Film Mindless Action yang Lebih Cocok untuk Langsung Straight-to-Video saja daripada Masuk ke Bioskop
4Overall Score
Reader Rating 3 Votes
5.4

Mark Sinclair yang lebih kita kenal dengan nama Vin Diesel merupakan aktor aksi papan atas yang melambung namanya berkat Pitch Black, The Fast and the Furious dan xXx yang kesemuanya dibuat sekuel-sekuelnya dan dibintangi olehnya, kecuali xXx: State of the Union yang diperankan oleh Ice Cube, kabarnya Vin Diesel tidak menyukai naskah di film kedua dan akhirnya meninggalkan proyek tersebut dan kenyataannya memang benar, sekuelnya gagal total baik secara pendapatan finansial maupun dibenci para kritikus dan kebanyakan fans dari xXx yang pertama.

Walaupun sudah direncanakan sejak tahun 2006, proyek ini sempat terkantung-kantung karena beberapa kali berpindah tangan sutradara, Rob Cohen, Ericson Core hingga akhirnya ke D.J. Caruso. Rumah Produksi Filmnya pun yang sebelumya Sony Pictures menjadi Paramount Pictures ditambah dengan sokongan dari 2 perusahaan dari China (Huahua Media dan Shanghai Film Group). Huahua Media sebelumnya pernah bekerja sama dengan Paramount di film Star Trek Beyond yang dibintangi Joe Taslim dan Transformers: Age of Extinction yang menjadi film asing yang pertama kali mendapatkan 300 juta dollar di Box Office China.

Vin Diesel (Xander Cage) yang sebelumnya diberitakan meninggal, namun jasadnya tidak pernah diketemukan di xXx: State of the Union, ternyata memalsukan kematiannya. Hobinya terhadap olahraga ekstrim masih saja dilakukan. Terakhir kali dia membajak siaran langsung piala dunia dengan menaiki antena pemancar yang sangat tinggi dan terjun bebas dari sana hingga berseluncur di pegunungan berbatu sampai dengan skateboarding di jalan raya.

Setelah Eugene Gibbons (Samuel L. Jackson) sang pencipta program xXx meninggal secara absurd setelah tertimpa satelit, saat mewawancarai Neymar Jr., pesepakbola terkenal dari Brazil, untuk masuk ke program xXx. Akhirnya Xander Cage direkrut kembali oleh agen CIA Jane Marke (Toni Collette) untuk mengembalikan senjata “Pandora’s Box” yang bisa digunakan untuk mengontrol satelit militer yang bisa menimbulkan kehancuran yang destruktif dan masif. Cage diberikan tim dari Navy Seal yang bebadan tegap dan besar dengan rahang lebar, sepantaran dengan Cage. Namun dia menolaknya dan akhirnya dia membangun timnya sendiri yang terdiri dari Adele, sniper yang jitu dan handal (Ruby Rose), seorang fighter yang bernama Tennyson (Rory McCann) dan DJ Nicks (Kris Wu) untuk mengalahkan sang pemimpin penjahat, Xiang (Donnie Yen), si seksi, Serena (Deepika Padukone), Talon (Tony Jaa) dan Hawk (Michael Bisping)

Selain didukung oleh 2 perusahaan China, deretan castnya pun banyak mengambil orang-orang Asia, Donnie Yen, Deepika Padukone (Artis yang disebut-sebut nomor satu di India), Tony Jaa, Kris Wu (Personil boy band Korea, EXO) menjadi bukti bahwa target utama film ini untuk kawasan Asia yang memang sekarang pasarnya lebih besar daripada di Amerika, belum lagi melihat deretan film-film yang kurang berhasil di Amerika tetapi kemudian diselamatkan oleh benua Asia (Transformers: Age of Extinction, Terminator Genisys, Warcraft, dll)

xXx: Return of Xander Cage merupakan jenis film mindless action yang menjual adegan-adegan aksi absurd di luar nalar dan memang ditunjukan untuk menghibur penontonnya. Tetapi celakanya xXx: Return of Xander Cage sangat kurang unsur fun, keseruan dan ketegangan yang merupakan unsur-unsur utama dari film-film seperti ini.

Ceritanya sendiri cukup simpel tanpa pengembangan dan pendalaman yang berarti, bahkan twist-twistnya juga tidak cukup membantu. Motif dari penjahatnya sungguh standar layaknya film-film aksi lain. Memang xXx: Return of Xander Cage tidak menitik beratkan dari segi cerita, tapi cara bertuturnya pun tidak elok untuk diikuti.

Para aktor dan aktrisnya seperti lebih berusaha show off daripada membangun sebuah hubungan dan adegan aksi yang memikat. Untungnya deretan castnya memang benar-benar memuaskan mata, ditambah dengan deretan wanita-wanita muda nan seksi saat Cage dengan mantel bulu khasnya di London dan rave beach party di Filipina. Donnie Yen yang biasanya berakting baik dalam setiap film yang dibintanginya, kali ini cukup mengecewakan, adegan yang bagus hanya saat dia beraksi pesawat saja. Kekecewaan terbesar untuk segi cast ada di Vin Diesel yang disini lebih sering tersenyum meledek penuh percaya diri daripada berakting, Tony Jaa yang loncat kesana kesini tidak karuan dan Toni Collette yang kebingungan entah ingin melakukan apa.

Iringan musiknya memang kembali ke xXx awal yang penuh dengan musik rock, tidak seperti xXx yang ke kedua dengan musik hip hop, namun kali ini terlalu berisik dan kebanyakan tidak enak didengar. Belum lagi sound mixing, sound effect dan sound editing-nya yang berantakan.

Final Verdict:

Adegan aksi ekstrimnya memang memukau (Berseluncur di pegunungan berbatu, skateboarding di jalan raya yang berbukit, surfing dengan sepeda motor di tengah ombak, loncat dari ketinggian di pesawat tanpa parasut), apalagi paras dari para aktor dan aktrisnya yang memuaskan mata. Tapi itu saja tidak cukup untuk menutupi plotnya yang cetek, penyutradaraan dengan tata kamera yang memusingkan, dialog yang buruk dan membosankan, editing yang terlalu cepat dan juga iringan musik & efek suara yang terlalu berisik. Terlebih lagi dan yang terpenting adalah hampir tidak adanya unsur fun, keseruan dan ketegangan, layaknya film-film mindless action lainnya. IMAX 3Dnya pun terasa biasa saja. Alhasil sebuah film yang lebih cocok untuk langsung straight-to-video (Blu-ray) saja daripada ditayangkan di bioskop.