Loading...

Dalam sejarahnya tidak pernah ada yang diuntungkan di dalam peperangan, baik itu di perang antar negara, maupun perang saudara. Marie Colvin, jurnalis Sunday Times yang menjadi karakter sentral film A Private War berusaha menunjukkan kelam dan kejamnya perang di dalam setiap laporannya di garis depan peperangan. Film yang menunjukkan kepada para penontonnya tentang pentingnya peran jurnalis dalam melaporkan kejadian yang sesungguhnya di medan perang.

Film karya Matthew Heineman (Cartel Land, City of Ghosts) ini menyabet 2 nominasi dalam ajang Golden Globe Awards 2019 untuk kategori Aktris Drama Terbaik untuk Rosamund Pike dan Lagu Asli Terbaik untuk lagu Annie Lennox Requiem For A Private War yang menjadi soundtrack film ini. Kendati tidak mendapatkan piala namun tidak mengurangi kualitas film ini dan tidak menghalangi film ini untuk tayang di Indonesia mulai tanggal 9 Maret 2019 pada pertunjukan midnight show.

Dibuka dari sebuah adegan yang menampilkan peperangan di Homs, Suriah pada tahun 2012 kita dikenalkan pada sosok Marie Colvin (Rosamund Pike), jurnalis peliput perang untuk surat kabar Sunday Times yang berpusat di Inggris. Film lalu berbalik ke tahun 2001 saat Marie berdebat dengan editornya, Sean Ryan (Tom Hollander) mengenai lokasi peliputan Marie berikutnya. Sean memerintahkan agar Marie meliput konflik di Palestina, sementara Marie bersikeras ingin ke Sri Lanka demi bisa mewawancarai pimpinan pemberontak Macan Tamil. Sifat keras kepala Marie dan kenekatannya mewarnai sepanjang durasi 110 menit film.

Sepulangnya dari Sri Lanka, Marie mengalami luka pada bagian wajah dan harus merelakan mata kirinya rusak. Marie pun mulai dilanda depresi dan trauma pasca meliput perang. Penghargaan Best British Press Awards tidak mampu mengobati perasaan depresi, trauma dan ketergantungan Marie untuk meliput konflik di medan perang. Ia melanjutkan pekerjaannya meskipun tanpa mata kirinya dan tanpa restu dari orang-orang terdekatnya.

Konflik di Sri Lanka, Afghanistan, Irak dan Libya mengubah Marie. Ia merasa bahwa hanya dirinya harus melaporkan konsekuensi dan akibat dari kekejaman perang dari garis depan bersama fotografer andalan sekaligus sahabatnya, Paul Conroy (Jamie Dornan). Ia berprinsip orang di bagian dunia lain tidak perlu mengalami peperangan, cukup dirinya yang mengalami, merasakan dan melaporkan kekejaman perang. Sebuah prinsip ‘gila’ yang membahayakan diri Marie dan Paul. Sebuah prinsip yang mengharumkan nama Marie Colvin sebagai salah satu jurnalis perang terhebat yang pernah ada di bumi.

Ulasan

Film yang didasarkan dari sebuah artikel karya Marie Brenner di majalah Vanity Fair dengan judul Marie Colvin’s Private War ini merupakan karya film panjang pertama bagi sutradara Matthew Heineman yang sebelumnya lebih banyak menghasilkan dokumenter bertemakan perang. Naskah tulisan Arash Amel yang menitikberatkan pada sosok Marie Colvin cukup baik karena secara seimbang mampu menampilkan sepak terjang Marie dalam meliput perang dan menggambarkan kondisi kesehatan mental dan fisik Marie. Kendati beberapa kali adegan flashback dan mimpi traumatik Marie terasa repetitif namun masih dapat dimaklumi demi kepentingan ceritanya.

Sisi teknis produksi patut diberikan acungan jempol pada desain produksi kawasan yang dilanda perang yang terasa sangat otentik. Adegan perang yang meski tidak terlalu banyak terasa nyata dan mampu membawa penonton berada di tengah perang itu sendiri. Kredit lebih untuk pengarah sinematografi Robert Richardson yang mampu menangkap lanskap dan adegan perang dengan sangat baik. Sisi lain yang juga unggul adalah divisi Hair & make up yang dengan sempurna mengubah Rosamund Pike menjadi mirip dengan Marie Colvin yang asli.

Dari sisi akting, kualitas Rosamund Pike yang pernah mendapat nominasi aktris terbaik di ajang Academy Awards lewat film Gone Girl tidak perlu diragukan lagi. Dirinya mampu menggambarkan sosok jurnalis yang keras kepala, nekat, berkemauan tinggi, pantang menyerah sekaligus menampilkan sosok yang sedang mengalami depresi dan melawan kejadian traumatis dengan lihai. Tidak heran nominasi Golden Globe lewat peran ini mampir ke tangannya. Sosok lain yang menonjol adalah Tom Hollander (Bird Box, Bohemian Rhapsody) dan Jamie Dornan (Fifty Shades of Grey) yang mampu mengimbangi penampilan impresif Rosamund.

Selain pengadeganan repetitif dalam menggambarkan adegan flashback dan traumatis Marie, film juga memiliki kekurangan dari sisi tidak seimbangnya intensitas antara Marie di medan perang dengan Marie di kehidupan sosialnya yang membuat film cenderung melambat dan beresiko menimbulkan rasa bosan. Konflik yang berusaha ditampilkan antara Marie dan Bosnya cukup baik, namun konflik Marie meredakan traumanya, reaching out ke sahabatnya kurang menyentuh dan berakibat penonton kurang simpati terhadap dirinya. Hal ini ditambah pula dengan pribadi Marie yang cenderung bikin penonton kesal karena sifat keras kepala dan nekatnya. Apa boleh buat memang, karena ini didasarkan dari kisah nyata.

Kesimpulan Akhir

A Private War bukan sekadar biopik biasa. Film ini mengemban misi anti perang yang kental yang didapatkan dari perjalanan hidup seorang Marie Colvin. Melalui film ini kita bisa mendapatkan gambaran dari konsekuensi dan akibat dari kekejaman perang serta mampu menyentuh hati penontonnya untuk sadar apa yang terjadi di belahan dunia lain. Sebuah film yang bisa mengajarkan penonton untuk lebih bersyukur pada hidupnya di negara yang damai dan jauh dari konflik. Kita belajar untuk lebih mengapresiasi hidup dari mata Marie Colvin, salah satu jurnalis perang terhebat yang ada di bumi.

Review Film A Private War - Kisah Nyata Sepak Terjang Jurnalis Peliput Perang
7.5Overall Score
Reader Rating 1 Vote
7.5