Melanjuti kesuksesan The Doll dan The Doll 2 yang masing-masing mendapatkan jumlah penonton sebesar 550rb dan 1.2 juta, tentu tidak heran jika franchise film The Doll terus berlanjut. Kali ini Hitmaker Studios mengangkat boneka Sabrina versi terbaru yang merupakan mainan kesukaan anak Maira di film sebelumnya. Sabrina telah tayang sejak 12 Juli 2018 dan telah meneror lebih dari 400rb orang hanya dalam waktu 4 hari saja.

Maira (Luna Maya) telah hidup bahagia bersama dengan Aiden (Christian Sugiono), suaminya yang merupakan pemilik perusahaan mainan yang memproduksi boneka Sabrina. Tetapi kebahagiaannya belum lengkap karena Vanya, anak angkat dari Maira dan keponakan dari Aiden, masih belum merelakan kepergian Andini, bundanya yang sudah meninggal. Suatu ketika, Vanya melakukan permainan “Pensil Charlie” untuk memanggil arwah bundanya dan keanehan-keanehan mulai terjadi, mulai dari kotak musik yang berbunyi sendiri, boneka Sabrina yang berpindah tempat sampai dengan Vanya yang berinteraksi dengan sesosok entitas jahat.

Walau di plot sebagai spin-off, tetapi lebih terasa sebuah sekuel karena ceritanya berlanjut dari film pertama dan keduanya dan memiliki hubungan yang erat. Karakter Laras (Sara Wijayanto) kembali hadir sebagai paranormal pengusir roh jahat. Kali ini dia tidak sendirian karena dibantu oleh suaminya (Jeremy Thomas). Hal ini mengingatkan akan film The Conjuring di mana sepasang suami istri, Ed and Lorraine Warren bersatu padu mengusir segala roh jahat di masa tahun 70-80 an, bahkan ada cerita juga kalau kepercayaan diri dari Laras sempat turun, ini mirip dengan plot cerita yang ada di salah satu film The Conjuring. Jika chemistry dari Patrick Wilson dan Vera Farmiga yang memerankan Ed and Lorraine Warren terasa kuat dan memikat, ini tidak terjadi pada pasangan Sara Wijayanto dan Jeremy Thomas, seperti agak dipaksakan. Bahkan, saat Laras mengatakan kalau sudah mempunyai suami, sebagian penonton di bioskop tertawa, karena begitu cepatnya hubungan mereka terjadi. Terlepas dari itu akting dari Sara Wijayanto makin baik, dia dapat memperlihatkan sisi kerapuhannya sekaligus makin cakap dalam berakting mengusir segala makhluk halusnya.

Segi naskah tergolong tidak ada hal yang baru, begitu juga dengan unsur keseramannya dari awal film hingga pertengahan yang terasa cukup standar dan tidak semenyeramkan dari film The Doll 2. Acungan jempol layak diberikan pada Rocky Soraya yang dapat menjaga ketegangan yang kuat dari pertengahan hingga akhir dengan segala macam unsur-unsur film slasher/thriller dari film Scream hingga Friday the 13th sehingga menghasilkan adegan kejar-kejaran yang sangat fun dan menghibur itu, walau masih saja dalam adegan-adegan tersebut karakter-karakter korbannya cukup bodoh dalam bertindak. Tidak seperti The Doll 2 bagian akhir yang terlalu berisik dan agak kacau dalam tiap adegan berdarah-darahnya, kali ini dirangkai dengan baik. Begitu pula karakter dari sosok Baghiah dengan hidung sangat mancung dan mulut berlumuran darah itu. Tanpa beraksi pun, Baghiah dapat membuat bulu kudung penonton berdiri. Sudah jarang ada sosok horor yang meyakinkan di film-film horor Indonesia belakangan ini, kebanyakan sosoknya menggelikan bukan menyeramkan.

Paling layak diberikan pujian tertinggi adalah akting dari Luna Maya dan sisi produksinya. Luna Maya berhasil berakting sebagai ibu yang sayang kepada anak angkatnya dan aktingnya saat kerasukan pun sungguh meyakinkan. Sisi produksinya cukup menawan, baik itu sisi sinematografi dengan tata kamera yang cekatan hingga latar tempat yang cukup mewah dan yang pasti tidak asal-asalan dibuat.

Final Verdict:

Menegangkan dan menghibur. Semenjak serbuan film horor di Indonesia karena kesuksesan luar biasa film Danur, hanya sedikit sekali yang kualitasnya di atas rata-rata, Sabrina menjadi pengecualian berkat segi penyutradaraan, produksi, akting dan sinematografinya yang cukup menawan.

Review Film Sabrina (2018) - Kembalinya Teror Boneka Sabrina
7Overall Score
Reader Rating 9 Votes
5.0