“Mungkinkah cowok dan cewek bisa murni menjadi teman dekat tanpa ada saling suka diantara keduanya atau salah satu orang saja?”

Kalimat itulah yang menjadi tema utama dari film Teman Tapi Menikah yang diangkat dari novel berjudul sama berdasarkan cerita nyata dari Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion.

Ditto (Adipati Dolken) sejak kecil selalu mengagumi Ayu (Vanesha Prescilla) di layar kaca yang merupakan seorang aktris sinetron. Ditto menganggap Ayu sebagai sosok dewi / malaikat. Sampai suatu hari saat masuk SMP untuk pertama kali, tidak disangka Ditto dan Ayu ternyata masuk disekolah yang sama, bahkan Ayu duduk sebangku dengan Ditto. Sejak itu kisah persahabatan mereka terus melekat sampai dengan dewasa.

Film dibuka dengan potongan-potongan cepat adegan membuat kopi dan berbagai aktifitas lain di suatu cafe yang penuh dengan presisi yang ciamik dan musik berirama jazz yang merdu. Adegan itu memperlihatkan Ditto ingin mengutarakan perasaannya kepada Ayu yang dia pendam selama ini sejak 12 tahun lalu. Sebelum mengatakannya, tak disangka Ayu memberitahukan bahwa dia sudah dilamar dan membuat Ditto ragu untuk mengatakannya, sejak itu kisah film berlangsung secara flashback. Hal ini cukup menarik, karena membuat penonton menjadi bertanya-tanya apakah Ditto akan menyampaikannya atau tidak dan bagaimana perkembangan hubungan Ditto dan Ayu sehingga bisa sampai ditahap paling krusial ini.

Kisah teman dekat menjadi kekasih sudah seringkali diangkat ke layar lebar, perbedaan dari Teman Tapi Menikah dengan film lainnya ada dalam segi treatment. Teman Tapi Menikah menyuguhkan gambar-gambar memanjakan mata dengan tone dan mood sinematografi yang dibangun dengan nuansa kekuning-kuningan. Selain memanjakan mata, warna tersebut membuat adegan-adegan romantis maupun persahabatan antara Ditto dan Ayu semakin hangat. Selain sinematografi, penyutradaran yang dinaungi oleh Rako Prijanto terasa mulus dari awal hingga akhir, naskah oleh Upi Avianto dan Johanna Wattimena sangat kuat dan mengikat, produksi yang cantik, musik yang enak didengar membuktikan film ini digarap dengan sangat serius dan tidak main-main.

Sebuah film percintaan tidak melulu harus mengubar kata-kata romantis, malah jika terlalu banyak maka terasa tidak realistis dan menjual mimpi saja. Teman Tapi Menikah memperlihatkan melalui perbuatan, perhatian, ekspresi wajah, tatapan mata dan gestur tubuh yang didukung oleh penampilan gemilang dari Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla, sudah bisa membuat suasana yang begitu romantisnya. Adipati Dolken berperan sebagai seorang yang agak kikuk/quirky apalagi saat bersama Ayu saat awal-awal bertemu, tapi Ditto tetap memberikan aura sosok cowok yang keren dimata para cewek-cewek di sekolah maupun tempat kuliahnya, sehingga menjadi seorang playboy kelas teri. Dia cowok yang aktif dalam berorganisasi, musik dan olahraga. Dia dengan giat menabung dengan mencari nafkah sebagai pemain perkusi. Semata-mata hal ini dilakukan untuk bisa membeli sebuah mobil dan mengajak jalan Ayu, seperti yang pacar Ayu miliki di masa SMA. Memang benar, biasanya seorang cowok akan luar biasa termotivasi untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan cewek pujaannya atau demi seseorang yang kita cintai.

Vanesha Prescilla seperti dalam film Dilan 1990, juga menampilkan akting yang baik, walau dalam beberapa hal, seharusnya bisa lebih baik lagi. Namun mengingat dia masih berusia 17 tahun, karirnya masih panjang dan melihat akting di kedua film itu, dia memiliki masa depan yang cerah.

Cerita Teman Tapi Menikah adalah mengenai dua orang cowok dan cewek yang berteman dekat namun tidak ada satu orang yang mau atau berani untuk mengungkapkan sehingga akhirnya memilih untuk berpacaran dengan orang lain ini terasa membumi berkat konflik-konfliknya yang tidak berlebihan dan realistis, bagaimana persahabatan yang saling meledek, saling menjodoh-jodohkan dengan yang lain, saling usil, saling curhat. Berbagai perbuatan tersebut tentu tanpa sadar atau dengan sadar kita atau orang lain pernah mengalaminya. Sehingga menjadikan film Teman Tapi Menikah menjadi relevan bagi kebanyakan orang.

Ada suatu twist di akhir yang akan menggugah hati penonton, twist-nya cenderung mudah tertebak dan bisa jadi biasa saja untuk ukuran film-film romantis lainnya. Tetapi build up dalam menuju twist itu sangat baik digarap, penonton sudah peduli, terikat dan sangat bersimpati terhadap karakter Ditto dan Ayu sehingga penonton dapat memahami dan turut merasakan apa yang Ditto dan Ayu alami.

Final Verdict:

Sebuah film percintaan tidak perlu dijubeli berbagai kata-kata puitis atau gombal untuk membuatnya menjadi romantis, film Teman Tapi Menikah membuktikan hal itu. Hanya melalui perbuatan, ekspresi wajah, tatapan mata dan gestur tubuh, maka menghasilkan suasana kehangatan, manis dan menggugah perasaan.

Tema dari film Teman Tapi Menikah sudah cukup banyak diangkat di layar kaca, namun treatment-nya digarap dengan sangat baik dari segi penyutradaraan, naskah, akting, artistik, musik dan segala aspek-aspek perfilman lainnya. Hal yang terpenting adalah konflik-konfliknya terasa membumi dan tidak dibuat-buat membuat Teman Tapi Menikah menjadi film romantis terbaik Indonesia sejak Ada Apa dengan Cinta.

Review Teman Tapi Menikah - Salah Satu Film Romantis Indonesia Terbaik
9Overall Score
Reader Rating 4 Votes
8.8