Adaptasi dari Stephen King yang Kurang Memuaskan
5Overall Score
Reader Rating 4 Votes
5.2

Proyek The Dark Tower telah dimulai sejak 10 tahun lalu, ketika itu J.J. Abrams (Star Wars, Star Trek, Lost) sempat didapuk untuk mengarahkan film adaptasi novel Stephen King ini. Namun karena kesibukannya di serial tv Lost, J.J. Abrams akhirnya meninggalkan proyek ini. Pada tahun 2010, Ron Howard sempat menukanginya, namun lagi-lagi karena masalah dana dan ketidakcocokan naskah membuat proyek ini sempat masuk development hell (proyek yang terkantung-kantung tidak jelas kelanjutannya). Pada akhirnya di tahun 2015, Sony Pictures Entertainment mengambil alih dari berbagai studio yang menolaknya dan sutradara Nikolaj Arcel, yang dikenal sebagai penulis naskah dari The Girl with the Dragon Tattoo (2009) diberikan kesempatan untuk mengarahkannya.

Seorang bocah berumur 11 tahun Jake Chambers (Tom Taylor) mengalami berbagai mimpi aneh, melibatkan Man in Black yang bernama Walter Padick (Matthew McConaughey) yang ingin merubuhkan Tower supaya menghancurkan dunia. Seorang gunslinger (seperti koboi yang jago menembak) yang bernama Roland Deschain (Idris Elba) berusaha mencegah hal itu dengan pistol kuno kaliber .45. Jake pun menggambarkan mimpi yang dia alami setiap malamnya itu melalui kertas-kertas gambar dan berusaha meyakinkan orang tua, guru dan teman-temannya. Tentu saja mereka semua menganggap Jake gila dan butuh bantuan psikiater karena trauma atas kematian ayah kandungnya tahun lalu.

Setelah beberapa psikiater yang dipanggil ibu Jake datang, ternyata psikiater tersebut merupakan orang suruhan dari Man in Black dan Jake harus melarikan diri dari mereka. Jake akhirnya berhasil melarikan diri dan menemukan suatu rumah dari mimpinya yang membawanya masuk ke dunia Mid-World, dunia yang selama ini selalu diimpikan olehnya.

3 1

Novel dari Stephen King ini bukan merupakan novel horor seperti yang biasa kita tahu dari novel-novelnya atau segala film-filmnya (The Shining, Creepshow, The Mist, 1408, It, Carrie, Cujo, dll). The Dark Tower merupakan novel/film yang bergenre Science Fantasy dengan balutan Western. Kisah gunslinger Roland, segala gerak-geriknya dan latar tempatnya tentu bergaya Western, dunia lain yang dibangun juga kental dengan unsur fantasi berikut dengan berbagai monster-monster dan sihir-sihirnya.

Penyutradaraan dari Nikolaj Arcel tidak sanggup untuk mengkombinasikan hal-hal tersebut dan visual yang dihadirkan juga terlalu muram dan kurang imajinatif. Belum lagi masalah editing dan koherensi cerita dan karakter. Dengan durasi 90 menit, terasa sekali film ini seperti ingin diselesaikan dengan segera, tanpa pendalaman yang kuat. Berbagai monsternya tidak ada yang membekas dan sudah sering kita lihat dari berbagai serial fantasi lainnya. Efek visualnya pun tergolong biasa saja, seperti kualitas serial-serial tv, bisa jadi karena budget yang hanya sebesar 40 juta dollar ini.

4 2

Naskah yang ditulis oleh Akiva Goldsman, Jeff Pinkner, Anders Thomas Jensen dan sang sutradaranya sendiri Nikolaj Arcel, tidak mampu membuat plot cerita yang baik. Terlalu banyak sub-plot membuat penonton tidak ada waktu memahami berbagai karakter mereka dan celakanya banyak pula tidak ada penjelasan yang berarti akan motivasi dari tiap karakternya. Kemudian cukup banyak karakter yang bisa dibuang untuk pendalaman karakter yang lain. Seperti halnya saat Jake dan gunslinger pergi ke suatu desa yang terdapat seorang paranormal untuk membantu mereka, di sana ada love interest dari Jake, tetapi sayang sekali hanya 2 kedipan mata dari sang wanita dan kemudian Jake menolong love interest-nya itu, hanya itu saja, tidak ada pengembangan lainnya.

Motivasi umumnya dari antagonis di film adalah untuk menghancurkan dan menguasai dunia. Parahnya, dunia terasa baik-baik saja dan terasa tidak ada ancaman yang berarti dari tokoh antagonis Man in Black. Palingan hanya gempa-gempa bumi saja dan terlihat penduduk bumi tidak ada yang terlalu terpengaruh dengan hal-hal ini.

5 6

Untungnya penampilan gemilang dari Idris Elba yang kehilangan ayahnya karena Man in Black dan berusaha bangkit untuk menyelamatkan bumi ini dari ancaman Man in Black. Matthew McConaughey sebagai antagonis Man in Black dengan tatapan khas dan ucapan bengis dan kejamnya itu dan tentu karakter utama seorang anak kecil usia 11 tahun, Jake yang diperankan dengan manis, gairah dan penuh semangat oleh Tom Taylor. Saat gunslinger harus ke bumi bersama Jake, tepatnya di kota New York, terjadi geger budaya yang sungguh kocak. Seperti saat dia meminum Coca Cola, pakaian dari wanita muda yang terlalu terbuka, obat-obatan penduduk bumi yang sangat manjur hingga yang terlucu tentu gunslinger dengan mudah bisa mendapatkan senjata, karena toko senjata ada di mana-mana di Amerika Serikat. Sayangnya geger budaya ini terlampau singkat dalam mengobati kebosanan yang melanda dari awal film hingga pertengahan. The Dark Tower ditutup dengan pertempuran terakhir yang menghibur antara gunslinger dengan Man in Black, seperti koboi melawan penyihir, apalagi lihainya sang gunslinger dalam mengisi peluru dan ketepatan tembakan dia yang sungguh keren.

Final Verdict:

Diluar dari pertempuran terakhir yang menghibur, beberapa humor karena geger budaya yang lucu dan penampilan yang baik dari Idris Elba, Matthew McConaughey dan Tom Taylor. The Dark Tower terasa agak menjemukan, kurang imajinatif, cerita yang standar dan terasa terburu-buru dalam setiap adegan karena durasi yang hanya 90 menit itu.

Photo: Sony Pictures Entertainment