Robin Hood merupakan sosok legenda asal Inggris yang begitu populer di seluruh dunia. Kisah klasiknya dalam mencuri harta si kaya untuk diberikan ke si miskin amat dipuja di berbagai belahan dunia. Tak terhitung lagi berapa banyak versi cerita yang tersebar di masyarakat luas. Ada yang mengatakan Robin awalnya adalah seorang bangsawan tulen, kemudian ada yang mengatakan dia mantan tentara salib yang pulang ke rumah karena dicurangi, serta versi yang paling umum yaitu Robin memang tinggal di hutan yang sengaja ke kota untuk melawan tirani jahat.

Sama seperti versi cerita lisan maupun tulisan yang berkembang ke berbagai versi, filmnya pun banyak bermunculan dalam berbagai versi baik animasi maupun live action. Total ada 60 lebih film yang mengisahkan si pencuri bertudung ini, dengan beberapa diantaranya melibatkan aktor papan atas untuk menghadirkan sosok Robin Hood ke layar perak.

Sebut saja Sean Connery dalam film Robin and Marian (1976) yang berfokus pada kisah romantis Robin dan Marian jelang akhir hidup sang pencuri legendaris tersebut. Kemudian ada Kevin Costner di film Robin Hood: Prince of Thieves (1991) yang juga melambungkan soundtrack Everything I Do, I Do it for You milik Bryan adams. Juga Russell Crowe di film yang mengisahkan sejarah awal terbentuknya sang legenda dalam Robin Hood (2010).

Kali ini, Robin Hood kembali muncul dengan pendekatan baru. Mengikuti pakem kisah aslinya, Robin Hood garapan Otto Bathurst kali ini memiliki tafsir yang lebih gelap, penuh aksi, juga lebih stylish. Suatu pendekatan yang memberikan sajian alternatif baru dari sosok pencuri legendaris kesayangan rakyat ini.

Sinopsis

Robin of Loxley (Taron Egerton) yang merupakan seorang bangsawan ternama harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus mengikuti wajib militer yang membawanya ke medan peperangan timur tengah bersama para tentara salib lainnya. Kepulangannya ke tempat asalnya pada akhirnya terasa begitu pahit setelah mengetahui bahwa rumahnya telah disita atas persetujuan Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), termasuk istrinya (Eve Hewson)yang ikut menghilang.

Pertemuannya dengan sahabatnya, Friar Tuck (Tim Minchin) akhirnya membawanya kepada penjelasan bahwa Robin terdaftar  sebagai prajurit gugur dua tahun lalu. Ia pun kemudian melihat sendiri sang istri telah bersama laki-laki lain, Will Scarlet (Jamie Dornan). Sakit hati dan putus asa, Robin pun menuntut balas atas apa yang diterimanya.

Yahya bin Umar alias John (Jamie Foxx) yang ditolongnya di timur tengah, akhirnya melatih Robin untuk bisa mencapai tujuannya. Tujuan yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang Robin pikirkan di awal. Tujuan yang kelak mengantarnya menjadi seorang legenda.

Tafsir Baru yang Lebih Stylish

Robin Hood garapan Otto Bathurst ini memiliki tafsir baru yang lebih stylish. Wardrobe yang digunakan mengingatkan kita akan serial Game of Thrones atau film King Arthur versi baru yang dirilis tahun 2017.

Hal ini tak bisa dipungkiri karena adanya sosok Joby Harold di kursi produser film ini yang juga ikut menjadi penulis dan produser pada proyek film King Arthur tersebut. Meskipun ada nama beken seperti Leonardo di Caprio di kursi produser, namun tak bisa dipungkiri ambisi Joby menjadikan kisah-kisah legendaris Inggris bak Game of Thrones jelas dicobanya kembali di film Robin Hood ini setelah pada King Arthur interpretasi tersebut dinilai gagal total.

Menarik melihat tafsir baru ini sebenarnya, meskipun memang jadi terlihat tidak rasional. Kita yang terbiasa mengetahui kisah Robin Hood dengan pakaian hijau khasnya, dipaksa harus melihat Robin Hood dengan desain jaket kulit khas Zara. Sekilas kita juga melihat Robin Hood sangat mirip dengan jagoan DC, Green Arrow.

Jika ini merupakan cerita yang mengambil sisi fiksi sebuah sejarah dengan pendekatan kontemporer layaknya Game of Thrones tentu tidak masalah.

Hanya saja Robin Hood ini merupakan legenda yang begitu lekat di masyarakat dan sudah pakemnya mengisahkan sosok pahlawan abad pertengahan. Sehingga wardrobe yang stylish akan terasa janggal karena akan membuat kita berpikir ini di abad pertengahan atau di setting post apocalyptic?

Kostum yang digunakan pada saat peperangan di Timur Tengah pun jauh dari kesan baju zirah asli tentara salib. Seragam perang yang digunakan justru lebih mendekati seragam perang milik tentara Romawi dengan pendekatan warna layaknya warna pakaian pasukan SAS modern di timur tengah.

Action Sequence yang Mengagumkan

Hal lain yang patut menjadi sorotan adalah bahwa film ini menyajikan action sequence yang memanjakan mata. Pertempuran di jazirah Arab pada saat adegan awal filmnya pun terasa begitu seru dan menegangkan. Kita serasa disuguhi adegan pertempuran layaknya Zero Dark Thirty atau Black Hawk Down dengan desingan peluru AK-47 yang dirubah menjadi hujan anak panah yang cukup horror.

Pun pertempuran pada saat Robin sudah kembali ke kota juga ditampilkan cukup baik. Adegan slow motion nya cukup efektif memberi kesan dramatis di beberapa adegan, meskipun di beberapa adegan lainnya dengan pace cepat hal tersebut justru cukup mengganggu.

 

Selipan Pesan Moral dari Duet Egerton-Foxx

Duet Taron Egerton dan Jamie Foxx sebagai murid dan guru di film ini jelas menjadi magnet utama film ini. Karakter Foxx cukup kuat sebagai guru dan pejuang disaat bersamaan, pun Taron cukup berhasil menampilkan sosok Robin Hood yang masih galau akan tujuan utama dia sebenarnya.

Namun yang pasti, duet mereka membawa sebuah pesan moral yang terselip dalam wujud karakter serta dialog didalamnya, dimana hal tersebut cukup relevan dengan keadaan saat ini. Karakter Little John atau Yahya bin Umar yang diperankan Foxx menjadi tafsiran seorang Muslim minoritas di dunia barat yang bersama Robin Hood yang merupakan seorang Katolik yang taat, bekerjasama untuk memberantas kejahatan atas nama agama yang kala itu dimainkan baik oleh tentara salib maupun petinggi-petinggi dunia Arab.

Pada sebuah dialog dimana Robin bertanya apakah dia mampu dan dijawab “Insha Allah” oleh Little John jelas membawa pesan perdamaian yang menyejukkan. Dimana kita tahu saat ini perebutan kekuasaan atas nama agama kerap terjadi tanpa memikirkan lagi tujuan perdamaian yang hakiki dan sisi humanis itu sendiri.

Poin Negatif

Poin negatif dalam film ini tentu saja datang dari skrip yang terlalu lemah. Wajar ketika mengetahui ketiga penulis skrip di film ini merupakan debutan. Hanya saja untuk film tentpole milik Lionsgate, rasanya terlalu berani mengambil resiko dengan mengikutsertakan penulis skrip yang belum dikenal reputasinya dalam proyek besar ini.

Kemudian sosok Sheriff of Nottingham juga nampak terlalu biasa saja untuk ukuran penjahat legendaris. Bahkan tampilan Ben Mendelsohn di film ini nampak seperti karakter-karakter penjahat yang diperankannya di film lain, bahkan terlihat sangat mirip dengan karakter Orson Krennic yang diperankannya di film Rogue One: A Star Wars Story.

Penutup

Pada akhirnya Robin Hood nampak hanya menyajikan kisah action murni tanpa ada sisi emosional yang kuat didalamnya. Meskipun dieksekusi dengan cukup apik di awal, namun mulai pertengahan hingga akhir film ini nampak kehabisan bensin dan hanya mengandalkan action sequence yang wow sebagai roda penggeraknya.

Niat untuk menjadikan tone film ini layaknya trilogi batman-nya Nolan juga nampak gagal dieksekusi meskipun pendekatan tersebut sempat terlihat cukup berhasil di awal film.

Praktis, film ini hanya sekadar menjadi popcorn movie yang bisa dinikmati dengan santai tanpa perlu kesulitan mencerna jalan ceritanya. Pun pesona dan kharisma Taron Egerton di film ini masih bisa ditampilkan dengan baik layaknya peran yang dimainkannya pada dua film Kingsman sebelumnya.

Namun, film ini tetap bisa menjadi alternatif tontonan minggu ini. Apalagi saat ini bioskop Indonesia hanya dikuasasi duet penyihir dan sundel bolong. Maka kehadiran si pencuri bertudung yang jago memanah ini cukup bisa diandalkan bagi para penonton yang merindukan film action yang mumpuni.

Robin Hood tayang hari ini, 20 November 2018. Selamat menonton!

Review Film Robin Hood (2018) - Tafsir Baru sang Legenda yang Lebih Stylish
6.5Overall Score
Reader Rating 4 Votes
7.4