan yang mencoba untuk mengagetkan yang manipulatif). Namun sayangnya kesabaran saya habis setelah melihat endingnya yang sangat jelek, sangat pointless dan sangat tidak jelas apa yang ingin disampaikan oleh sutradara maupun penulis naskahnya.

Loading...

Review Film Arwah Noni Belanda (2019) - Arwah Noni Cantik yang Menghantui Sebuah Rumah
2Overall Score
Reader Rating 1 Vote
1.3