Setiap ada pihak oposisi yang mengancam kedudukannya, sang Presiden selalu mengatakan kepada bawahannya dua kalimat untuk menghentikan apapun ancaman yang akan dihadapinya: “Anda memiliki dukungan penuh saya. Lakukan sesuka anda.”

The Man Standing Next menyelami sebuah masa yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya, atau bahkan tidak pernah disadari seperti saya sebelum menonton film ini. Sebuah waktu di mana Korea Selatan sedang dikuasai oleh seorang diktator selama 18 tahun bernama Presiden Park (Lee Sung-min) dan apa yang menyebabkan pembunuhannya terjadi di tahun 1979.

Film yang menjadi perwakilan Korea Selatan untuk Oscar mendatang ini adalah sebuah drama thriller politik yang tidak terlalu terburu-buru dalam menyampaikan narasinya, tetapi lebih memilih untuk membiarkan tempo cerita beradaptasi dengan apa yang terjadi di dalam kisahnya, sehingga saya merasa film ini benar-benar hidup dalam menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Loading...

Kita mengikuti Kim Gyu-pyeong (Lee Byung-hun), seorang direktur untuk badan intelijen Korea Selatan yang bernama KCIA. Sebagai kawan lama Park, Kim selalu mengatakan kalau dirinya akan selalu berada di sisinya. Mereka juga terkadang meminum bersama sembari mengingat masa lalu di mana keduanya masih menjadi petinggi di militer yang melakukan kudeta untuk pemerintahan sebelumnya.

Namun semakin lama hubungan antara Kim dan Park semakin merenggang, seiring dengan perbedaan pendapat keduanya mengenai bagaimana solusi yang tepat untuk menyelesaikan beberapa masalah yang sedang terjadi saat itu, seperti bagaimana mereka harus menghentikan Park Yong-gak (Kwak Do-won), mantan direktur KCIA yang membocorkan diktatorisme Presiden Park kepada publik serta bagaimana menghentikan kerusuhan yang terjadi di Korea Selatan karena opresi pemerintah yang semakin tinggi.

Tekanan Kim juga semakin tinggi lantaran hubungannya yang telah menjadi antagonistik terhadap Kepala Keamanan Presiden Kwak Sang-Cheon (Hee-joon Lee), di mana Presiden Park mulai mengasingkan Kim dan lebih sering bernasihat kepada Kwak karena keduanya memiliki pemikiran yang mirip: Menekan masyarakatnya dengan ketakutan dengan meningkatkan opresi militer kepada siapapun yang berani menentang kepemimpinan Park. “Lindas saja mereka dengan tank,” ucap salah satunya saat membahas bagaimana menghentikan kerusuhan yang sedang terjadi.

Diadaptasi dari buku non-fiksi Namsanui Bujangdeul karya Kim Choong-Sik, Sutradara Woo Min-ho telah membuat sebuah film yang berisikan sebuah narasi yang sungguh padat. Meski film sudah berdurasi hampir 2 jam, kisah yang dimiliki The Man Standing Next masih terkesan sungguh pekat sehingga mudah bagi para penonton — terutama saya yang tidak mengetahui sejarah politik Korea Selatan — merasa bingung dan juga hilang di tengah-tengah ceritanya.

Tetapi meski begitu, Woo Min-ho juga dengan sigapnya masih dapat membuat nada film terasa stabil dan juga menceritakan kisahnya dengan tempo yang tidak terburu-buru, sehingga beberapa kebingungan yang terjadi dapat hilang dengan mudah pada beberapa adegan selanjutnya dan selalu menghasilkan pengalaman menonton yang memuaskan, hingga akhir film.

The Man Standing Next juga tidaklah pernah menyia-nyiakan waktunya, karena seluruh kejadian yang terjadi di film dengan sempurna membangun tidak hanya antisipasi tetapi juga klimaks untuk ujung akhir film, di mana jika sejarah mengatakan kita, adalah kejadian pembunuhan Presiden Park. Di saat ujung akhir film barulah unsur menegangkan menjadi lebih terasa dan lebih hidup, di mana seluruh film benar-benar mulai memainkan elemen thriller miliknya.

Lee Byung-hun sebagai pemeran utama juga mampu memainkan karakternya penuh dengan tingkat dramatis yang cukup dan emosionalnya yang tidak berlebihan, sehingga karakter Kim di dalam film selalu terasa terhubung terhadap narasi yang sedang dihadapinya. Kita dengan sempurna merasakan segala kegelisahan, segala kemarahan serta segala keambiguan darinya.

Ia adalah aktor yang menarik, karena di Hollywood ia selalu mendapati peran sebagai tokoh sampingan di sebuah film action, seperti di film seri G.I. Joe, Terminator Genisys dan juga di The Magnificent Seven. Di sini, kita diberikan sebuah kesempatan untuk melihatnya bersinar dengan tingkat emosi yang jarang kita dapatkan di film yang saya sebutkan sebelumnya. Dan juga dirinya tidaklah mengecawakan, mampu membawa The Man Standing Next menjadi sebuah film yang lebih menarik dan lebih menegangkan lewat karakter miliknya, Kim.

The Man Standing Next juga menjadi sebuah angin segar untuk sebuah film politik, karena di dalamnya tidak ada karakter yang murni baik. Berbeda dengan film politik kebanyakan di mana karakter utama biasanya digambarkan sebagai orang berhati suci. Semua karakter di sini, termasuk Kim sendiri, selalu memiliki keambiguan dalam moral yang dianutnya. Di sini, “orang baik” sangat relevan karena dibalik setiap keputusan yang diambil selalu ada motif tersembunyi dibaliknya. Di sini, politik sangatlah kotor dan kacau.

Saya masih merasa sangat disayangkan karena tidak sempat menonton film ini di bioskop tahun lalu (saya pernah melihatnya di bioskop sebelum COVID-19 datang), karena saya bisa membayangkan pengalaman menonton di bioskop akan jauh lebih menarik untuk film seperti ini. Sebagai perwakilan Korea Selatan untuk Oscar yang akan diselenggarakan pada tiga bulan lagi, saya memang merasa The Man Standing Next adalah film yang pantas. Apakah film ini memang akan berhasil meraih nominasi? Kita tunggu saja.

Loading...

Review Film The Man Standing Next (Korea, 2020) - Drama Sengit di Tengah Perpecah-belahan Politik
9Overall Score
Reader Rating 1 Vote
8.8