Loading...

Sudah sejak lama industri film khususnya Hollywood, memberikan visualisasi tentang hubungan persahabatan antara manusia dan hewan. Entah dalam bentuk film fiksi maupun film berdasarkan kisah nyata.King Kong(1933), Hachiko(1987), dan The Black Stallion(1979) menjadi beberapa contoh film fiksi maupun based on a true story klasik yang menceritakan hubungan manusia dengan hewan. Sementara di era yang lebih modern, kita mengenal film-film semisal franchise Air Bud, Free Willy hingga yang berbau full fantasi semisal Alpha dan A.X.L.

Selain judul-judul diatas, Born Free(1965) menjadi salah satu judul film klasik populer yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan hewan buas yang berdasarkan kisah nyata. Kepopuleran kisah antara manusia dengan si singa betina Elsa, menjadi kisah yang begitu mengena hingga bertahun-tahun kemudian. Bahkan lagu soundtracknya yang berjudul sama juga menjadi salah satu lagu klasik terbaik hingga bertahun-tahun kemudian.

Kini, 5 dekade setelah kepopuleran Born Free, kita kembali disuguhi film yang mengisahkan hubungan langka antara singa dan manusia. Mia and The White Lion menjadi judul film yang kembali mengisahkan hubungan persahabatan hampir mustahil tersebut.

Sinopsis

Mia Owen(Daniah De Villiers) menjalani kehidupan masa remajanya dengan terpaksa di sebuah pusat konservasi singa milik ayahnya di Afrika Selatan. Ketidaksiapan dirinya untuk pindah dari hiruk pikuk kota London ke sebuah daerah terpencil di padang savana Afrika, membuat dirinya menjadi pribadi pemberontak dan selalu menyendiri.

Tak hanya bermasalah di sekolah, hubungannya dengan sang ayah John Owen(Langley Kirkwood) dan ibunya Alice Owen(Melanie Laurent) pun tidak berjalan baik. Hingga akhirnya seekor singa putih lahir di pusat konservasi atau peternakan singa milik ayahnya, dan dengan segera merubah hidup Mia secara keseluruhan.

Singa putih yang dinamakan Charlie itupun akhirnya berkembang menjadi sahabat bagi Mia. Mia tak kesepian lagi sejak ada Charlie. Dari sisi emosional pun Mia jauh lebih stabil dan mulai mampu bersosialisasi serta menikmati lingkungan barunya. Dan semuanya karena kehadiran Charlie di tengah keluarga Owen.

Namun dengan Charlie yang semakin membesar tiap harinya, tentu tak bisa tetap memperlakukan Charlie layaknya hewan peliharaan. Charlie harus segera dilepaskan ke alam bebas. Namun hal itu juga berarti membiarkan Charlie menjadi sasaran perburuan banyak orang tak bertanggung jawab.

Gejolak batin pun muncul antara tetap mempertahankan Charlie atau membiarkannya pergi. Mia, menemui dilema terbesar dalam hidupnya.

Potensial Namun Tak Dimaksimalkan

Tak bisa dipungkiri, Mia and The White Lion sejatinya mempunyai banyak potensi untuk menjadikannya film drama terbaik yang mengisahkan hubungan antara hewan buas dan manusia. Namun sayangnya, hal tersebut tak pernah benar-benar bisa dimaksimalkan.

Cantiknya sinematografi yang menggambarkan lanskap Afrika Selatan dalam kombinasi penggambilan gambar melebar dan aerial shoot, nyatanya tak bisa diimbangi dengan kekuatan naskah atau jalan ceritanya. Dialog yang menjadi inti penceritaan begitu datar dan terkesan tanpa nyawa. Pun perpindahan antar adegan dilakukan dengan cukup kasar dan tentu saja menampilkan banyak adegan yang sebenarnya tidak perlu.

Bahkan terdapat banyak sekali adegan yang cacat logika hanya untuk menunjukkan sisi dramatis adegan tersebut. Tak hanya terasa berlebihan, namun banyaknya adegan cacat logika tersebut juga seakan menghancurkan premis apik yang coba dibangun sejak film dimulai. Memang, Mia and The White Lion merupakan film fiksi 100%, namun bukan berarti hal tersebut lantas “melegalkan” banyaknya adegan yang cacat logika bukan?

Untuk film dengan persahabatan sebagai tema utamanya, tentu saja harus mengedepankan sisi emosional. Karena tanpa faktor emosional yang cukup antar tokoh, maka film akan cenderung garing khususnya untuk adegan-adegan yang ditujukan untuk menguras emosi penonton. Film ini pun demikian, hubungan antar tokohnya tak terjalin dengan baik sehingga film cenderung berjalan dengan cukup datar dan menimbulkan efek biasa saja kala adegan penuh haru muncul.

Pun konflik yang muncul juga tampak biasa saja. Apalagi untuk konflik-konflik yang muncul antara Mia dan ayahnya yang memang mendominasi film ini.

Praktis, hanya hubungan antara Mia dan Charlie saja yang patut diacungi jempol. Film yang memakan waktu 3 tahun untuk pengambilan gambar dan membentuk persahabatan yang nyata antara Daniah dengan si singa putih sejak masih kecil tersebut, benar-benar berhasil menyajikan potret persahabatan yang mengagumkan. Persahabatan keduanya terasa sangat nyata dan memang seperti memiliki hubungan emosionalnya tersendiri kala Daniah dan Charlie berada dalam satu frame.

Sarat Pesan Positif untuk Dunia

Dengan berbagai hal positif dan negatif sisi teknis film ini, sejatinya Mia ingin memberikan sebuah pesan untuk dunia. Pesan bahwa bumi yang kita cintai beserta ragam fauna didalamnya, harus dijaga sepenuh hati. Jangan sampai keindahannya dirusak segelintir orang tak bertanggung jawab.

Pun singa yang saat ini terus berkurang jumlahnya bahkan tak tertutup kemungkinan suatu saat akan punah lebih cepat, harus dijaga terus kelestariannya. Banyaknya pusat konservasi singa di Afrika Selatan yang hanya sebagai kedok, sementara mereka sejatinya menjual singa untuk dijadikan objek tembak, menjadi sebab mengapa gerakan perubahan harus dilakukan.

Dan melalui film ini, tentu saja pesan tersebut diharapkan sampai dan mengena di hati setiap penontonnya. Bahkan tak hanya mengena, namun juga menggugah tiap penonton untuk turut membantu kelestarian alam khususnya menghentikan kegiatan tembak menembak hewan liar di alam bebas apalagi jika statusnya dilindungi.

Penutup

Dengan kisah persahabatan antara hewan buas dengan manusia yang sudah lama tak kita saksikan di layar lebar, membuat Mia and The White Lion cukup membawa angin segar di tengah dominasi superhero dan horror yang menghiasi layar bioskop.

Namun lemahnya sisi penceritaan serta dialog, menjadikan film ini bak sayur tanpa garam. Praktis kita tak akan menemukan momen haru yang sama layaknya kita menyaksikan Air Bud, Free Willy ataupun King Kong dengan adegan memorablenya di puncak Empire State Building.

Namun bagi anda yang rindu akan jenis film seperti ini ditambah sajian eksotisme Afrika Selatan yang tak ada duanya, maka Mia and The White Lion siap menjadi tontonan yang cocok dinikmati di akhir pekan bersama keluarga.

Loading...
Review Film Mia and The White Lion - Kisah Persahabatan Singa dan Manusia Tanpa Sisi Emosional yang Kuat
6Overall Score
Reader Rating 1 Vote
6.0