Film yang menurut produsernya menjadi film yang sulit dibuat dikarenakan beragam lokasi di luar negeri yang banyak memakan biaya ini akhirnya dibuat juga oleh rumah produksi Starvision Plus. Bekerjasama dengan rumah produksi asal Korea Selatan CJ Entertainment dan disutradarai oleh Guntur Soeharjanto (Tampan Tailor, Jilbab Traveler), adaptasi novel karya Adhitya Mulya (Jomblo) ini mulai ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia pada 20 September 2018.

Pondasi kokoh persahabatan empat serangkai, Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli) dan Ucup (Deva Mahenra) sejak SMA mulai goyah manakala Francis memberitahukan bahwa dirinya akan segera menikah di Barcelona dan mengundang ketiga sahabatnya itu. Keputusan Francis tersebut mengungkit kisah lamanya dengan Retno, yang dengan Francis pernah saling cinta namun tidak terwujud karena perbedaan. Pun demikian dengan Farah yang sudah sekian lama memendam cintanya kepada Francis dan hanya bisa curhat ke Ucup. Ucup sendiri hanya bisa memendam kekesalan karena sebenarnya ia jatuh cinta pada Farah.

Kini Retno dan Farah memutuskan untuk menyusul Francis ke Barcelona dan menyatakan perasaannya masing-masing. Sementara Ucup yang berada di Afrika dan terjebak di tengah peperangan ikut berjuang melalui Ghana, Gurun Sahara dan Maroko untuk menuju Barcelona demi meraih masa depannya dalam sosok Farah.

Kompleksitas hubungan di antara keempatnya memang terkesan mengada-ada dan rumit, tetapi mengalir dengan baik tanpa munculnya sifat-sifat antagonis ataupun perilaku-perilaku negatif. Apa yang dilakukan keempatnya dalam menjaga perasaan masing-masing individu membuat film ini konsisten dalam mengusung tema persahabatan.

Tambahan lainnya adalah kekuatan karakter dalam sosok Farah dan Ucup yang mampu membawa film ke arah komedi dan mencegah film ke jurang drama menye-menye yang bebannya diberikan kepada sosok Francis dan Retno. Bukan berarti Morgan dan Mikha buruk dalam memainkan karakternya, namun karena karakter dan kisahnya tipikal dan terlampau sering muncul dalam film remaja jadinya terkesan standar dan biasa. Sementara Anggika dan Deva mampu tampil gemilang mencuri perhatian di sepanjang film. Keduanya sukses merebut hati penonton dengan tingkah polahnya yang unik dan menggemaskan.

Dari sisi teknis tidak ada kekurangan yang berarti selain dari penggunaan CGI yang terkesan seadanya untuk menampilkan suasana sedang berada di negara lain (terutama adegan airport di afrika). Semuanya cukup baik dari sisin produksi. Sutradara Guntur Soeharjanto sukses menghantarkan tontonan yang berkualitas baik dan memanjakan mata dan telinga para penontonnya.

Kesimpulan Akhir

Film Belok Kanan Barcelona merupakan film yang tepat untuk merayakan persahabatan, romantika dan “kisah di antaranya”. Sebuah tontonan yang menggelitik lewat tingkah polah karakter Farah dan Ucup, sekaligus romantis dengan tema cinta segi empat yang dijamin membuat gemas para penonton ABG yang menjadi penonton potensialnya. Meskipun belum sempurna dari sisi penyajian CGI yang penuh kekurangan di sana-sini, namun film ini menjadi film yang menyenangkan untuk ditonton bersama sahabat dan keluarga.

 

 

Review Film Belok Kanan Barcelona (2018) - Film Jenaka Tentang Cinta di Tengah Persahabatan
7Overall Score
Reader Rating 6 Votes
7.5