Taylor Sheridan membuktikan kapasitasnya sebagai penulis skenario papan atas di Hollywood saat ini dengan Wind River yang kuat dan emosional
9Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0
Setelah menanti sebulan lebih sejak reaksi pertama para penonton screening perdana di Amerika Serikat muncul, film yang ditulis dan disutradarai Taylor Sheridan (penulis skenario Sicario dan Hell or High Water) akhirnya tayang di Indonesia. Film ini menandai kerjasama kedua para superhero  Hawkeye, Jeremy Renner dan Scarlet Witch, Elizabeth Olsen di luar Marvel Cinematic Universe, dan Wind River tampil sangat emosional dan memukau, serta menjadi salah satu kandidat kuat peraih nominasi Oscar tahun depan, utamanya dalam kategori penulisan naskah dan akting.
WR2WR4

Bercerita tentang Cory Lambert (Jeremy Renner), seorang pemburu hewan pemangsa dan ahli mencari jejak menemukan sesosok mayat yang dikenali Natalie Hanson (Kelsey Asbille) di tengah padang salju 9 km dari bangunan terdekat. Tubuh Natalie ditemukan dalam kondisi bertelanjang kaki dengan indikasi perkosaan dan penganiayaan yang menjadikan kasusnya menjadi yurisdiksi FBI. Agen FBI Jane Banner (Elizabeth Olsen) yang ditugaskan menangani kasus ini dihadapkan pada kenyataan sulitnya medan akibat salju yang tebal, medan berbukit dan badai salju yang kerap muncul mengancam nyawa. Kerjasama Jane dengan Cory pun menjadi sangat krusial dalam memecahkan kasus, kendati Cory memiliki masa lalu yang kelam dan amat berkaitan dengan kasus tersebut.

Di atas kertas, andaikata bukan Sheridan yang menulis skenario berdasarkan premis ini, maka film ini  tidak akan sekuat seperti yang ditayangkan sekarang. Kemampuan Sheridan terlihat nyata di sini. Wind River kuat secara plot, akting, dan emosi yang dibangun sejak awal film. Beberapa kali adegan established lanskap bukit dan ngarai bersalju tebal mampu memberikan gambaran betapa dingin sekaligus mengerikannya wilayah Wind River di negara bagian Wyoming tersebut.

Wind River - 70th Cannes Film Festival, France - 19 May 2017WR5

 

Dengan latar misteri kasus pembunuhan yang mampu memberikan ketegangan hampir di sepanjang film, Sheridan juga mampu menggulirkan subplot kisah nyata sejarah, tradisi, budaya dan potret kehidupan warga Indian American di tempat mereka diasingkan dan beranak-pinak di wilayah yang sangat keras dan dingin tersebut. Di akhir film Sheridan bahkan menuliskan sebuah fakta yang memprihatinkan mengenai betapa terasingnya para warga Indian American di Amerika Serikat. Seakan menambah perasaan emosi penonton yang sudah diaduk-aduk sedemikian rupa pada klimaks film yang sangat dramatis.

Begitu emosionalnya film ini, tidak dapat dihindari rasa sesak di dada, pedih di hati dan mata yang berkaca-kaca yang bisa saja muncul jika kita meresapi pesan terpendam dalam film ini, yaitu kisah mereka yang terbuang dan bagaimana mereka bertahan hidup dalam keterasingan dan menjadi sosok yang tangguh menjalani hidup di daerah yang sangat sulit untuk membangun dan menjalani kehidupan. Seperti pesan Cory ke Jane menjelang akhir film “Luck don’t live out here (in Wind River)”.