Sebagai sebuah film franchise andalan untuk mengeruk keuntungan besar , Jurassic World: Fallen Kingdom bisa dibilang menjadi pertaruhan besar Universal Studio bersama franchise Fast and Furious. Hasil box office mengejutkan yang diperoleh Jurassic World pertama saat mencapai 1,67 milyar dolar di seluruh dunia, menjadikan film lanjutannya ini digadang-gadang akan menjadi lebih besar dari sisi adegan aksi, biaya produksi dan marketing. 

Fallen Kingdom memakai jasa J.A. Bayona (The Impossible, A Monster Calls) sebagai sutradara, menggantikan Colin Trevorrow yang setelah kesuksesan Jurassic World sempat mendapat tawaran menyutradarai Star Wars Eps. IX, walau berujung pada pemecatan. Dengan track record Bayona yang beragam dan memiliki benang merah genre keluarga, menandakan sepertinya Fallen Kingdom juga akan berkutat di seputar kisah keluarga, yang sering menjadi formula ampuh bagi film-film box office belakangan ini. Fast & Furious adalah salah satu contohnya.

Film dibuka dengan sekolompok tim yang berusaha mengambil sampel dari kerangka Indominus Rex di dasar laut wahana Jurassic World yang hancur lebur di film pertamanya. Setelahnya film bergerak ke masa-masa gawat saat gunung merapi di Isla Nublar tempat para dinosaurus tinggal akan segera meletus dan dunia menghadapi dilema antara menyelamatkan para dinosaurus atau membiarkan mereka mati dan kembali punah.

Claire Dearing (Bryce Dallas-Howard), sang mantan pimpinan wahana Jurassic World di Isla Nublar tersebut kini menjadi pimpinan dari gerakan sosial untuk menyelamatkan para dinosaurus itu. Dengan mengandalkan pencarian dana ke berbagai tokoh atau orang kaya di berbagai penjuru dunia, Claire berusaha mencari dana untuk mencegah kepunahan dinosaurus. Sampai akhirnya Claire mendapat kabar dari Lord Blackwood (James Cromwell), yang melalui asistennya Sam Mills (Rafe Spall) menjanjikan dukungan relokasi bagi para hewan raksasa tersebut, asalkan Claire membantu mencari lokasi para dinosaurus dengan mengaktifkan alat pelacak yang dipasang di Isla Nublar.

Hanya saja ada satu syarat dari Blackwood, Claire harus mengajak Owen Grady (Chris Pratt) untuk turut serta dalam misi mereka. Ini dikarenakan ketertarikan Blackwood pada Blue, seekor raptor yang pernah dilatih Owen dan ia klaim sebagai dinosaurus paling pintar yang pernah ia temui. Owen yang perduli dengan Blue tidak mau membuang kesempatan untuk mencari Velociraptor kesayangannya itu.

Misi mereka dilakukan dengan menambah kru para rekan aktivis Claire, sang dokter hewan. Zia (Daniella Pineda) dan teknisi komputer, Franklin (Justice Smith). Bergerak bersama tim militer profesional bayaran Blackwood pimpinan Ken Wheatley (Ted Levine), petualangan seru pun dimulai untuk menyelamatkan para dinosaurus yang akan membawa Claire dan Owen pada sebuah kenyataan pahit tentang keserakahan dan pengkhianatan di tengah perjalanannya.

Film kedua dari rencana trilogi bagian kedua franchise Jurassic Park ini sukses memberikan aksi yang lebih besar, utamanya pada kejadian gunung meletus dan melibatkan lebih banyak jenis dinosaurus yang beraksi. Setelah di film pertama sosok T-Rex, Raptor dan Indominus Rex mendominasi, kali ini beberapa dinosaurus diluar T-Rex dan Raptor diberi porsi yang cukup lumayan, bahkan dua diantaranya cukup menyita perhatian dalam berbagai adegan komedi dan aksi.

Bayona cukup mampu mengemban tugas menggantikan Trevorrow dalam film Jurassic World pertama, akan tetapi sama seperti pada film itu, ada sedikit permasalahan dari sisi motivasi karakter antagonis yang masih terkesan satu dimensi. Memang ada karakter Maisie (Isabella Sermon), cucu Lord Blackwood yang berusaha diangkat jadi motivasi personal, akan tetapi gagal sepenuhnya berkat planting adegan yang kurang dalam dan berujung pada kisah yang gagal menggugah emosi.

Bayona memang sedikit lebih baik dalam memberikan ikatan emosi dengan berbagai situasi menyedihkan yang dihadapi para dinosaurus, tapi adegan-adegan tersebut terkesan hanya selipan saja. Film sepertinya hanya fokus berkutat pada adegan aksi, seru dan menegangkan yang dialami para protagonis . Bukan berarti ini adalah hal yang buruk, karena adegan aksinya memang luar biasa dan megah. Hanya saja film jadi terkesan klise dan tipikal film summer blockbuster yang hanya penuh hingar bingar saja.

 

Dari sisi teknis tidak ada masalah yang berarti. Presentasi gambar yang ditawarkan cukup baik, kendati saya mendapati beberapa adegan yang kurang fokus saja. Pengalaman Bayona menggarap film bencana alam berfungsi baik di film ini. Satu yang menjadi catatan saya adalah kurang memorablenya music scoring film ini. Di luar music theme khas Jurassic Park, nyaris tidak ada lagi yang memorable sepanjang film. Sungguh sangat disayangkan. Akan tetapi bagi saya berbagai kekurangan tersebut terobati melihat adegan aksi para dinosaurus yang kembali menjadi bintang utama film ini. Bahkan adegan “makan” mereka pun terlihat lebih graphic kali ini, walau tentu saja rating PG-13 yang disematkan membuat film ini menjadi minim darah.

Final Verdict

Sebagai sebuah film keluarga liburan musim panas, Jurassic World: Fallen Kingdom sangat direkomendasikan untuk disaksikan bersama keluarga. Di luar kisahnya yang klise dengan motif antagonis yang standar, film ini unggul dari sisi aksi petualangan dan ketegangan tanpa henti di dalam 128 menit durasinya. Hanya saja patut diingat ratingnya, anak-anak perlu diberikan bimbingan orang tua saat menyaksikan film ini, karena ada sedikit adegan sadis di dalamnya.

 

 

Sangat direkomendasikan untuk ditonton berkat aksi petualangan serunya, meski jangan berharap banyak pada plotnya yang klise
7Overall Score
Reader Rating 3 Votes
7.6