Salah Satu Anime Terbaik sekaligus Terindah yang Pernah Ada
9Overall Score
Reader Rating 2 Votes
8.6

Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 suatu peristiwa yang mengubah hidup manusia banyak dan menentukan nasib dunia terjadi, yaitu pengeboman atas kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang menggunakan bom atom. Terhitung sekitar 200rb orang meninggal dunia atas peristiwa ini dan menyebabkan Jepang langsung memutuskan untuk menyerah kepada sekutu saat Perang Dunia ke 2. Keputusan kontroversial ini diambil menurut pihak Allied supaya tidak terjadi perang terbuka di atas tanah Jepang yang dapat mengakibatkan korban jiwa lebih banyak dan menambah panjang durasi perang. Karena salah satu hal ini jugalah, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tangal 17 Agustus 1945. Pernah diangkat oleh Studio Ghibli dengan film Grave of the Fireflies. Tema Perang Dunia ke 2 kembali diangkat oleh animator Jepang, Sunao Katabuchi dengan film In This Corner of the World yang berdasarkan manga dengan judul yang sama.

Berdasarkan sudut pandang wanita muda Suzu dari sejak dia kecil pada tahun 1933 hingga pengeboman terjadi sampai dampak akibat bom itu. Suzu (Rena Nonen) merupakan gadis muda penuh keriangan yang gemar melukis di kota Hiroshima. Sejak dari kecil dia sudah harus bekerja membantu keluarganya karena kakaknya mengalami cedera. Menginjak umur 18 tahun, Suzu dilamar oleh seseorang asing yang tidak dikenalinya bernama Shusaku (Yoshimasa Hosoya) yang berasal dari kota Kure. Awalnya memang sempat ragu-ragu, tetapi akhirnya diterima juga olehnya. Suzu harus pindah ke kota Kure untuk tinggal dengan keluarga Shusaku dengan ibu mertuanya yang sudah renta, iparnya yang dingin dan jutek terhadapnya, walaupun anak iparnya bersikap manis kepadanya. Perang yang berkecamuk tentu saja menimbulkan dampak yang tidak sedikit kepada kehidupan Suzu.

2 6

Ada beberapa yang kurang menyukai dengan pace film yang terasa lambat, walau memang ada sedikit benarnya. Tetapi menurut saya Sunao Katabuchi ingin menampilkan gambaran kehidupan masyarakat Jepang saat itu serealistis mungkin. Adegan saat memanen, adegan saat mengerjakan aktifitas sebagai ibu rumah tangga dan bagaimana sebuah adegan saat Suzu memasak dibuat sedetail mungkin yang akan memuaskan para pencinta masakan Jepang. Begitu juga gambaran dari tiap bangunan, jalan, alam yang benar-benar ditampilkan melalui riset yang mendalam. Selain gambar-gambar realis, terdapat pula gambar-gambar surealis yang menampilkan imajinasi dari setiap lukisan yang ingin digambar oleh Suzu. Dapat dilihat dari metafora dari kelinci dalam ombak hingga bom dari pesawat yang diibaratkan cipratan cat-cat. Seringkali gambar-gambar tersebut sangat indah, emosional dan menggugah perasaan penonton.

3 4

Sunao Katabuchi tidak membuat film ini menjadi eksploitatif, manipulatif ataupun melodrama yang menjual adegan-adegan sedih. Suzu, keluarganya, para masyarakat ditampilkan melakukan kegiatan seperti biasanya, bahkan ada suatu kejadian dimana Suzu diinterogasi dan dicurigai sebagai mata-mata oleh polisi militer karena melukis garis pantai yang seharusnya bisa menimbulkan rasa kasihan, malah sebaliknya menimbulkan tawa dari keluarganya dan juga penonton. Sunao Katabuchi secara subtil, lembut dan perlahan menampilkan dampak dari perang pada bagian pertengahan, seringkali secara surealis yang diibaratkan dengan lukisan-lukisan dari Suzu saat pengeboman pesawat, bom ranjau yang meledak sampai dengan awan yang menyerupai jamur saat bom atom dijatuhkan.

Karakter Suzu yang sangat membumi, manis dan polos saat tidak mengetahui teman masa kecilnya telah menjadi seorang geisha, penuh semangat saat ikut andil dalam membantu Jepang saat Perang Dunia ke 2, bekerja keras menjadi seorang istri walaupun sedikit ceroboh, tetap tekun dalam melukis. Karakter-karakter inilah yang pembuat penonton jatuh hati padanya yang di dubbing dengan sempurna oleh Rena Nonen seorang aktris dan model Jepang kenamaan.

5 animatsu-3

Baru pada menit-menit akhir diperlihatkan gambar yang cukup frontal tentang kekejaman perang yang berdampak sangat mengerikan khususnya terhadap masyarakat. Ada seorang anak yang kehilangan ibunya yang terkena bom hingga banyaknya orang yang kehilangan tempat tinggal dan menjadi gelandangan dengan penyakit akibat bom atom. Walau dampaknya yang sedemikan besar, masih ada harapan dan cinta dalam horornya perang berkat semangat dari seorang gadis muda bernama Suzu, hingga akhirnya dia dengan manis mengatakan “Thank you for finding me in this corner of the world”.

Final Verdict:

Bertutur secara subtil dengan gambar ilustrasi realis maupun surealis yang indah, artistik dan menggugah perasaan. Inilah sebuah film anti-war yang memberikan harapan dan cinta dibalik kengerian akibat perang berkat semangat dari seorang gadis muda bernama Suzu.