Saat Plankton menyatakan ia akan menjalankan rencana jahatnya untuk mencuri resep rahasia Krabby Patty dari Mr. Krab untuk yang 3.087 kalinya, istri komputernya Karen mengatakan “Bagus. Rencana jahat lagi.” Plankton, kebingungan, membalas “Memang apa salahnya?” dengan Karen yang kembali membalas “Tidak ada, kita hanya kehabisan ruang di Daftar Kegagalan.”

Seperti reaksi Karen, saya juga sempat berpikir kalau apa yang disuguhkan di Sponge on the Run adalah seperti apa yang sudah berkali-kali mereka suguhkan baik di acara televisinya maupun di film sebelumnya, di mana Plankton berusaha mencuri resep rahasia. Memang biasanya saat menonton acara SpongeBob Squarepants saya tidak terlalu memikirkan elemen cerita yang terkesan berulang-ulang, tetapi akhirnya di sini saya tidak menemukan keseruan yang biasa saya rasakan.

Untuk sinopsis cerita sebetulnya terdengar menjanjikan sebuah petualangan seseru film pertamanya. Gary, peliharaan siput SpongeBob, diculik oleh Raja Poseidon karena siput menghasilkan cairan untuk perawatan kulit dan SpongeBob serta sahabatnya, Patrick, harus pergi menuju Kota Atlantik yang Hilang dan menyelamatkan peliharannya itu.

Loading...

Mengetahui SpongeBob dan Patrick, saya merasakan ini akan menjadi sebuah film layaknya sebuah buddy road film di mana dua kawan menghabiskan waktunya di perjalanan dan bertemu dengan kejadian-kejadian yang kocak dan konyol sepanjang perjalanan menuju Kota Atlantik. Sayangnya justru film ini sedikit menghabiskan waktunya di perjalanan, dan ini adalah inti masalah dari Sponge on the Run.

Masalah utama dari Sponge on the Run adalah bagaimana ceritanya terkesan berantakan, dengan beberapa elemen terlihat seperti hasil daur ulang dari film maupun episode-episode sebelumnya sehingga tidak banyak hal yang benar-benar baru. Memang sebetulnya sudah tidak ada lagi yang perlu diubah di dunia SpongeBob, tetapi hal yang sama secara terus-menerus dapat juga menjenuhkan penontonnya.

Tidak hanya itu, tetapi film ini juga terlihat seperti memadatkan berbagai macam cerita di satu film. Di satu momen mencoba menceritakan kilas balik di saat SpongeBob untuk pertama kalinya bertemu dengan teman-temannya, kemudian film terasa berganti di mana SpongeBob dan Patrick menemui kota kosong di daratan dan nada film berganti menjadi seperti western dan horror dicampur komedi, kemudian masih ada perjalanan SpongeBob dan Patrick menuju Kota Atlantik.

Semua kisah itu dirasa memiliki potensial yang cukup besar jika diberikan waktu yang cukup untuk lebih mendalami setiap cerita, tetapi sayangnya di film ini, semua kisah itu jadinya terkesan entah terlalu cepat atau setengah-setengah dan tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam selain perasaan yang janggal seiring cerita film tetap berjalan.

Kekurangan lainnya yang saya temui di film yang kini telah tayang di Netflix ini adalah ada beberapa adegan yang terasa terlalu dipaksakan yang bertujuan untuk menambah keseruan tetapi malah terkesan kikuk, seperti bagaimana Snoop Dogg tiba-tiba muncul dan melakukan rap di tengah zombie yang menari di tengah bar. Lagi, ini terdengar menyenangkan, namun hasilnya adalah adegan yang kikuk dan tidak mengetahui apa tujuan adegan itu.

Tetapi tidak semuanya yang dimiliki film ini adalah hal yang buruk. Komedi yang dimilikinya, meski beberapa terkesan tidak terlalu mengena, masih berhasil mengundang tawa. Entah karena tingkah laku dari SpongeBob dan Patrick yang konyol, atau Squidward yang selalu menggerutu, film ini masih memiliki momen yang kocak dan juga konyol, sesuatu yang kita harapkan dari sebuah film SpongeBob.

Penampilan dari setiap pengisi suara di film ini jugalah sesuatu yang membuat film ini lebih menyenangkan, dari pengisi suara veteran yang mengingatkan masa kecil seperti Tom Kenny sebagai SpongeBob yang kocak, Bill Fagerbakke sebagai Patrick yang polos, Rodger Bumpass sebagai Squidward yang selalu menggerutu, Clancy Brown sebagai Mr. Krab yang selalu bersemangat jika ada uang, hingga pendatang baru Awkwafina sebagai robot Otto yang menghadirkan karakter yang baru.

Tidak lupa, kehadiran Keanu Reeves sebagai semak belukar yang sering muncul di tempat tidak terduga di dekat SpongeBob dan Patrick juga adalah momen yang tidak hanya kocak karena melihat Keanu memainkan peran yang konyol, tetapi juga kocak karena perannya yang memang seperti sebuah lelucon tersendiri. Sering memberikan kata-kata bijak tetapi sering dilupakan oleh SpongeBob dan Patrick, kehadiran Keanu Reeves adalah sebuah bonus dalam Sponge on the Run.

Sementara untuk animasinya sendiri, saya masih bingung apakah saya memang menyukainya atau tidak. Betul, animisanya sangatlah indah, dengan penampilan Kota Atlantik yang penuh cahaya gemerlap atau penampilan kemah semasa kecil SpongeBob yang terlihat ramai dan seru, tetapi juga animasi 3D miliknya terlihat membatasi ruang gerak untuk karakternya dalam tidak hanya bergerak namun juga menyampaikan leluconnya.

Mungkin saja dibuatnya 3D adalah untuk modernisasi kartun yang kita cintai ini, tetapi masih ada perasaan di mana saya berharap mereka kembali membuat film SpongeBob dalam bentuk 2D seperti yang biasa kita tonton. Memang tidak banyak yang baru di dalam Sponge on the Run dan juga tidak sebaik film pertama, tetapi ini masih adalah film ringan yang cocok ditonton di rumah dengan keluarga.

Loading...

Review Film The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (Netflix, 2020) - Misi Penyelamatan yang Menarik di Ide, Tidak di Perjalanan
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0