Visually Stunning and Powerful War Drama
8Overall Score
Reader Rating 4 Votes
8.4

Film Planet of the Apes diluncurkan ke bioskop-bioskop Amerika Serikat pada tahun 1968, berdasarkan novel berjudul La Planète des Singes (Planet of the Apes or Monkey Planet) karya Pierre Boulle. Pierre Boulle terinspirasi dari kekejaman yang dia dapatkan pada saat menjadi tawanan Perang Dunia ke 2. Karena kesuksesan yang didapati maka dibuatlah 4 sekuel Beneath the Planet of the Apes (1970), Escape from the Planet of the Apes (1971), Conquest of the Planet of the Apes (1972), sampai dengan Battle for the Planet of the Apes (1973). Kisah manusia dengan kera ini kembali dihidupkan kembali oleh Tim Burton melalui remake di tahun 2001 yang sayangnya seperti sekuel keempatnya Battle for the Planet of the Apes (1973) tidak mendapatkan hasil yang memuaskan baik secara kualitas maupun pendapatan di box office. Usaha 20th Century Fox untuk kembali membuat reboot-nya di tahun 2011 melalui Rise of the Planet of the Apes, ternyata sangat sukses gegap gempita berkat efek visual, pembangunan karakter yang kuat dan penampilan motion capture dari Andy Serkis yang luar biasa bagusnya. Sejak itu dirilislah Dawn of the Planet of the Apes (2014) dan War for the Planet of the Apes (2017) yang akan tayang di Indonesia mulai 26 Juli 2017.

Baca juga: Ini Film-Film Planet of the Apes dari Masa ke Masa

Melanjutkan kisah sekuel sebelumnya, War for the Planet of the Apes bercerita mengenai usaha dari Caesar (Andy Serkis) untuk kembali mengadakan perdamaian dengan manusia yang sebelumnya sudah dirusak oleh Koba. Permintaan ini tidak diindahkan oleh sang Kolonel (Woody Harrelson) seorang pemimpin tentara yang ingin memusnahkan para kera sekaligus orang-orang yang terkena dampak virus Flu Simian. Sebuah serangan mendadak dari sang Kolonel dan tentara-tentaranya membuat istri dan anak tertua dari Caesar meninggal dunia dan menimbulkan kegeraman dan kesedihan luar biasa dari Caesar, sehingga dia memutuskan untuk membalas dendam. Caesar juga ingin mengevakuasi para kera ke tempat yang lebih aman untuk didiami.

8 7

Dibuka dengan pertempuran spektakuler antara manusia dan kera, tidak jarang menggunakan aerial shot yang ciamik ditambah lagi musik scoring dari Michael Giacchino yang seakan-akan menghipnotis penonton, membuat adegan tersebut menjadi salah satu adegan pembuka paling memorable sepanjang masa. Setelah peristiwa pertempuran itu dan penyerangan mendadak kepada markas Caesar. Caesar ditemani Maurice, seekor orang utan yang bijaksana (Karin Konoval), Luca, seekor gorila yang kekar (Michael Adamthwaite) dan Rocket, seekor simpanse yang menjadi tangan kanan dari Caesar (Terry Notary) menuju markas dari sang Kolonel. Perjalanan ini mengingatkan akan suasana gritty dari film-film western dengan sinematografi jempolan dari Michael Seresin yang dapat memperlihatkan suasana distopia dan apocalypse yang kuat. Diperjalanan mereka bertemu seorang anak kecil bernama Nova (Amiah Miller) yang terkena dampak virus sehingga dia tidak bisa lagi berbicara dan langsung diangkat menjadi seorang “anak” oleh Maurice. Hubungan antara anak kecil ini, Maurice dan para kera menjadi hubungan paling menyentuh, dimana diperlihatkan sisi kemanusiaan seorang orang utan bernama Maurice dan kepolosan seorang anak kecil yang tidak menganggap para kera adalah musuhnya.

4 9

Menjadi film terkelam dan paling serius diantara ketiga film, membuat terkadang menjadi sedikit menjemukan dan terlalu gelap dengan pace pada beberapa adegan terasa lambat. Tapi untungnya terdapat sosok Bad Ape seekor simpanse (Steve Zahn) yang memberikan kesegaran melalui tingah polah konyolnya itu yang seringkali mengundang tawa lebar. Walau konyol, dia menyimpan masa lalu kelam atas perlakuan manusia terhadapnya yang sering kita dengar saat manusia memperlakukan hewan dengan tidak baik di kebun binatang, “Bad Ape” adalah nama umpatan dari manusia terhadapnya. Penonton akan dapat berempati dengan dalam terhadap sosoknya ini.

Unsur dari film Apocalypse Now sungguh kental, bahkan ada suatu grafiti yang bertuliskan “Ape-pocalypse Now” sehingga memang sang sutradara Matt Reeves menjadikan film ini sebagai homage terhadap masterpiece karya Francis Ford Coppola itu di tahun 1979. Suasana kekejaman perang dan sisi psikologi akibat perang terlihat jelas. Adapula unsur-unsur film The Bridge on the River Kwai dan Schindler List karena begitu kejamnya kamp konsentrasi yang dibuat oleh manusia kepada hewan yang mengharuskan mereka kerja paksa dengan ratio makanan dan minuman yang sangat minim. Para kera yang bekerja untuk merekapun tidak luput dari peristiwa pelabelan diskriminasi, saat punggung mereka ditulis dengan sebutan “Donkey” dan jidat mereka dicap dengan besi panas untuk menandakan mereka, hal ini tentu mengingatkan dengan apa yang Nazi lakukan terhadap bangsa Yahudi di film Schindler List. Suatu peristiwa pada menjelang akhir juga mengingatkan dengan film The Great Escape dan sosok Caesar yang seperti Musa saat memimpin “umatnya” mengambil inspirasi dari film epik Ten Commandments.

5

Caesar yang kembali diperankan oleh maestro teknik motion capture yaitu the one and only, Andy Serkis. Seperti halnya saat dia memerankan Gollum (Trilogy Lord of the Rings dan The Hobbit). Dengan brilian dia berekspresi sedih dan marah yang terlihat dari pancaran matanya, gestur tubuhnya seperti simpanse sebenarnya berkat latihan kerasnya selama berbulan-bulan. Juri-juri Oscar masih belum bisa menerima motion capture dianggap sebagai akting, sehingga dia belum pernah mendapatkan nominasi Oscar untuk perannya sebagai Gollum dan Caesar. Melihat aktingnya di sini, tekanan kepada juri-juri Oscar semakin besar dalam memperbolehkan seseorang yang sebenarnya juga berakting dibantu dengan teknik ini untuk dapat berkompetisi.

Sifat manusia yang seharusnya masih ada rasa kemanusiaan dapat dikatakan hilang, terlebih lagi karena pengaruh dari virus tersebut. Manusia pun terus berpandangan negatif kepada binatang yang brutal, tidak punya otak dan liar. Sebaliknya para kera selangkah lebih maju dari para manusia dan malah memiliki rasa kemanusiaan yang lebih saat Caesar membebaskan tawanannya di awal film, saat Maurice menerima anak kecil itu, saat Caesar yang sebenarnya masih terpengaruh dengan bayang-bayang Koba masih bisa dapat mengasihi musuhnya dan berbagai hal lainnya. War for Planet of the Apes menghadirkan alegori dan ironi untuk sebuah kritik sosial kepada para manusia.

Final Verdict:

Visualisasi yang memukau, adegan aksi yang menegangkan, akting dari Andy Serkis yang brilian, alunan musik yang menghipnotis, film drama perang yang powerful ditambah dengan berbagai referensi dari film-film Apocalypse Now, The Bridge on the River Kwai, The Great Escape, Schindler List, The Ten Commandments hingga film-film Western. Tidak banyak film ketiga dari suatu franchise dapat terus menghadirkan sesuatu yang berkualitas, tapi Matt Reeves mampu menampilkannya. Inilah sebuah alegori dan ironi atas sikap manusia yang semakin liar dan primitif sementara para kera yang semakin tinggi rasa kemanusiannya.

War for the Planet of the Apes (2017) akan tayang di Indonesia mulai 26 Juli 2017

Photo: 20th Century Fox