Setelah film La La Land yang mendapatkan banyak penghargaan, Ryan Gosling dan Damien Chazelle kembali berkolaborasi. Kali ini mengangkat salah satu kisah monumental dalam sejarah umat manusia yaitu pendaratan pertama manusia ke bulan dalam kacamata Neil Amstrong. First Man dibuat berdasarkan buku First Man: The Life of Neil A. Armstrong. First Man telah tayang sejak hari ini, 10 Oktober 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Dimulai pada tahun 1961, First Man mengisahkan perjalanan Neil Amstrong (Ryan Gosling) melalui program luar angkasa. Dimulai dari pekerjaannya sebagai insinyur dan pilot tes di gurun Mojave. Kemudian darisana Neil Amstrong mulai dipercaya untuk bergabung dalam program NASA yaitu mendaratkan manusia ke bulan.

Keadaan mulai sulit karena kematian dari anak perempuannya yang masih sangat belia dikarenakan karena kanker. Tidak hanya kehilangan anak perempuannya, satu per satu teman astronotnya juga gugur dalam berbagai percobaan ke bulan.

First Man menfokuskan cerita melalui kacamata dari seorang Neil Amstrong yang diperankan penuh dengan emosi yang kuat dari seorang Ryan Gosling. Ryan Gosling berhasil memperlihatkan rasa sangat kehilangan anak perempuannya sehingga hal ini mendorongnya untuk berambisi menuju bulan. Pesona akting Gosling juga terlihat saat bagaimana suasana tertekannya dibalik misi yang berbahaya ini yang telah merenggut rekan-rekan astronot lainnya.

Ambisi dan kegigihan dari Neil Amstrong inilah yang sekiranya merupakan trademark dari seorang Chazelle pada film-filmnya Whiplash, La La Land yang di mana karakter utamanya berambisi kepada suatu hal sehingga melupakan hal-hal lain di sekitarnya. Ini membuat istri dari Neil Amstrong yang diperankan dengan baik pula oleh Claire Foy, menginginkan seorang suami yang normal.

Chazelle yang dibantu oleh production designer Nathan Crowley (Dunkirk, The Greatest Showman) memperlihatkan aspek teknis, terlebih saat adegan di luar angkasa sungguh luar biasa handal. Bagaimana mereka bisa membuat miniatur pesawat Apollo dan segala perangkatnya seperti tampak sama dengan aslinya. Chazelle dan Nathan juga mampu menciptakan suasana klaustrofobia saat Neil Amstrong dan Buzz Aldrin dalam ruangan sempit berjibaku untuk mengendalikan pesawat saat terjadi kerusakan dan juga saat yang sungguh intens dan magis saat mereka mendarat di bulan

Linus Sandgren (La La Land) sebagai sang sinematografer yang kembali berkolaborasi dengan Damien Chazelle, menampilkan  tekstur gambar yang grainy khas film tahun 60-an. Dia juga sering mengambil gambar close up secara ekstrim untuk lebih memperlihatkan emosi dari berbagai karakternya. Atensi kepada detailnya pun sangat ciamik dalam berbagai shot, bagaimana dalam satu layar, penonton dapat melihat berbagai hal, mulai dari emosi para pemainnya hingga berbagai peralatan canggih dan rumit dari NASA. Kemudian ada banyak cukup long shot memukau yang mampu memperlihatkan keindahan dari luar angkasa yang seakan tiada batas ini.

Pujian lain patut diberikan untuk Ai Ling Lee sang sound designer, bagaimana dia menciptakan banyak suara yang memekikan telinga dari suara deru pesawat yang menggelegar itu sekaligus tiba-tiba menghadirkan suara keheningan pada kehampaan di luar angkasa.

Tidak hanya Ryan Gosling dan Nathan Crowley, Chazelle turut mengajak sobat karibnya sejak kuliah di Harvard yaitu composer Justin Hurwitz. Justin Hurwitz yang pernah bersama-sama Chazelle menciptakan musik yang luar biasa merdu di La La Land ini berhasil menciptakan suara scoring musik yang sungguh emosional di adegan-adegan dramatis, sekaligus juga menciptakan scoring yang mencekam dan intens saat berbagai adegan aksi di luar angkasa.

Segala aspek ini yang dimulai dari sinematografi, design produksi, visual effect, sound editing dan original score mampu menciptakan technical masterclass sehingga dapat memaksimalkan teknologi dari IMAX, padahal budget film dikabarkan hanya senilai 59 juta dollar saja. Teknisnya ini membuat penonton menjadi turut dan larut dalam perjalanan Neil Amstrong hingga menginjakan kaki di bulan. Tentu saja aspek-aspek ini akan dilirik oleh juri-juri Oscar dan bukan tidak mungkin akan memenangkan banyak piala Oscar.

Ada sedikit masalah dalam penuturan hingga beberapa momen emosional yang tampaknya kurang dapat digali. Penuturannya cukup lambat dari awal hingga pertengahan, baru pada sepertiga akhir film, penuturannya menjadi cukup enak diikuti. Berbagai momen emosionalnya juga seharusnya bisa lebih lebih powerful, kalau saja ada lebih pendalaman karakter dari sisi istri dan anak dari Neil Amstrong dan juga rekan-rekan astronotnya. Camera work-nya juga perlu mendapat catatan karena pada beberapa adegan terasa memusingkan dan bisa jadi membuat penonton mual, walau tentu saja Chazelle menginginkan sesuatu yang benar-benar realistis dengan apa yang terjadi saat Neil Amstrong berada dalam pesawat ulang alik.

Kesimpulan Akhir:

Kisah pencapaian monumental umat manusia dalam sudut pandang Neil Amstrong yang dikemas secara intim dan personal dengan akting penuh emosi dari Ryan Gosling. Kualitas teknisnya sungguh menakjubkan sehingga dapat memaksimalkan ternologi IMAX. A technical masterclass!

Kalau saja sisi penuturan dan naskah bisa lebih baik lagi, seharusnya film ini bisa mendapatkan nominasi Best Picture atau Best Screenplay di Oscar, tapi tentu segi teknis seperti Sinematografi, Visual Effect, Sound Mixing, Sound Editing, Production Design dan Original Score sudah pasti didapatkan nominasinya, bahkan bisa saja memenangkannya.

Review Film First Man (2018) - Kisah Intim dan Personal dari Manusia yang Pertama Kali Menjejakan Kaki di Bulan
8.5Overall Score
Reader Rating 1 Vote
8.7