Terasa lebih cerdas dan menghibur dibanding dengan film-film komedi yang sejenis
8Overall Score
Reader Rating 2 Votes
6.2

Saat di mal ada salah satu lembaga non profit mendekati saya dengan memberikan beberapa gambar dan meminta saya untuk memberikan stiker ke salah satu gambar yang paling penting diantara gambar-gambar lainnya. Tanpa ragu saya menempelkan stiker untuk gambar tentang pendidikan. Bisa dikatakan jika pendidikan baik maka masalah kekerasan, kebersihan, kemiskinan dan berbagai hal lain dalam gambar tersebut akan dapat diatasi atau minimal dapat dikurangi. Inilah yang menjadi hal terpenting yang ingin disampaikan di dalam film Stip & Pensil.

Stip-Pensil-1-e1492680578800

Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari) merupakan teman dekat dan mereka memiliki kesamaan yaitu sama-sama kaya dalam materi. Kebanyakan teman-teman sekolahnya mengganggap mereka sombong dan terlalu eksklusif. Suatu ketika saat kelompok mereka masuk nominasi sebagai salah satu karya essay terbaik, Toni secara percaya diri karena ditekan oleh seorang citizen journalist di sekolahnya, menyanggupi untuk mewujudkan essay tersebut, tidak hanya dalam kata-kata saja. Mulailah mereka membuat sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu di perkampungan kumuh.

Naskahnya ditulis oleh Joko Anwar, sutradara kenamaan Indonesia dan banyak yang mengatakan juga sebagai salah satu sutradara Indonesia terbaik saat ini. Joko Anwar dengan pintar menyempilkan berbagai sindiran halusnya terhadap kehidupan sosial Indonesia dan sesekali pula menyinggung masalah Pilkada DKI. Terlihat juga di trailer-nya saat adegan kepala RT sekaligus kepala pemulung yang diperankan oleh Arie Kriting menanyakan maksud kedatangan empat orang tersebut untuk membangun sekolah. Dia menebak “kalian pasti bukan orang pemkot ya, gak ada orang pemkot yang sipit seperti ini”. Hal ini merupakan sindiran kepada sikap diskriminatif yang dulu terjadi saat sosok minoritas yang dihalangi atau dilarang saat ingin masuk dalam kepemerintahan nasional maupun daerah, ini juga bisa menjadi sindiran kepada minoritas yang juga seakan kurang minat masuk kedalam pemerintahan. Namun sekarang sudah mulai berubah, jika melihat orang-orang yang berkerja maupun menjadi volunteer pada program Pemkot DKI yaitu¬†Jakarta Smart City yang cukup banyak dari ras dan agama yang beragam. Pandangan lainnya juga terhadap sikap alasan eksklusivitas minoritas dan mengapa minoritas lebih ingin tinggal di negara lain daripada di Indonesia. Ada lagi sindiran terhadap pers di Indonesia yang tidak berimbang pemberitaannya dan beberapa memberitakan berita hoax, ini terlihat dari seorang murid SMA yang menjadi citizen journalist melalui smartphone-nya yang langung dia unggah ke YouTube, tetapi dia mengedit dan tidak mengkonfirmasi kepada kedua belah pihak.

Stip-dan-Pensil

Tetapi yang terpenting adalah bagaimana pendidikan yang masih dianggap kurang penting atau tidak diperhatikan oleh pemerintah. Lihat saja bagaimana masih banyak anak-anak yang tidak bisa membaca tulis, orangtuanya pun malah menyuruh mereka lebih baik mencari uang dengan mengamen atau memulung. Ada suatu adegan dimana seorang anak mengembalikan dompet seorang ibu yang terjatuh, setelah dia mendapatkan pendidikan pada sekolah gratis tersebut, tetapi teman-temannya tetap mau mengambilnya. Ini merupakan sindiran terhadap para koruptor di negeri ini yang seakan-akan mereka sama bodohnya dengan anak-anak yang tidak bisa membaca tulis itu. Terlebih lagi saat relokasi yang dilakukan oleh pemerintah kota, karena hasutan, ancaman dan berita bohong menyebabkan banyaknya penolakan. Padahal jika ditelaah lebih baik, kehidupan mereka tentu akan jauh lebih baik dengan relokasi tersebut. Itulah mengapa pendidikan menjadi hal utama pada film yang juga berjudul sesuai dengan alat tulis (Stip & Pensil) yang selalu dipergunakan saat melalukan kegiatan pengajaran dan pembelajaran ini

Sisi komedi dibantu juga oleh Ernest Prakasa dalam naskahnya ini tergolong lebih segar dan cerdas lelucon-leluconnya daripada film-film komedi kebanyakan lainnya. Beberapa lawakan khas stand up comedian masih muncul karena memang Ernest, Pandji yang berperan sebagai guru, Arie Kriting merupakan sosok stand up comedian. Tapi leluconnya tidak pernah membuat penonton menjadi tertawa terbahak-bahak. Ernest sendiri tergolong aktingnya makin baik dari tiap filmnya dan juga jika dibandingkan teman-teman seprofesi lainnya. Dia tidak terjebak dalam perannya saat melakon di panggung stand up comedy, tetapi mampu memperlihatkan pendalaman akting saat memerankan karakter lain. Kredit tersendiri diberikan kepada sosok Bubu (Tatjana Saphira) karena kepolosan dan sifat telmi tidak sedikit menimbulkan senyum dan kelucuan bagi penonton, apalagi saat adegan nyanyian Yamko Rambe Yamko.

Ucok-dan-Satpol-PP-e1492680854819

Ada sedikit masalah di penyelesaian, khususnya segi percintaan yang tidak terasa chemistry-nya, tidak terasa pula cinta segitiga atau penghianatan antar kelompok. Mungkin saja karena memang produsernya mengatakan kalau ada beberapa adegan yang dipotong karena masalah durasi. Satu lagi saat adegan Koh Salim yang bertemu anaknya yang terlalu didramatisir.

Final Verdict:

Komedinya terasa lebih cerdas dibandingkan dengan film-film sejenis, walau tidak mampu membuat penonton hingga tertawa lepas. Terlebih lagi segi naskahnya yang sangat pintar dalam memberikan sindiran halus kepada masalah pendidikan, minoritas, penggusuran hingga keterpihakan media dan berita hoax-nya. Film yang memperlihatkan betapa pentingnya pendidikan, sehingga masyarakat kecil tidak lagi dapat dibodohi oleh isu apapun.

Trailer Film Stip & Pensil