Berdasarkan novel berjudul Firing Point di tahun 2012 oleh Don Keith dan George Wallace, Hunter Killer menceritakan kisah komandan kapal selam Amerika Serikat bernama Joe Glass (Gerard Butler) yang ditugaskan menyelamatkan Presiden Rusia Zakarin (Alexander Diachenko) dari tawanan Menteri Pertahanan Rusia Dmitri Durov (Mikhail Gorevoy) di tanah Rusia.

Misi dari Joe Glass juga disokong oleh satu grup dari Navy Seals yang dipimpin oleh Bill Beaman (Toby Stephens) yang bertugas secara tersembunyi langsung di tanah Rusia. Terdapat pula Analis NSA Jayne Norquist (Linda Cardellini), Laksamana Muda John Fisk (Common), dan Laksamana Charles Donnegan (Gary Oldman) di kantor Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Tidak hanya dari pihak Amerika Serikat, misi ini dibantu juga oleh Kapten Sergei Andropov (Michael Nyqvist) dari Rusia yang turut merasakan ada hal yang tidak beres dibalik tenggelamnya kapal selamnya yang dapat menyebabkan Perang Dunia ke 3.

Sepanjang menonton Hunter Killer penonton terasa sangat familiar dengan berbagai plot-plotnya. Ada sosok heroik yang melawan segala peraturan dan pendapat dari orang lain, ada sosok dari pihak musuh yang membantu Amerika Serikat, Ada sosok penghianat dari pihak musuh yang bertujuan menciptakan perang dunia, ada tokoh pemimpin yang keras kepala dengan kepatriotismenya, ada tokoh pemimpin yang keras terhadap anak buahnya namun tetap memiliki sifat solidaritas dan sederetan keklisean karakter tokoh lainnya. Diperburuk juga dengan karakter-karakternya yang one atau two dimensional character.

Plotnya pun sangat mudah tertebak hingga endingnya, sehingga penonton tidak mendapatkan kejutan sama sekali. Penonton sudah sering menonton film-film sejenis mulai dari Crimson Tide, U-571, K-19 : The Widowmaker, Das Boot hingga The Hunt for Red October. Untungnya sutradara Donovan Marsh mampu menciptakan suasana ketengangan yang dihadapi di dalam kapal selam. Seperti adegan-adegan saat kapal selam mereka diserang oleh misil dan harus menghindarinya, tanpa diperkenankan untuk menyerang balik. Terlebih lagi ketegangan paling puncak adalah saat adegan kapal selam dari Amerika Serikat harus memasuki wilayah perairan Rusia yang penuh dengan ranjau yang akan meledak jika dipicu oleh suara. Adegan ini membuat penonton seakan-akan ikut larut dalam suasananya dan menahan nafas untuk tidak mengeluarkan suara.

Poin positif lainnya adalah sisi heroisme yang diperlihatkan oleh kapten Joe Glass, disokong oleh akting penuh kharisma dari Gerard Butler. Gerad Butler berhasil memerankan tokoh yang tetap percaya diri di saat tekanan besar yang melanda. Alih-alih berpegang pada perintah dan peraturan kapten Joe Glass juga menggunakan hatinya untuk menyelesaikan segala masalah yang ada.

Tidak seperti biasanya Gary Oldman kali ini berakting biasa-biasa saja. Karakternya kebanyakan hanya marah-marah sambil berteriak-teriak. Walau tidak mendapatkan waktu durasi tayang adegan yang lama, tetapi karena baru saja memenangkan Oscar, dia pun tetap masuk ke dalam poster utama mendampingi Gerard Butler.

Sisi produksinya sungguh wah dalam menampilkan kecanggihan dan kedigdayaan dari angkatan bersenjata dari Amerika Serikat. Namun, tidak didukung oleh segi CGI yang cukup kasar dan terlihat bohongan, apalagi saat adegan kapal selam yang meledak saat hancur diserang oleh torpedo.

Dalam Hunter Killer ini terdapat juga sebuah kritik tentang politik yang sekarang melanda Amerika Serikat, politik tidak kompromi dan nasionalisme yang ekstrim.

Kesimpulan Akhir:

Sekilas tidak ada yang salah dengan Hunter Killer jika ditayangkan puluhan tahun lalu, tapi sekarang sudah tahun 2018, penonton sudah menonton puluhan film dengan plot sejenis. Been there, done that!

Untungnya, Hunter Killer masih sanggup memberikan ketegangan di dalam kapal selam, aksi hiburan tembak-tembakan dan sisi heroisme yang tinggi.

Review Film Hunter Killer (2018) - Film Aksi Thriller Kapal Selam Khas Tahun 80-90 an
7Overall Score
Reader Rating 3 Votes
8.5